ITime.id .Gunungkidul – 30 Juli 2026 .Musim kemarau yang berkepanjangan kembali membawa dampak serius bagi warga di wilayah Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejumlah petani di Dusun Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, bahkan terpaksa menjual ayam dan hasil ternak lainnya demi memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Mayoritas warga di kawasan tersebut menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Namun saat kemarau melanda, sumber air mengering dan pasokan air bersih menjadi sangat terbatas. Kondisi ini memaksa warga membeli air bersih yang diangkut menggunakan mobil tangki.
Harga satu tangki air berkapasitas sekitar 5.000 liter mencapai sekitar Rp120 ribu. Bagi keluarga petani dengan penghasilan yang tidak menentu, biaya tersebut menjadi beban berat. Saat tabungan habis dan hasil panen belum tersedia, menjual ayam hingga kambing menjadi pilihan terakhir agar kebutuhan air tetap terpenuhi.
Warga mengungkapkan bahwa air dari satu tangki umumnya hanya cukup digunakan selama sekitar dua pekan untuk memenuhi kebutuhan memasak, mandi, mencuci, hingga minum ternak. Beruntung, bantuan distribusi air bersih dari berbagai pihak mulai meringankan beban masyarakat meski belum sepenuhnya mencukupi.
Di wilayah tersebut sebenarnya telah tersedia jaringan PDAM. Namun selama musim kemarau, aliran air hanya mengalir sekitar satu kali dalam sepekan sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga secara optimal. Kondisi geografis berupa perbukitan kapur juga menyulitkan pembuatan sumur karena minimnya cadangan air tanah.
Fenomena ini menjadi potret nyata perjuangan masyarakat di daerah rawan kekeringan setiap musim kemarau. Warga berharap pemerintah dapat memperkuat infrastruktur penyediaan air bersih, memperluas jaringan distribusi, serta membangun lebih banyak penampungan air hujan agar krisis serupa tidak terus berulang setiap tahun.
Kisah petani yang rela menjual ayam demi membeli air menjadi pengingat bahwa akses terhadap air bersih masih menjadi kebutuhan mendasar yang harus mendapat perhatian serius, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan kekeringan.
(Reina)
