ITiime.id –4Desember 2025 . Fenomena gaya hidup bertato kembali menjadi sorotan publik. Di sejumlah kota besar, tato kini bukan sekadar gambar di tubuh, melainkan ekspresi seni, identitas diri, hingga simbol kebebasan. Namun, di balik berkembangnya tren ini, pro dan kontra terus bermunculan, terutama terkait persepsi sosial yang masih melekat kuat di sebagian masyarakat Indonesia.

Bagi sebagian anak muda dan komunitas seniman, tato adalah medium seni yang setara dengan lukisan. Setiap goresan jarum mengandung makna, filosofi, atau penanda perjalanan pribadi pemiliknya. Studio tato profesional pun tumbuh pesat, menghadirkan karya artistik yang makin beragam, mulai dari budaya tribal, realis, hingga modern minimalis.
Beberapa seniman tato menilai bahwa masyarakat perlu melihat tato dari sudut pandang estetika. “Tato bukan lagi simbol kriminalitas. Ini seni tubuh, bentuk ekspresi yang punya nilai artistik dan sejarah panjang,” ujar salah satu pelaku industri tato di Jakarta.
Meski perkembangan tato semakin diterima generasi muda, masih banyak masyarakat yang menganggap tato sebagai simbol kenakalan, kriminalitas, atau moralitas rendah. Persepsi ini berakar dari budaya lama, ketika tato identik dengan premanisme, geng jalanan, atau tanda kriminal tertentu.
Di lingkungan kerja tertentu, karyawan bertato juga masih menghadapi diskriminasi. Ada perusahaan yang menilai tato sebagai citra buruk yang bisa mengganggu profesionalisme, meski tidak ada aturan resmi yang melarangnya.
“Masih kuat pandangan bahwa orang bertato tidak sopan atau tidak beretika. Padahal realitanya tidak sesederhana itu,” ungkap seorang pemerhati sosial budaya di Yogyakarta.
Menariknya, tato sebenarnya telah lama menjadi bagian dari budaya Nusantara, seperti tato Dayak atau Mentawai yang sarat nilai spiritual dan identitas suku. Namun modernisasi dan pengaruh budaya luar membuat makna tato mengalami pergeseran.
Kini, sebagian masyarakat mulai melihat tato sebagai gaya hidup modern. Namun resistensi budaya tetap ada, terutama di kalangan konservatif yang memandang tato bertentangan dengan nilai sopan santun dan norma masyarakat.
Pengamat sosial menilai bahwa perbedaan pandangan terhadap tato seharusnya tidak memicu konflik pemahaman. Edukasi mengenai seni tato, higienitas studio, hingga makna budaya bisa membantu masyarakat menilai tato secara lebih objektif.
Di sisi lain, mereka yang memilih bertato juga diharapkan memahami norma lokal, etika sosial, dan konteks budaya lingkungan tempat mereka tinggal.
Gaya hidup bertato akan terus berkembang seiring perubahan zaman. Perdebatan antara nilai seni dan stigma sosial mungkin tidak akan hilang dalam waktu dekat. Namun pada akhirnya, pemahaman dan saling menghargai dapat menjadi jembatan agar tato dapat dilihat sebagai bagian dari keberagaman ekspresi manusia, bukan sekadar simbol negatif.
Reina

