Itime .Surakarta, 6 Februari 2026 – Fenomena gaya hidup yang merusak mulai menjadi perhatian serius bagi masyarakat, terutama orang tua dan pihak pendidikan di Indonesia. Berbagai tren gaya hidup yang tidak sehat dan tidak sesuai dengan nilai budaya bangsa semakin banyak menjangkau kalangan muda, berdampak negatif pada kesehatan fisik, mental, dan perkembangan karakter mereka. Survei terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan bahwa 62% generasi muda usia 13-29 tahun di Indonesia pernah terpengaruh oleh setidaknya satu bentuk gaya hidup yang merusak.
MACAM-MACAM GAYA HIDUP YANG MERUSAK GENERASI MUDA
Berikut adalah beberapa bentuk gaya hidup yang sering ditemukan dan dapat membahayakan generasi muda, beserta data terkait dampaknya:
1. Konsumsi Makanan Tidak Sehat Secara Berlebihan
Masyarakat muda cenderung lebih memilih makanan cepat saji, makanan olahan, dan minuman manis yang tinggi lemak jenuh, gula, dan garam. Data dari Kementerian Kesehatan tahun 2025 menunjukkan bahwa lebih dari 28% anak muda usia 15-24 tahun di Indonesia memiliki indeks massa tubuh (IMT) di atas normal, dengan kasus obesitas meningkat 15% dalam satu tahun terakhir. Selain itu, kasus diabetes tipe 2 pada kelompok usia 18-25 tahun juga meningkat hingga 22%, yang sebelumnya hanya ditemukan pada kelompok usia lebih tua. Kebiasaan ini juga menyebabkan masalah pencernaan, seperti maag dan sindrom iritasi usus besar, yang semakin banyak terjadi pada kalangan muda.
2. Ketergantungan pada Teknologi dan Media Sosial
Rata-rata generasi muda di Indonesia menghabiskan waktu hingga 8 jam per hari untuk menggunakan ponsel pintar, media sosial, dan permainan daring. Hal ini menyebabkan berbagai masalah, seperti gangguan tidur (65% responden muda mengalami kesulitan tidur akibat paparan layar sebelum tidur), ketegangan mata (42% mengalami gangguan penglihatan ringan), masalah tulang leher dan punggung akibat posisi duduk yang salah, serta isolasi sosial. Selain itu, paparan konten negatif seperti ujaran kebencian, kekerasan, dan pornografi di media sosial dapat memengaruhi perkembangan psikologis dan nilai-nilai generasi muda. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat bahwa lebih dari 3 juta anak muda di Indonesia pernah terpapar konten pornografi secara tidak sengaja atau sengaja melalui media digital. Banyak juga kasus kecanduan game yang membuat mereka mengabaikan pendidikan – sebanyak 18% siswa SMA di Jawa Tengah mengaku pernah bolos sekolah untuk bermain game daring.
3. Pola Hidup Tidak Sehat dan Kurang Aktivitas Fisik
Hanya sekitar 12% generasi muda usia 15-24 tahun yang melakukan aktivitas fisik secara teratur (minimal 30 menit per hari, 5 kali seminggu) sesuai anjuran Kementerian Kesehatan. Banyak yang menghabiskan waktu luangnya dengan bersantai di rumah atau di depan layar, sehingga menyebabkan penurunan kebugaran tubuh dan meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis. Selain itu, kebiasaan merokok mulai menjangkau kelompok usia muda – sekitar 15% anak usia 16-18 tahun di Indonesia telah merokok, meskipun telah diatur oleh Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang melarang penjualan rokok kepada anak di bawah umur. Kasus konsumsi minuman keras pada kalangan muda juga meningkat, dengan 8% responden muda usia 18-25 tahun mengaku pernah mengonsumsi alkohol secara berlebihan. Bahkan, terdapat laporan tentang penyalahgunaan zat terlarang seperti sabu-sabu dan ganja pada kelompok muda di beberapa kota besar, dengan kasus meningkat 9% dalam tahun terakhir.
