
ITime.id — myamar 20 November 2025 .Penggerebekan besar-besaran militer Myanmar terhadap pusat penipuan daring di Shwe Kokko menyisakan sorotan tak hanya dari sisi kriminal, tetapi juga isu pelanggaran HAM dan perdagangan manusia. Menurut sejumlah laporan organisasi internasional, ribuan orang diduga dipaksa bekerja dalam “kompleks scam” di perbatasan Myanmar-Thailand.
Laporan PBB dan Analisis HAM
Berdasarkan riset dari beberapa lembaga, termasuk interpretasi laporan PBB, skema scam di Shwe Kokko tidak semata soal penipuan online, tetapi juga merupakan “zona kriminal lintas negara” di mana pekerja direkrut dengan janji pekerjaan dan kemudian dikurung dalam kondisi kerja paksa.
Menurut ringkasan oleh lembaga ODI (Overseas Development Institute), pekerja yang ditempatkan di pusat scam seringkali menghadapi kondisi keras: tekanan fisik, kekerasan jika performa mereka rendah, hingga kesulitan melarikan diri karena pengawasan ketat dan isolasi lokasi.
Tahanan Terungkap dari Berbagai Negara
Operasi penggerebekan militer yang menahan 346 warga asing dan menyita hampir 10.000 ponsel bukanlah satu-satunya indikasi besarnya masalah ini. Seorang pejabat tinggi Thailand menyatakan bahwa “puluhan ribuan orang” bisa berada di dalam kompleks-kompleks scam ilegal di Myanmar — bukan hanya pekerja lokal, tetapi juga warga dari berbagai negara.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Thailand mengonfirmasi bahwa 16 warga Thailand yang sempat dibujuk pekerjaan dan akhirnya “tersangkut” di pusat scam di Myawaddy (dekat Shwe Kokko) sudah dipulangkan dan sedang dinilai sebagai korban perdagangan manusia.
Peran Aktor Lokal dan Militer
Laporan Uni Eropa menyebutkan bahwa kelompok milisi lokal — seperti Border Guard Force (BGF) yang berafiliasi dengan militer Myanmar — memiliki keterlibatan langsung dalam skema ini. Menurut EU, militia tersebut mendapatkan keuntungan besar dari pusat-pusat scam, dan juga diduga melakukan pelanggaran HAM, termasuk kerja paksa dan penyiksaan.
Salah satu perusahaan yang ikut tersorot adalah Chit Linn Myaing Group (CLM), yang memiliki kaitan erat dengan BGF. Dokumen resmi menyebut Shwe Kokko sebagai “hub kejahatan transnasional, termasuk penipuan daring, perdagangan narkoba, dan perdagangan manusia.”
Identitas Dalang Operasi Scam
Tokoh sentral dalam pembangunan “kota penipuan” Shwe Kokko adalah She Zhijiang, pengusaha asal Tiongkok-Kamboja yang menjalankan Yatai International. Dalam investigasi lembaga independen dan media, She dituduh merekrut pekerja dari berbagai negara lewat janji pekerjaan lalu mengikat mereka dengan paspor, hutang, atau cara lain, memaksa mereka terlibat dalam operasi scam.
Reaksi Internasional dan Tantangan Penanganan
- Sanksi: Amerika Serikat dan Inggris sebelumnya telah menjatuhkan sanksi kepada She Zhijiang dan entitas terkait atas jaringan perjudian daring dan penipuan di Shwe Kokko.
- Kekhawatiran Diplomatik: China sebagai salah satu negara dengan warga yang terlibat dalam pusat scam ini juga menjadi aktor penting. Beberapa pengamat menilai militer Myanmar “dipaksa” bertindak karena tekanan diplomatik dari Beijing agar warga negaranya tidak terus menjadi korban maupun dalang penipuan.
- Isu Hak Asasi: Laporan dari ODI menyebut bahwa pusat-pusat scam malah berfungsi seperti “kamp kerja paksa” dengan kondisi yang sulit ditinggalkan oleh korban.
- Dimensi HAM: Operasi militer ini bisa dilihat sebagai momen krusial untuk mengekspos dan menangani isu perdagangan manusia di balik scam online.
- Peran Militer dan Milisi: Ada konflik kepentingan besar: militer menindak pusat scam, tetapi ada juga milisi lokal yang sebelumnya dilaporkan mendapat keuntungan dari pusat-pusat tersebut.
- Diplomasi Internasional: Hubungan antara Myanmar dan Tiongkok penting dalam konteks ini, terutama jika China menekan junta agar lebih keras terhadap scam demi melindungi warganya.
- Solusi Jangka Panjang: Butuh kolaborasi internasional (PBB, ASEAN, negara korban scam) untuk menghentikan skema perekrutan paksa dan perdagangan manusia, sekaligus menutup “zona scam” di perbatasan.
Reina
