ITime.id .SALATIGA – 14 Agustus 2026 .Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan, khususnya bagi kelompok lanjut usia (lansia), terus dilakukan di Kelurahan Kutowinangun Lor, Kota Salatiga.
Melalui kolaborasi KKN Tim II Universitas Diponegoro (Undip) 2026 bersama GERMAS Kelurahan Kutowinangun Lor, masyarakat mendapatkan edukasi mengenai hipertensi melalui program SEHATI, Sehat Hipertensi Bersama Lansia Kutowinangun Lor.
Edukasi tersebut dikemas dalam bentuk media informasi yang mudah dipahami. Materi di dalamnya mengajak lansia dan keluarga untuk mengenali hipertensi, memahami faktor risikonya, serta melakukan langkah pencegahan dan pengendalian tekanan darah secara rutin.
Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa hipertensi merupakan kondisi ketika tekanan darah berada di atas batas normal secara terus-menerus. Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele karena hipertensi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, gagal ginjal hingga gangguan penglihatan.
Rekam Jejak Hipertensi Lansia
Program edukasi tersebut juga mengangkat data kesehatan lansia di wilayah Kutowinangun Lor. Berdasarkan data Posyandu ILP Juli 2026, terdapat 1.021 lansia di RW 1 hingga RW 6.
Dari jumlah tersebut, tercatat 331 lansia atau sekitar 32,42 persen mengalami prehipertensi dan hipertensi. Angka tersebut menjadi perhatian bersama karena menunjukkan bahwa tekanan darah tinggi mulai menjadi persoalan kesehatan yang perlu ditangani secara serius.
Data dalam materi juga menunjukkan adanya perbedaan kondisi antarwilayah RW. Persentase tertinggi tercatat di RW 5 sebesar 92,86 persen, disusul RW 4 sebesar 90,91 persen berdasarkan data yang ditampilkan dalam bahan edukasi.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pemeriksaan tekanan darah secara berkala sangat penting, terutama bagi masyarakat lanjut usia.
Kenali Faktor Risiko
Dalam kampanye SEHATI, masyarakat diajak mengenali berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko hipertensi. Di antaranya usia, pola makan berlebihan, stres, kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, konsumsi garam berlebihan, serta kurangnya aktivitas fisik.
Karena itu, pencegahan hipertensi tidak hanya dilakukan ketika seseorang sudah mengalami tekanan darah tinggi. Perubahan pola hidup sehat perlu dilakukan sejak dini dan menjadi kebiasaan sehari-hari.
Beberapa langkah yang disampaikan melalui materi edukasi tersebut antara lain memperbanyak konsumsi buah dan sayur, mengurangi garam, melakukan aktivitas fisik seperti jalan kaki atau olahraga ringan, tidur cukup, memeriksa tekanan darah secara rutin, serta mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga kesehatan bagi mereka yang memang mendapatkan terapi.
Pesan penting yang juga ditekankan adalah tidak merasa aman hanya karena tubuh tidak merasakan keluhan. Hipertensi dapat terjadi tanpa gejala yang jelas sehingga pemeriksaan tekanan darah menjadi salah satu cara penting untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang.
Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat
Kehadiran KKN Tim II Undip bersama GERMAS Kutowinangun Lor menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun kesadaran kesehatan.
Program edukasi seperti SEHATI diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan penyuluhan, tetapi dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat, khususnya lansia, untuk lebih aktif menjaga kesehatan dan melakukan pemeriksaan secara rutin.
Melalui gerakan bersama tersebut, Kutowinangun Lor diharapkan semakin mampu membangun lingkungan masyarakat yang peduli terhadap kesehatan lansia.
“Kenali hipertensi, jaga kesehatan, dan nikmati masa tua dengan lebih sehat.” Pesan tersebut menjadi semangat bersama dalam mewujudkan lansia Kutowinangun Lor yang lebih sehat, aktif dan berkualitas.
(Reina)