4. Gaya Hidup Konsumtif dan Materialis
Tren gaya hidup yang mengedepankan kemewahan, branded goods, dan gaya hidup mewah telah membuat banyak generasi muda terjebak dalam konsumtif dan materialisme. Survei dari Asosiasi Ekonomi Indonesia menunjukkan bahwa 45% generasi muda bersedia mengambil pinjaman dari aplikasi pembiayaan daring atau rentenir untuk membeli barang-barang mewah seperti ponsel terbaru, sepatu branded, atau aksesoris mahal. Hal ini menyebabkan banyak dari mereka terjebak dalam utang dengan bunga tinggi, bahkan beberapa kasus menyebabkan masalah hukum dan tekanan finansial pada keluarga. Selain itu, gaya hidup materialis juga membuat mereka melupakan nilai-nilai budaya seperti hemat, sederhana, dan menghargai hasil kerja keras. Banyak yang lebih fokus pada tampilan luar dan status sosial daripada pada pengembangan diri dan prestasi akademik atau karir.
5. Kurangnya Kedisiplinan dan Tanggung Jawab
Beberapa gaya hidup yang merusak juga muncul akibat kurangnya kedisiplinan dan tanggung jawab, seperti datang terlambat ke sekolah atau tempat kerja (32% siswa SMA mengaku sering terlambat), mengabaikan tugas sekolah atau pekerjaan, serta tidak memiliki tujuan hidup yang jelas. Banyak generasi muda yang hidup tanpa rencana jangka panjang, hanya fokus pada kesenangan saat ini. Hal ini dapat menghambat perkembangan karir dan kehidupan pribadi mereka di masa depan. Selain itu, kurangnya rasa tanggung jawab terhadap keluarga dan masyarakat juga mulai terlihat, seperti mengabaikan kewajiban terhadap orang tua atau tidak mau terlibat dalam kegiatan sosial masyarakat.
6. Tren Gaya Hidup yang Tidak Sesuai dengan Nilai Budaya
Beberapa tren gaya hidup yang masuk dari luar negeri dan tidak sesuai dengan nilai budaya Indonesia juga mulai menjangkau kalangan muda, seperti gaya berpakaian yang terlalu terbuka, budaya pacaran bebas, dan perilaku yang tidak sopan terhadap orang tua atau orang yang lebih tua. Hal ini dapat menyebabkan konflik dalam keluarga dan masyarakat, serta merusak citra bangsa di mata dunia internasional.
PEMANGKU KEPENTINGAN YANG MEMPERKUAT FENOMENA TERSEBUT
Beberapa pihak yang memiliki peran signifikan dalam memperkuat gaya hidup yang merusak antara lain:
- Industri Makanan dan Minuman: Banyak perusahaan yang secara agresif memasarkan produk tidak sehat dengan target pasar muda melalui iklan di media sosial, acara musik, dan tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh muda mudi. Mereka menggunakan strategi pemasaran yang menarik, seperti memberikan hadiah atau diskon khusus, yang sulit ditolak oleh kalangan muda.
- Platform Media Sosial dan Permainan: Beberapa platform tidak melakukan moderasi yang cukup ketat terhadap konten negatif, bahkan terkadang mendorong tren yang tidak sehat untuk meningkatkan penggunaan dan keuntungan. Algoritma yang digunakan seringkali menampilkan konten yang sesuai dengan minat pengguna, sehingga jika seseorang pernah melihat konten negatif, mereka akan semakin banyak mendapatkan konten serupa.
- Perusahaan Teknologi: Produk teknologi yang dirancang untuk membuat pengguna terus menggunakan layanannya (disebut sebagai “addictive design”) juga berkontribusi pada ketergantungan generasi muda terhadap perangkat elektronik.
