
ITime.id —Aceh 3Deesember 2025. Hujan tak henti yang mengguyur wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dalam beberapa hari terakhir telah mengubah ratusan desa menjadi hamparan lumpur dan reruntuhan. Di tengah deru air yang merendam rumah, suara tangis anak-anak, dan rintihan warga mencari sanak famili, terlihat jelas bahwa bencana kali ini bukan sekadar banjir biasa — melainkan duka besar yang menyelimuti jutaan warga di ujung Sumatra.
kata Safri (47), warga Pidie Jaya, sambil memandangi puing yang tersisa dari tempat tinggalnya. Ia kehilangan rumah dan dua anggota keluarga yang hingga kini belum ditemukan.
Desanya merupakan salah satu yang terdampak paling parah. Air bah bercampur material kayu dan batu dari perbukitan datang dengan kecepatan tinggi, menyapu empat kampung sekaligus. Beberapa wilayah bahkan disebut warga seperti “ditelan bumi”.
Tim SAR gabungan masih terus berjibaku membuka akses jalan yang terputus. Banyak daerah terpaksa dievakuasi menggunakan perahu karet karena jembatan ambruk dan aliran listrik padam total.
Sampai kemarin, sebagian wilayah Aceh bagian tengah dan pesisir barat masih terisolasi. Komunikasi seluler lumpuh hingga 60 persen, membuat banyak keluarga tidak bisa mendapatkan kabar dari kerabat mereka.
“Kami tidak tahu apakah saudara kami selamat atau tidak. Tidak ada sinyal, tidak ada kabar,” ujar Yuni (32), pengungsi dari Bireuen, dengan mata sembab.
Lebih dari satu juta warga kini mengungsi di pos-pos darurat. Namun masalah baru muncul: kurangnya makanan, air bersih, selimut, dan obat-obatan.
Di salah satu pos pengungsian di Aceh Utara, relawan melaporkan antrean panjang dari pagi hingga sore hanya untuk mendapatkan satu bungkus mi instan dan sebungkus lauk sederhana.
“Anak-anak mulai sakit. Ada yang demam, batuk, dan diare,” kata Marlina, relawan kesehatan.
Tenda pengungsi yang berdesakan membuat risiko penyakit semakin besar. Hujan yang terus turun juga memperburuk kondisi.
Selain manusia, satwa-satwa liar di kawasan hutan Aceh turut menjadi korban. Beberapa relawan menemukan bangkai hewan besar yang terseret arus. Para pemerhati lingkungan menyebut ini sebagai tanda semakin rusaknya ekosistem hutan.
Alih fungsi lahan, pembalakan liar, serta tambang ilegal dituding memperparah dampak bencana. Banyak warga mengaku sudah lama meminta pemerintah menertibkan praktik tambang yang merusak bukit dan sungai, namun belum mendapat tindak lanjut serius.
Pemerintah pusat sudah mengirim logistik darurat, tenda, alat berat, hingga perahu evakuasi. BNPB dan Basarnas masih bekerja tanpa henti mengevakuasi korban serta mencari mereka yang hilang.
Namun medan sulit, cuaca buruk, dan banyaknya wilayah terisolasi menjadi penghambat utama.
Tenaga medis memperkirakan kebutuhan obat-obatan akan meningkat dalam beberapa hari ke depan. Sementara itu, kebutuhan terbesar pengungsi saat ini adalah:
- makanan siap saji
- air bersih
- pakaian hangat
- selimut
- susu dan makanan bayi
- layanan medis
Meski dilanda bencana besar, solidaritas warga begitu kuat. Di berbagai posko, mereka saling berbagi makanan, membantu merawat anak-anak, dan menenangkan satu sama lain. Para relawan, baik dari Aceh maupun luar daerah, datang tanpa henti membawa bantuan seadanya.
“Kami hanya ingin hidup kembali seperti biasa. Tidak lebih,” ucap Safri lirih, sambil memeluk anaknya yang masih ketakutan.
Tragedi banjir dan longsor yang menimpa Aceh dan Sumatra kali ini menjadi peringatan keras bahwa bencana bukan hanya soal alam, tetapi juga tentang kesiapan, tata kelola lingkungan, dan tanggung jawab bersama.
Bangkitnya daerah-daerah terdampak akan menjadi perjalanan panjang — namun harapan tetap hidup di antara warga yang saling menguatkan di tengah puing dan air mata.
Reina

