ITine.id –4Desember 2025 Internasional & Lingkungan Bangkok, Thailand — Peringatan World Wildlife Conservation Day atau Hari Konservasi Alam Liar Sedunia pada 4 Desember 2025 berlangsung meriah dan penuh pesan kuat di Thailand. Tahun ini, negara tersebut menjadi simbol perjuangan negara-negara Asia dalam melawan kepunahan satwa liar dan kerusakan habitat alami.
Foto yang viral hari ini—memperlihatkan hamparan hutan tropis Thailand yang rimbun, gajah-gajah liar melintas damai, serta para peneliti konservasi yang bertugas—menjadi lambang pesan utama tahun ini: “Selamatkan Habitat, Selamatkan Masa Depan.”

Thailand Dipilih Sebagai Negara Fokus Asia 2025
Dalam agenda resmi yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga internasional, Thailand ditetapkan sebagai negara sorotan kawasan Asia. Alasan utamanya adalah keberhasilan negara tersebut:
- Memperluas lebih dari 250 ribu hektare kawasan konservasi baru
- Berhasil meningkatkan populasi Harimau Indocina secara signifikan
- Menguatkan program penyelamatan dan rehabilitasi Gajah Asia
- Mengurangi angka perburuan satwa liar hingga 30% dibanding 2022
Langkah ini menjadikan Thailand sebagai model keberhasilan pengelolaan konservasi modern di Asia Tenggara.
Program Konservasi 2025: Lebih Terarah, Lebih Agresif
Dalam upacara peringatan yang digelar di Khao Yai National Park, pemerintah Thailand resmi meluncurkan tiga program besar:
1. Jungle Recovery Program (JRP)
Program ini bertujuan memulihkan area hutan yang rusak akibat aktivitas ilegal dan bencana alam. Dengan dukungan teknologi pemetaan satelit, Thailand menargetkan pemulihan 10 ribu hektare hutan per tahun.
2. Wild Corridor Initiative
Inisiatif ini menciptakan jalur aman bagi satwa seperti harimau, gajah, rusa, dan tapir untuk bermigrasi tanpa terhalang aktivitas manusia. Jalur-jalur ini dilengkapi kamera pemantau dan pos penjaga untuk mencegah pemburu.
3. Anti-Poaching Task Force
Unit ini dibentuk secara khusus, bekerja sama dengan kepolisian dan komunitas lokal untuk menangani perdagangan gelap satwa maupun organ tubuh satwa.
Hasil awal sudah terlihat—angka penyitaan gading ilegal, kulit harimau, dan hewan buruan menurun drastis dalam dua tahun terakhir.
Gajah Thailand: Simbol Negara yang Kini Butuh Perlindungan Serius
Foto yang beredar hari ini menunjukkan sekelompok gajah liar berjalan damai di tepi hutan Chiang Mai. Namun di balik keindahan tersebut, gajah Asia masih berada di ambang bahaya.
Pemerintah Thailand mencatat bahwa populasi gajah liar turun hingga 60% dalam 40 tahun terakhir akibat:
- Penyempitan habitat
- Konflik dengan manusia
- Perburuan ilegal
- Industri wisata yang menyalahgunakan satwa
Sebagai respons, Thailand membatasi ketat izin penangkaran dan melarang praktik wisata menunggang gajah di beberapa kawasan konservasi.
Harimau Indocina: Populasi Mulai Bangkit
Salah satu berita paling menggembirakan datang dari hasil monitoring kamera jebak di kawasan hutan Thungyai Naresuan. Untuk pertama kalinya sejak 2014, populasi Harimau Indocina diperkirakan mencapai lebih dari 200 ekor.
Kebangkitan populasi harimau ini dianggap sebagai indikator bahwa hutan Thailand kembali pulih.
Organisasi internasional bahkan menyebut “Keberhasilan Thailand dapat menjadi contoh bagi Indonesia, Laos, dan Myanmar dalam pelestarian kucing besar.”
Peran Komunitas Lokal Sangat Penting
Selain pemerintah, masyarakat lokal Thailand memiliki kontribusi besar. Mereka:
- Mengikuti program patroli hutan sukarela
- Membantu kampanye anti-perdagangan satwa
- Mengelola ekowisata ramah lingkungan
- Memberikan edukasi kepada wisatawan
Penduduk desa di Chiang Rai misalnya, kini memiliki komunitas khusus yang bertugas menjaga jalur migrasi gajah dari pemukiman warga.
Peringatan 4 Desember Jadi Momentum Nasional
Ribuan orang mengikuti rangkaian acara, mulai dari:
- Pameran foto satwa liar
- Penanaman 500 ribu bibit pohon
- Seminar edukasi konservasi
- Program kampanye digital “Voice for the Wild”
Sekolah-sekolah di Bangkok hingga Phuket turut mengadakan kelas lapangan untuk memperkenalkan pentingnya melindungi ekosistem.
Harapan Dunia kepada Thailand dan Negara Asia Lainnya
Dengan langkah-langkah besar yang ditempuh Thailand sepanjang 2023–2025, dunia menaruh harapan besar bahwa negara ini terus menjadi pelopor konservasi di Asia.
Tantangan masih ada—kerusakan hutan, perdagangan ilegal lintas negara, dan konflik satwa–manusia—namun upaya yang dilakukan menunjukkan arah yang positif.
Hari Konservasi Alam Liar Sedunia 2025 menjadi pengingat bahwa seluruh negara memiliki tanggung jawab untuk melindungi satwa liar yang tersisa.
Reina

