Itime portal. Jakarta, 28 Mei 2026 – Jangan tertipu oleh piring yang tersaji di depan anak-anak sekolah. Makan siang itu hanyalah “asap” dari mesin besar yang sedang memanaskan mesin ekonomi bangsa. Ini bukan sekadar urusan perut, melainkan sebuah sabotase terstruktur terhadap dominasi modal yang selama ini dinilai terpusat di Jakarta.
Selama puluhan tahun, sebagian besar peredaran uang nasional tersedot ke gedung-gedung pencakar langit ibu kota, terjebak dalam pusaran saham, obligasi, dan deposito yang dinilai hanya memperkaya segelintir elite. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipandang sebagai sebuah revolusi sosialis-nasionalis yang bertujuan memecahkan konsentrasi ekonomi tersebut dan mendorong aliran uang hingga ke pelosok negeri.
Logika “Mesin Uang Rakyat”
Bayangkan ribuan “Dapur Rakyat” dibangun sebagai benteng ekonomi di tingkat kecamatan. Ketika investasi kelas menengah bertemu dengan triliunan rupiah dana negara, maka terjadi perputaran likuiditas di pasar tradisional, kandang peternak, hingga sawah para petani lokal.
Beberapa gagasan utama yang dikemukakan dalam narasi ini antara lain:
26.000 dapur dipandang sebagai 26.000 pusat gravitasi ekonomi baru di daerah.
Uang yang sebelumnya dianggap habis dalam proyek-proyek besar yang tidak menyentuh masyarakat bawah, kini diarahkan bergerak melalui tangan ibu-ibu katering, pengantar logistik, hingga UMKM desa.
Jika arus ekonomi tersebut mencapai skala triliunan rupiah, maka program ini dinilai bukan lagi sekadar memberi makan anak-anak sekolah, melainkan membangun kedaulatan finansial yang lebih mandiri.
Benturan Kepentingan Global
Dalam sudut pandang penulis, program MBG berpotensi menimbulkan benturan kepentingan dengan kelompok yang mendorong ekonomi liberal dan ketergantungan impor. Program yang disebut sebagai “sosialis revolusioner” itu dipandang dapat mengubah pola distribusi ekonomi nasional dari yang sebelumnya terpusat menjadi lebih menyebar ke daerah.
Narasi ini juga menilai akan muncul berbagai bentuk perlawanan terhadap program tersebut, mulai dari propaganda media, opini di media sosial, hingga isu campur tangan kepentingan asing. Menurut penulis, kekhawatiran utama muncul ketika masyarakat daerah mulai memiliki kendali ekonomi yang lebih besar.
“Ini adalah perang urat saraf. Antara mereka yang ingin uang tetap diam di brankas kaca, dan mereka yang ingin uang mengalir deras ke meja makan setiap anak bangsa,” tulis EAGLE-37 dalam narasinya.
Tabe’.
Pewarta: Fadly
Oleh : Eagle-37 (Nasrun Natsir : Prespektif Imaginasi Sosialis-Nasionalis)
