Itime.id. Semarang.– Di tengah kehidupan yang semakin kompetitif, pesan-pesan bijak dari para leluhur Jawa masih memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Salah satu wejangan yang hingga kini sering disampaikan oleh para sesepuh adalah filosofi “menang tanpa ngasorake” atau menang tanpa merendahkan orang lain.
Sebuah ungkapan yang beredar di masyarakat berbunyi:
“Jare simbah, sing diarani pemenang kuwi ora kudu terus menang, nanging kadangkala kudu wani ngalah kanggo gawe ademe kahanan. Mbok menawa ngono kuwi sing diarani menang tanpa ngasorake.”
Pesan tersebut mengandung makna bahwa seseorang tidak harus selalu menunjukkan kemenangan dalam setiap persoalan. Dalam kondisi tertentu, keberanian untuk mengalah demi menjaga ketenteraman justru menjadi bentuk kemenangan yang lebih tinggi.
Filosofi menang tanpa ngasorake telah lama dikenal dalam budaya Jawa sebagai cara menyelesaikan konflik tanpa merusak hubungan sosial. Seseorang boleh meraih kemenangan, namun tidak dengan membuat pihak lain merasa dipermalukan atau direndahkan.
Selain itu, masyarakat Jawa juga mengenal petuah “wani ngalah luhur wekasane”, yang berarti berani mengalah akan membawa kemuliaan pada akhirnya. Sikap tersebut bukan berarti kalah, melainkan bentuk kedewasaan dalam mengendalikan ego dan menjaga keharmonisan.
Dalam pesan yang sama juga terdapat kritik sosial yang masih relevan hingga saat ini:
“Jaman saiki pancen akeh wong ngajak bener, nanging sithik wong sing bisa nyonto bener.”
Ungkapan tersebut mengingatkan bahwa mengajak orang lain berbuat baik memang penting, namun memberi teladan melalui tindakan nyata jauh lebih bermakna. Nilai moral tidak cukup hanya disampaikan melalui kata-kata, melainkan perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Pesan berikutnya juga mengajarkan kesederhanaan dan kerendahan hati:
“Ora kudu wah ben ketok diajeni, ora kudu pinter supaya bisa dipercaya.”
Maknanya, penghormatan tidak selalu lahir dari kemewahan atau jabatan, begitu pula kepercayaan tidak semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan seseorang. Kejujuran, integritas, dan konsistensi dalam bertindak sering kali menjadi faktor utama yang membuat seseorang dihormati dan dipercaya oleh lingkungan sekitarnya.
Di tengah maraknya perdebatan di ruang publik maupun media sosial, pesan ini juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam perselisihan yang belum jelas dasar kebenarannya.
“Ora usah padha padudon rebut bener kanggo bab sing durung genah kabenerane.”
Nasihat tersebut mendorong masyarakat untuk lebih mengedepankan kebijaksanaan, tabayun, dan kehati-hatian sebelum mengambil kesimpulan atau menghakimi suatu persoalan.
Tak kalah penting, terdapat petuah yang berbunyi:
“Sing kudu diilmuni kuwi akale, dudu ilmune sing diakali.”
Pesan ini mengandung ajakan agar ilmu pengetahuan digunakan untuk membentuk akal budi dan kebijaksanaan, bukan justru dimanfaatkan untuk mencari celah demi kepentingan pribadi.
Filosofi Jawa juga mengenal prinsip menjaga harmoni sosial melalui pengendalian diri dan penghormatan terhadap sesama. Kemenangan sejati tidak hanya diukur dari keberhasilan mengalahkan orang lain, tetapi juga dari kemampuan mengendalikan ego, menjaga hubungan baik, serta menciptakan suasana yang damai.
Di akhir pesan tersebut terdapat tiga kata sederhana namun sarat makna:
“Setiti, gemati, seng ngati-ati.”
Artinya, teliti, cermat, dan selalu berhati-hati dalam bertindak maupun mengambil keputusan.
Dalam kehidupan yang serba cepat saat ini, nilai-nilai tersebut menjadi pengingat bahwa kebijaksanaan sering kali lahir dari sikap tenang, rendah hati, dan kemampuan menjaga keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan bersama.
Karena pada akhirnya, tidak semua kemenangan harus dirayakan dengan mengalahkan orang lain. Ada kalanya kemenangan terbesar justru diperoleh ketika seseorang mampu menjaga persaudaraan, meredam konflik, dan tetap menghormati sesama. Sebuah nilai luhur yang oleh masyarakat Jawa dikenal sebagai “menang tanpa ngasorake.”
(Totok)
