ITime.id – Jakarta 2 Desember 2025 .
Dinamika nilai mata uang global kembali menjadi sorotan setelah beberapa pekan terakhir tercatat adanya gejolak signifikan di pasar valas. Sejumlah negara tampak “berlomba” mempertahankan stabilitas dan mendorong penguatan mata uang mereka di tengah ketidakpastian ekonomi dunia yang terus berkembang.

Penguatan dolar AS, yang kerap menjadi tolok ukur utama, memicu efek domino terhadap mata uang negara lain yang berusaha bertahan di tengah tekanan eksternal. Meski begitu, tidak sedikit mata uang yang justru menunjukkan performa mengejutkan, termasuk mata uang Asia yang beberapa di antaranya berhasil menahan pelemahan berlebih melalui kebijakan moneter ketat.
Pakar ekonomi menyebut bahwa persaingan nilai mata uang tidak bisa dilepaskan dari faktor geopolitik, inflasi global, hingga perubahan suku bunga dari bank sentral besar. Ketika satu negara menaikkan suku bunga untuk menarik modal asing, negara lain terdorong untuk mengambil langkah serupa agar tidak tertinggal dalam kompetisi ekonomi.
“Stabilitas kurs kini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga kepercayaan pasar,” ujar analis finansial di Jakarta. Menurutnya, negara dengan kebijakan fiskal dan moneter lebih disiplin cenderung mampu menjaga nilai mata uangnya tetap kompetitif.
Sementara itu, bagi negara berkembang termasuk Indonesia, gejolak mata uang global menjadi tantangan tersendiri. Pemerintah dan Bank Indonesia terus memonitor pergerakan kurs rupiah, sembari memastikan pasar tetap likuid dan aman bagi investor maupun pelaku usaha.
Meski perlombaan nilai tertinggi tidak pernah benar-benar berakhir, para ekonom sepakat bahwa yang terpenting bukanlah menjadi mata uang paling kuat, melainkan menjaga stabilitas jangka panjang demi keberlanjutan ekonomi nasional. Dengan kondisi global yang dinamis, setiap negara kini berada pada fase di mana ketepatan kebijakan dan kepercayaan pasar menjadi kunci utama dalam mengarungi persaingan mata uang dunia.
Reina

