Itime.Beberapa daerah di Indonesia menghadapi penolakan dari masyarakat terkait rencana atau pembangunan batalion tentara. Alasan utama adalah rasa trauma yang masih mengganjal dan kekhawatiran terhadap dampak yang mungkin ditimbulkan.
Merauke, Papua Selatan
Pada Oktober 2024, masyarakat di Kampung Wanam dan Kampung Wo Gekel, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, mengaku trauma dan takut dengan kehadiran tentara yang menjaga lokasi Proyek Strategis Nasional (PSN) Sawah 1 Juta Hektare, termasuk rencana penambahan batalion. Pastor Pius Cornelis Manu Pr dari Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Merauke menyampaikan bahwa kehadiran tentara dianggap tidak membawa manfaat positif, bahkan dikaitkan dengan perampasan tanah dan tindakan yang tidak berpihak pada masyarakat adat. Masyarakat juga khawatir akan menjadi sasaran pengawasan atau interogasi jika melakukan protes.
Pasuruan, Jawa Timur
Pada November 2025, ratusan warga dari Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, melakukan serangkaian aksi untuk menolak pembangunan Batalyon 15 Marinir TNI AL. Selain kekhawatiran akan hilangnya lahan pertanian dan terhambatnya akses jalan, warga juga mengalami trauma akibat kejadian masa lalu seperti terkena peluru nyasar dan ledakan akibat aktivitas militer. Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan Eko Suryono mendukung tuntutan warga, menegaskan bahwa aspirasi masyarakat harus dihargai dan tidak ada urgensi untuk membangun instalasi militer baru di kawasan permukiman. Komandan Puslatpur Grati Alamsyah kemudian menghentikan aktivitas pembangunan sebelum ada kesepakatan bersama.
Luwu Timur, Sulawesi Selatan
Petani merica di Blok Tanamalia wilayah konsesi tambang PT Vale Indonesia juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap rencana pembangunan markas batalyon TNI AD. Mereka takut akan tergusur dari lahan yang menjadi sumber mata pencaharian, terutama karena ketidakjelasan mengenai skema ganti rugi atau dispensasi lahan.
Sampai saat ini, pemerintah dan pihak terkait masih berupaya untuk melakukan komunikasi dan mencari solusi yang dapat memenuhi kepentingan negara sekaligus menghormati aspirasi serta kondisi psikologis masyarakat.
(Reina)

#itime, #itimepertanian, #itimeperistiwa, #itimeArtikel, #itimeviral, #itimeberita, #itimebudaya, #itimepemerintah, #itimehukum, #itimenasional, #itimeregional, #itimeinternasional, #itimeolahraga, #itimegayahidup, #itimetni, #itimePolri, #itimeuncatagorized, #itimependidikan, #itimepengetahuan, #itimesorot, #itimesemuaorang, #itimeviral, #itimewartawan, #itimedunia, #itimeportal, #itimeekonomi, #itimeglobal, #itimeteman, #itimesahabat, #itimerepublik, #itimeberitabaru, #itimeberitaterkini, #itimehariini, #itimenews, #itimeterkini, #itimepagi, #itimetv, #itimeberita, #itimemedia, #itimeindonesia, #itimeasia, #itimenusantara, #itimeprovinsi, #itimewaktu, #itimevidio, #itimefilm, #itimetrendi