- Lingkungan Pertemanan dan Masyarakat: Tekanan dari teman sebaya atau tren yang berkembang di masyarakat seringkali membuat generasi muda terpengaruh untuk mengikuti gaya hidup yang tidak sehat. Mereka takut dianggap ketinggalan zaman atau tidak diterima oleh kelompok teman jika tidak mengikuti tren yang sedang populer.
- Kurangnya Pemahaman dan Pengawasan: Orang tua yang terlalu sibuk bekerja atau kurang memahami tren terkini sulit melakukan pengawasan yang cukup terhadap anak-anak mereka. Selain itu, pihak pendidikan yang lebih fokus pada prestasi akademik daripada pembentukan karakter juga menyebabkan generasi muda kurang mendapatkan pendidikan tentang gaya hidup sehat dan nilai-nilai budaya.
- Media Massa dan Influencer: Beberapa media massa dan influencer tidak bertanggung jawab dalam menyebarkan informasi atau tren gaya hidup. Mereka seringkali mempromosikan produk atau gaya hidup yang tidak sehat tanpa menyebutkan dampak negatifnya, hanya untuk mendapatkan keuntungan finansial.
DAMPAK JANGKA PANJANG BAGI GENERASI MUDA DAN BANGSA
Gaya hidup yang merusak tidak hanya berdampak pada kehidupan pribadi generasi muda, tetapi juga pada masa depan bangsa:
- Masalah Kesehatan: Peningkatan risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung, stroke, dan kanker pada usia muda akan meningkatkan beban biaya kesehatan negara dan menurunkan produktivitas tenaga kerja di masa depan. Gangguan mental seperti depresi, kecemasan, dan gangguan makan juga semakin banyak terjadi, yang dapat menyebabkan masalah sosial dan keamanan masyarakat.
- Masalah Pendidikan dan Karir: Kurangnya konsentrasi, motivasi, dan kedisiplinan dapat menghambat prestasi pendidikan dan perkembangan karir. Hal ini akan menyebabkan kurangnya tenaga kerja yang berkualitas dan kompeten, yang berdampak pada perkembangan ekonomi negara.
- Masalah Sosial dan Budaya: Hilangnya nilai-nilai budaya dan moral dapat menyebabkan konflik dalam keluarga dan masyarakat, seperti meningkatnya kasus kekerasan dalam rumah tangga, perkelahian antar pemuda, dan kejahatan. Selain itu, kurangnya rasa cinta tanah air dan nasionalisme juga dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa.
- Masalah Ekonomi: Kebiasaan konsumtif dan kurangnya kemampuan mengelola keuangan dapat menyebabkan kesulitan ekonomi di masa depan, baik bagi individu maupun negara. Banyak generasi muda yang akan masuk usia produktif dengan beban utang yang besar, sehingga sulit untuk membangun kehidupan yang stabil dan berkontribusi pada perekonomian negara.
- Masalah Lingkungan: Gaya hidup konsumtif juga menyebabkan peningkatan limbah dan pencemaran lingkungan, yang berdampak pada kelangsungan hidup manusia dan ekosistem alam.
UPAYA PENANGANAN DAN PENCEGAHAN YANG SUDAH DILAKSANAKAN DAN PERLU DILAKSANAKAN
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan kerja sama sinergis dari berbagai pihak:
1. Peran Keluarga
- Orang tua perlu memberikan pengawasan yang cukup terhadap anak-anak, terutama dalam penggunaan teknologi dan media sosial.
- Menjadi contoh pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara teratur, dan menghindari kebiasaan buruk.
- Mengajarkan nilai-nilai budaya seperti hemat, disiplin, dan tanggung jawab sejak dini.
- Melakukan komunikasi yang baik dengan anak-anak untuk memahami perkembangan dan masalah yang mereka hadapi.
2. Peran Pendidikan - Mengintegrasikan pendidikan tentang gaya hidup sehat, kesehatan reproduksi, dan nilai-nilai budaya ke dalam kurikulum mulai dari tingkat sekolah dasar.
