Itime.JAWA TENGAH – 23 Januari 2026 .Di berbagai wilayah di Jawa Tengah, tradisi khas masyarakat Jawa bernama Safaran (juga dikenal sebagai Peringatan Bulan Safar atau Kirab Safar) masih tetap dilaksanakan dengan penuh semangat dan keceriaan pada bulan Safar tahun Islam. Tradisi yang telah ada sejak berabad-abad ini menjadi bukti kekuatan budaya lokal yang tetap lestari dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Jawa.
Apa Itu Budaya Safaran?
Safaran adalah tradisi tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, khususnya di daerah-daerah seperti Semarang, Kudus, Pati, Jepara, Demak, dan Klaten, pada bulan Safar (bulan kedua dalam kalender Hijriyah). Kegiatan ini biasanya dirayakan mulai dari awal hingga pertengahan bulan Safar, dengan puncak perayaan pada tanggal 1 atau 10 Safar.
Secara filosofis, tradisi ini dipercaya sebagai bentuk syukur atas berkah yang telah diterima dan harapan akan keselamatan serta kemakmuran bagi seluruh masyarakat. Meskipun memiliki nilai-nilai budaya yang kuat, tradisi ini juga memiliki keterkaitan erat dengan ajaran agama Islam, di mana bulan Safar dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dan keramat oleh sebagian besar masyarakat Jawa.
“Secara harfiah, Safaran mengacu pada perayaan yang dilakukan di bulan Safar. Namun secara budaya, ini adalah momen di mana masyarakat berkumpul untuk saling silaturahmi, berbagi makanan, dan melaksanakan berbagai ritual yang dipercaya dapat membawa kebaikan bagi diri sendiri dan lingkungan. Tradisi ini telah diturunkan dari leluhur kita dan hingga saat ini masih kita jaga dengan sepenuh hati,” jelas K.H. Maman Supriyadi, seorang tokoh agama dan budaya dari Kudus.
Kegiatan Meriah yang Diikuti Seluruh Lapisan Masyarakat
Setiap tahunnya, pelaksanaan Safaran di berbagai daerah di Jawa Tengah selalu diikuti dengan antusias oleh seluruh lapisan masyarakat, dari anak-anak hingga orang tua. Kegiatan yang diadakan sangat beragam dan memiliki ciri khas masing-masing daerah, antara lain:
- **Syukuran dan Doa Bersama – Masyarakat berkumpul di masjid, mushola, atau lapangan umum untuk melaksanakan shalat berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan ceramah agama yang membahas tentang keutamaan bulan Safar dan doa bersama untuk keselamatan umat serta kemakmuran daerah. Setelah itu, dilakukan acara makan bersama dengan menyajikan berbagai hidangan khas Jawa seperti nasi gudeg, opor ayam, sambal goreng krechek, empal gentong, dan es cendol.
- **Kirab Budaya dan Pertunjukan Seni Tradisional – Di beberapa daerah seperti Jepara dan Demak, dilakukan kirab budaya yang diikuti oleh rombongan memainkan gamelan, tari tradisional seperti tari jaipongan atau tari topeng, serta membawa boneka barongan atau wayang golek. Kirab ini biasanya berjalan melintasi jalan-jalan desa atau kota, diiringi dengan nyanyian lagu tradisional dan tepukan tangan dari masyarakat yang menyaksikannya.
- **Bakti Sosial untuk Masyarakat Kurang Mampu – Sebagai bentuk kepedulian sosial, masyarakat biasanya mengumpulkan makanan, uang, atau barang kebutuhan pokok seperti beras, gula, dan minyak goreng untuk diberikan kepada keluarga yang membutuhkan. Kegiatan ini dipercaya dapat meningkatkan kebersamaan dan rasa persaudaraan antar warga.
- **Ritual Tradisional Lokal – Di beberapa daerah khusus, dilakukan ritual tradisional seperti membersihkan sungai atau sumber air sebagai bentuk pembersihan lingkungan, serta doa bersama di tempat yang dianggap memiliki nilai sejarah dan keramat, seperti makam leluhur atau tempat suci lainnya.
Di Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, misalnya, pelaksanaan Safaran tahun ini diikuti oleh lebih dari 2.000 warga. Acara dimulai dengan shalat subuh berjamaah di Masjid Agung Juwiring, kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama dan pertunjukan tari topeng yang sangat dinanti oleh anak-anak.
