Itime.Magelang, 7 Februari 2026 – Ribuan warga dari Kabupaten Magelang, Boyolali, dan sekitarnya berkumpul di lereng Gunung Merbabu, Desa Candimulyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, untuk mengikuti tradisi tahunan “Sarapan Jawa Sellau” yang digelar jelang bulan Ramadhan. Kegiatan yang sudah berlangsung lebih dari 50 tahun ini menjadi momen penting bagi masyarakat lokal untuk bersilaturahmi, berbagi makanan, dan berdoa bersama sebelum memasuki bulan puasa.
Kata “Sellau” dalam bahasa Jawa berarti “bersama-sama” atau “berkumpul”, yang mencerminkan semangat kebersamaan yang menjadi inti dari tradisi ini. Kegiatan dimulai sejak subuh, dimana peserta berkumpul di lokasi yang telah disiapkan di lereng selatan Gunung Merbabu dengan latar pemandangan hamparan kebun teh dan sawah yang hijau segar.
Ketua Panitia Pelaksana, H. Slamet Widodo, menjelaskan bahwa tradisi ini awalnya hanya diikuti oleh warga sekitar desa, namun seiring waktu semakin banyak masyarakat dari daerah lain yang turut serta. “Mulai tahun ini, kita menghitung ada sekitar 3.500 peserta yang datang, bahkan ada yang datang dari Jakarta dan Surabaya hanya untuk merasakan suasana khas sarapan Jawa di lereng gunung,” ujarnya.
Menu Sarapan Khas Jawa yang Melimpah
Sarapan yang disajikan merupakan hidangan khas Jawa yang disiapkan oleh masyarakat secara gotong royong. Beberapa menu utama yang selalu ada antara lain:
- Bubur pedas dengan lauk ayam kampung dan tempe bacem
- Nasi uduk dengan sambal krecek dan telur balado
- Lontong sayur dengan bumbu kacang khas Jawa Tengah
- Soto ayam dengan perkedel kentang
- Berbagai jenis kue tradisional seperti wingko babat, klepon, dan wajik
Selain makanan, juga disediakan minuman tradisional seperti wedang ronde, wedang uwuh, dan es cendol dawet. Semua makanan disajikan secara cuma-cuma dan diletakkan di atas tikar besar yang disebar di tanah, sesuai dengan tradisi makan bersama ala Jawa.
Hj. Sri Wahyuni, salah satu peserta yang datang dari Boyolali, menyampaikan bahwa ia tidak pernah melewatkan tradisi ini setiap tahunnya. “Selain bisa menikmati makanan lezat, kita juga bisa bertemu dengan saudara-saudara yang jarang bertemu. Suasana di sini sangat damai dan penuh berkah, terutama jelang Ramadhan,” katanya sambil sedang mengantar makanan kepada peserta lain.
Ritual Doa dan Silaturahmi
Setelah menyantap sarapan bersama, kegiatan dilanjutkan dengan ritual doa yang dipimpin oleh Kiai H. Muhammad Ali dari Pondok Pesantren Nurul Huda Candimulyo. Doa tersebut diajukan untuk memohon berkah kepada Allah SWT agar bulan Ramadhan yang akan datang dapat dilalui dengan khusyuk, serta untuk keselamatan dan kesejahteraan seluruh masyarakat.
Setelah doa selesai, peserta diajak untuk berbagi cerita dan silaturahmi. Banyak yang membawa oleh-oleh makanan tradisional untuk dibagikan kepada kerabat dan teman yang tidak bisa hadir. Beberapa keluarga juga memanfaatkan kesempatan ini untuk berfoto bersama dengan latar belakang keindahan alam Gunung Merbabu.
Kepala Desa Candimulyo, H. Joko Sutrisno, menyatakan bahwa pemerintah desa selalu mendukung pelaksanaan tradisi ini. “Kita sudah menyiapkan lokasi yang aman dan nyaman, termasuk fasilitas umum dan pos kesehatan darurat. Tradisi ini bukan hanya tentang makanan, tapi juga tentang menjaga nilai-nilai budaya Jawa dan kebersamaan antar masyarakat,” jelasnya.
Dukungan dari Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Magelang juga memberikan dukungan dalam bentuk pengaturan lalu lintas dan keamanan selama kegiatan berlangsung. Kadis Pariwisata Kabupaten Magelang, Ahmad Fauzi, menyampaikan bahwa tradisi Sarapan Jawa Sellau memiliki potensi besar untuk menjadi daya tarik wisata budaya yang unik.
“Kita berencana untuk mengembangkan kegiatan ini dengan tetap menjaga nilai budaya aslinya. Mudah-mudahan kedepannya, tradisi ini bisa menjadi ajang untuk memperkenalkan kelezatan kuliner Jawa dan keindahan alam Gunung Merbabu kepada wisatawan domestik maupun mancanegara,” ujar Fauzi.
Sebagai penutup acara, seluruh peserta bersama-sama membersihkan lokasi dan melakukan penanaman bibit pohon di sekitar lereng gunung sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Kegiatan ini diharapkan dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya yang berharga bagi masyarakat Jawa Tengah.
(Reina)

#itime, #itimepertanian, #itimeperistiwa, #itimeArtikel, #itimeviral, #itimeberita, #itimebudaya, #itimepemerintah, #itimehukum, #itimenasional, #itimeregional, #itimeinternasional, #itimeolahraga, #itimegayahidup, #itimetni, #itimePolri, #itimeuncatagorized, #itimependidikan, #itimepengetahuan, #itimesorot, #itimesemuaorang, #itimeviral, #itimewartawan, #itimedunia, #itimeportal, #itimeekonomi, #itimeglobal, #itimeteman, #itimesahabat, #itimerepublik, #itimeberitabaru, #itimeberitaterkini, #itimehariini, #itimenews, #itimeterkini, #itimepagi, #itimetv, #itimeberita, #itimemedia, #itimeindonesia, #itimeasia, #itimenusantara, #itimeprovinsi, #itimewaktu, #itimevidio, #itimefilm, #itimetrendi
