ITime. Id .SALATIGA –11 Agustus 2026 . Jauh sebelum minuman herbal dan jamu kekinian berkembang seperti sekarang, Kota Salatiga telah memiliki cerita tentang sebuah racikan minuman tradisional yang lahir dari kepedulian terhadap kesehatan sekaligus kecintaan pada budaya lokal.
Sosok di balik lahirnya minuman herbal tersebut adalah Ibu Laras Djoko Sierowo, yang kala itu dikenal sebagai Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Salatiga. Pada 5 April 2010, kisahnya bahkan pernah diberitakan dalam surat kabar Suara Merdeka melalui artikel berjudul “Ketua GOW Ciptakan ‘Juminten’.”
Kini, setelah lebih dari 16 tahun, kisah Juminten kembali menarik untuk dikenang. Sebuah racikan tradisional yang tidak hanya menjadi minuman, tetapi juga bagian dari perjalanan kuliner dan kreativitas masyarakat Salatiga.
Berawal dari Kecintaan terhadap Ramuan Tradisional
Juminten lahir dari gagasan untuk mengolah berbagai bahan tradisional menjadi minuman yang lebih mudah dinikmati masyarakat. Racikan tersebut kemudian diperkenalkan sebagai salah satu minuman herbal yang memiliki cita rasa khas.
Di tengah semakin banyaknya minuman modern, kehadiran Juminten menjadi pengingat bahwa kekayaan bahan-bahan tradisional Indonesia dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai dan menarik.
Kisah Ibu Laras juga menunjukkan bahwa seorang perempuan dapat berperan bukan hanya dalam kegiatan organisasi dan sosial, tetapi juga melahirkan inovasi yang memiliki nilai ekonomi sekaligus budaya.
Juminten, Warisan Kreativitas yang Layak Dikenang
Pada masa itu, minuman berbahan ramuan tradisional menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat yang ingin menikmati minuman dengan cita rasa berbeda.
Juminten menjadi salah satu contoh bagaimana ramuan tradisional dapat dikemas secara kreatif tanpa kehilangan identitasnya.
Perjalanan selama lebih dari satu dekade tersebut menjadi bukti bahwa sebuah ide sederhana dapat meninggalkan cerita panjang. Terlebih, saat ini masyarakat kembali semakin tertarik pada produk herbal, jamu, dan minuman berbahan alami.
Potensi Oleh-Oleh Khas Salatiga
Jika dikembangkan secara konsisten, minuman herbal seperti Juminten juga memiliki peluang untuk menjadi salah satu produk oleh-oleh khas Salatiga.
Bukan sekadar membawa pulang makanan atau minuman, wisatawan dapat membawa cerita mengenai kearifan lokal dan kreativitas perempuan Salatiga dalam mengolah bahan tradisional.
Terlebih, tren masyarakat terhadap minuman berbahan rempah dan herbal terus berkembang. Namun, manfaat kesehatan dari minuman herbal tetap perlu disampaikan secara bijak dan tidak berlebihan, karena khasiatnya bergantung pada bahan, takaran, serta kondisi masing-masing orang.
Mengenang Sosok Perempuan di Balik Juminten
Lebih dari sekadar nama sebuah minuman, Juminten merupakan bagian dari catatan perjalanan kuliner tradisional Kota Salatiga.
Kisah Ibu Laras Djoko Sierowo yang pernah diabadikan media pada 2010 menjadi pengingat bahwa inovasi lokal telah tumbuh di Salatiga sejak bertahun-tahun lalu.
Kini, 16 tahun kemudian, cerita tersebut layak kembali diangkat sebagai inspirasi: bahwa resep tradisional, kreativitas perempuan, dan kecintaan terhadap produk lokal dapat menjadi bagian dari identitas sebuah kota.
Juminten bukan sekadar minuman herbal. Ia adalah cerita tentang Salatiga, tentang perempuan yang berkarya, dan tentang tradisi yang berusaha tetap hidup di tengah perubahan zaman.
(Reina)