“Setiap tahun saya selalu menunggu acara Safaran. Kita bisa bertemu dengan sanak saudara yang jarang bertemu, makan makanan lezat, dan menyaksikan pertunjukan budaya yang menarik. Anak-anak juga sangat senang karena bisa mendapatkan makanan dan mainan dari para tetua,” ujar Siti Aminah, seorang warga dari Desa Juwiring.
Nilai Budaya yang Mendalam dan Relevan dengan Zaman
Meskipun telah berjalan selama berabad-abad, budaya Safaran tetap memiliki nilai yang sangat relevan dengan kehidupan masyarakat modern saat ini. Tradisi ini tidak hanya menjadi sarana untuk melestarikan budaya Jawa, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat tali silaturahmi, meningkatkan rasa kebersamaan, dan mengajarkan nilai-nilai baik seperti gotong royong, kepedulian sosial, dan rasa syukur.
“Nilai-nilai yang terkandung dalam Safaran sangat penting untuk dijaga dan diteruskan ke generasi mendatang. Di tengah arus modernisasi yang semakin cepat, tradisi seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan kita dengan akar budaya kita dan membuat kita tetap memiliki identitas yang jelas,” jelas Profesor Budi Santoso, ahli budaya dari Universitas Gadjah Mada.
Ia juga menambahkan bahwa pelaksanaan Safaran saat ini telah disesuaikan dengan perkembangan zaman dan prinsip-prinsip agama, sehingga tetap dapat dilaksanakan dengan khidmat dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat.
Pemerintah Dukung Pelestarian Tradisi
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga memberikan dukungan penuh terhadap pelestarian budaya Safaran. Beberapa langkah yang telah diambil antara lain memberikan bantuan dana untuk penyelenggaraan acara, melakukan dokumentasi dan penelitian tentang tradisi ini, serta mengajak generasi muda untuk terlibat aktif dalam pelaksanaannya.
“Kami sangat menghargai upaya masyarakat untuk melestarikan budaya Safaran. Tradisi ini adalah warisan budaya yang sangat berharga dan menjadi bagian dari kekayaan budaya Jawa Tengah. Kami akan terus mendukung dan mempromosikan tradisi ini agar tetap hidup dan dikenal oleh lebih banyak orang,” ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Dra. Sri Wahyuni, M.Pd.
Harapan Tradisi Tetap Lestari
Masyarakat dan tokoh budaya berharap bahwa budaya Safaran akan terus dilaksanakan dengan semangat dan keceriaan di tahun-tahun mendatang. Mereka juga berharap bahwa generasi muda akan semakin menyadari pentingnya melestarikan budaya lokal dan aktif berperan dalam menjaga kelangsungan tradisi ini.
“Saya berharap anak-anak muda kita tidak hanya suka dengan budaya luar negeri, tetapi juga bangga dengan budaya sendiri seperti Safaran. Hanya dengan begitu, budaya kita akan tetap lestari dan dapat kita tunjukkan kepada dunia sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia,” pungkas K.H. Maman Supriyadi dengan harapan yang mendalam.
Dengan semangat yang tinggi dan dukungan dari berbagai pihak, budaya Safaran di Jawa Tengah akan terus menjadi bagian hidup masyarakat dan menjadi bukti kekuatan budaya lokal yang tidak pernah pudar.
(Reina)

#itime, #itimepertanian, #itimeperistiwa, #itimeArtikel, #itimeviral, #itimeberita, #itimebudaya, #itimepemerintah, #itimehukum, #itimenasional, #itimeregional, #itimeinternasional, #itimeolahraga, #itimegayahidup, #itimetni, #itimePolri, #itimeuncatagorized, #itimependidikan, #itimepengetahuan, #itimesorot, #itimesemuaorang, #itimeviral, #itimewartawan, #itimedunia, #itimeportal, #itimeekonomi, #itimeglobal, #itimeteman, #itimesahabat, #itimerepublik, #itimeberitabaru, #itimeberitaterkini, #itimehariini, #itimenews, #itimeterkini, #itimepagi, #itimetv, #itimeberita, #itimemedia, #itimeindonesia, #itimeasia, #itimenusantara, #itimeprovinsi, #itimewaktu, #itimevidio, #itimefilm, #itimetrendi
