ITime.id – 2 Desember 2025 .Di tengah meningkatnya kebutuhan benih ikan di berbagai daerah, penetasan telur ikan kini menjadi salah satu sektor budidaya yang paling menjanjikan. Para pembudidaya yang sebelumnya fokus pada pembesaran ikan konsumsi mulai melirik usaha hatchery karena dinilai lebih cepat menghasilkan keuntungan, biaya operasional rendah, dan pasar benih yang terus tumbuh stabil.

Pasar benih ikan seperti lele, nila, gurami, dan patin terus meningkat, terutama di wilayah Jawa, Sumatera, hingga Kalimantan. Banyak pembudidaya pembesaran membutuhkan pasokan benih dalam jumlah besar dan rutin setiap bulan. Kondisi ini membuat hatchery lokal mampu meraup omset jutaan rupiah hanya dari satu kali proses penetasan.
Sejumlah pembudidaya di lapangan mengungkapkan bahwa satu kilogram telur lele, misalnya, bisa menghasilkan 10.000–15.000 larva. Jika dijual sebagai benih ukuran 2–3 cm dengan harga Rp150–Rp250 per ekor, keuntungan yang didapat bisa berkali-kali lipat dibandingkan hanya menjual ikan konsumsi.
Proses penetasan telur ikan kini tidak lagi sulit seperti beberapa tahun lalu. Kemajuan teknologi dan sistem budidaya membuat tingkat keberhasilan menetas bisa mencapai 80–95 persen. Berikut teknik yang paling banyak digunakan:
1. Sistem Waring (Happa System)
Sering digunakan untuk ikan lele dan nila. Telur ditempatkan di jaring halus yang direndam di kolam dengan sirkulasi air baik. Teknik ini mudah dan murah, cocok untuk pembudidaya pemula.
2. Mesin Penetas Otomatis (Hatchery Machine)
Biasanya dipakai oleh hatchery skala besar. Suhu dan oksigen dijaga otomatis sehingga mengurangi risiko telur gagal menetas atau berjamur. Metode ini menghasilkan benih yang lebih seragam dan kuat.
3. Penetasan di Akuarium Aerasi Tinggi
Cocok untuk telur ikan hias, patin, atau gurami. Aerator menjaga sirkulasi air sehingga telur tetap bersih, tidak membusuk, dan terhindar dari jamur.
4. Pencegahan Jamur Menggunakan Antijamur Alami
Daun ketapang, garam ikan, hingga methylene blue sering digunakan untuk meminimalisir jamur pada telur—masalah utama yang dapat mengurangi angka penetasan.
Waktu penetasan bergantung pada jenis ikan dan suhu air:
- Lele: 24–36 jam
- Nila: 2–4 hari
- Patin: 24 jam
- Gurami: 3–5 hari
Dengan masa penetasan yang singkat, pembudidaya bisa mengulang proses produksi beberapa kali dalam sebulan, membuat keuntungan semakin maksimal.
Pembeli benih kini tidak hanya berasal dari peternak lokal, tetapi juga:
- Kelompok pembudidaya antar-kabupaten
- Perusahaan pembesaran ikan
- Peternak urban farming
- Pelaku ekspedisi yang mengirim benih ke luar pulau
Hal ini membuat usaha penetasan telur ikan semakin menarik karena pasar relatif stabil dan tidak terpengaruh fluktuasi harga pakan seperti sektor pembesaran.
Banyak pembudidaya pemula mengaku bisa memulai usaha hatchery dengan modal:
- Akuarium sederhana
- Aerator
- Wadah penampungan
- Dan telur ikan yang dibeli dari indukan unggul
Dengan modal di bawah Rp1 juta, pelaku hatchery sudah bisa menjalankan produksi kecil-kecilan dan mulai meraup keuntungan dalam hitungan minggu.
Penetasan telur ikan terbukti menjadi peluang bisnis yang menjanjikan di tengah meningkatnya kebutuhan benih nasional. Dengan teknik yang tepat, perawatan air yang baik, dan manajemen sederhana, usaha ini bisa menghasilkan pendapatan stabil bahkan untuk pemula sekalipun.
Reina