- Menyelenggarakan kegiatan olahraga, seni, dan kegiatan sosial secara rutin untuk mengembangkan potensi dan karakter siswa.
- Memberikan edukasi tentang bahaya konsumsi makanan tidak sehat, merokok, minum alkohol, dan menggunakan zat terlarang.
- Melakukan kerja sama dengan orang tua untuk memantau perkembangan siswa di luar sekolah.
3. Peran Pemerintah - Membuat kebijakan yang ketat terhadap promosi produk tidak sehat, terutama yang ditujukan kepada anak muda.
- Melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap konten negatif di media sosial dan platform digital lainnya.
- Menyediakan fasilitas untuk aktivitas fisik dan kesehatan masyarakat, seperti taman olahraga, lapangan bola, dan pusat kesehatan yang mudah diakses.
- Memberikan insentif kepada perusahaan yang memproduksi produk sehat dan mendukung program kesehatan masyarakat.
- Melakukan kampanye pendidikan kesehatan dan gaya hidup sehat secara masif melalui media massa dan platform digital.
4. Peran Masyarakat - Komunitas dan organisasi masyarakat menyelenggarakan kegiatan yang positif dan mendukung perkembangan generasi muda, seperti klub olahraga, klub seni, dan kegiatan sosial masyarakat.
- Memberikan edukasi tentang bahaya gaya hidup yang merusak melalui ceramah, lokakarya, dan acara masyarakat.
- Membuat lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat, seperti menyediakan akses ke makanan sehat dan tempat untuk berolahraga.
5. Peran Diri Sendiri - Generasi muda perlu memiliki kesadaran diri untuk memilih gaya hidup yang sehat dan positif.
- Tidak mudah terpengaruh oleh tren negatif atau tekanan dari teman sebaya.
- Menetapkan tujuan hidup yang jelas dan bekerja keras untuk mencapainya.
- Mengembangkan minat dan bakat yang positif, serta terlibat dalam kegiatan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat.
6. Peran Industri dan Dunia Usaha - Perusahaan diharapkan bertanggung jawab dalam memproduksi dan memasarkan produk yang sehat dan bermanfaat bagi masyarakat.
- Influencer dan selebriti diharapkan dapat menjadi contoh baik dengan mempromosikan gaya hidup sehat dan nilai-nilai positif.
PROGRAM UNGGULAN DI WILAYAH JAWA TENGAH
Di Provinsi Jawa Tengah, pemerintah telah meluncurkan beberapa program untuk menangani masalah gaya hidup yang merusak pada generasi muda, antara lain:
- Program “Generasi Sehat Jawa Tengah” yang memberikan pelatihan tentang pola makan sehat dan olahraga kepada siswa di seluruh sekolah negeri.
- Program “Digital Literasi untuk Muda Mudi” yang memberikan edukasi tentang penggunaan teknologi yang bijak dan aman.
- Program “Kembali ke Budaya” yang mengajarkan seni budaya tradisional dan nilai-nilai lokal kepada anak muda untuk memperkuat identitas budaya.
(Reina)

#itime, #itimepertanian, #itimeperistiwa, #itimeArtikel, #itimeviral, #itimeberita, #itimebudaya, #itimepemerintah, #itimehukum, #itimenasional, #itimeregional, #itimeinternasional, #itimeolahraga, #itimegayahidup, #itimetni, #itimePolri, #itimeuncatagorized, #itimependidikan, #itimepengetahuan, #itimesorot, #itimesemuaorang, #itimeviral, #itimewartawan, #itimedunia, #itimeportal, #itimeekonomi, #itimeglobal, #itimeteman, #itimesahabat, #itimerepublik, #itimeberitabaru, #itimeberitaterkini, #itimehariini, #itimenews, #itimeterkini, #itimepagi, #itimetv, #itimeberita, #itimemedia, #itimeindonesia, #itimeasia, #itimenusantara, #itimeprovinsi, #itimewaktu, #itimevidio, #itimefilm, #itimetrendi
