ITime. Id.Bintang Ara, Tabalong —23 Agustus 2026 . Kondisi jalan poros dari Km 55 menuju Malungai Raya hingga Muara Malungai, Kecamatan Bintang Ara, menjadi perhatian masyarakat. Jalan yang sebelumnya dikeluhkan mengalami kerusakan di sejumlah titik kini mulai mendapat penanganan sementara berupa penimbunan menggunakan tanah lempung atau tanah Minang.
Penimbunan tersebut membuat akses kendaraan kembali lebih fungsional, terutama pada kondisi musim kemarau. Namun, masyarakat menilai pekerjaan tersebut jangan sampai berhenti pada penanganan sementara. Perbaikan secara permanen tetap diperlukan agar kondisi jalan tidak kembali rusak ketika memasuki musim penghujan.
Sebelumnya, terdapat sejumlah titik jalan berlubang yang cukup mengganggu aktivitas masyarakat. Jumlah titik kerusakan bahkan disebut berada di kisaran belasan titik. Kondisi tersebut tentu menjadi perhatian karena jalan ini merupakan salah satu akses penting bagi warga yang melakukan aktivitas sehari-hari.
Kini, setelah dilakukan penimbunan, kondisi jalan relatif lebih aman untuk dilalui. Namun, kualitas dan ketahanan material timbunan akan benar-benar diuji ketika curah hujan meningkat. Karena itu, evaluasi dan pengawasan terhadap kondisi jalan dinilai penting dilakukan secara berkelanjutan.
Ahmad Riyadi menegaskan bahwa persoalan jalan tersebut perlu dilihat secara objektif. Menurutnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan penanganan sesaat, tetapi juga kepastian mengenai rencana perbaikan jangka panjang.
“Yang terpenting bukan saling menyalahkan, tetapi bagaimana jalan ini benar-benar diperbaiki secara permanen. Jangan menunggu rusak parah baru kemudian dilakukan penanganan,” ujarnya.
Menurutnya, kontrol sosial dari masyarakat juga diperlukan agar pembangunan infrastruktur berjalan transparan dan sesuai kebutuhan di lapangan. Setiap pihak yang berkaitan dengan pembangunan jalan diharapkan dapat memberikan penjelasan dan mengambil langkah berdasarkan kondisi faktual.
Bukan Sekadar Jalan Penghubung
Jalan menuju kawasan Malungai dan Muara Malungai tidak hanya memiliki fungsi sebagai jalur mobilitas masyarakat. Kawasan tersebut juga menyimpan potensi wisata alam dan budaya yang cukup besar.
Salah satu potensi yang menarik berada di kawasan Sungai Ayuh. Kehidupan masyarakat Dayak Lawangan dengan berbagai kearifan lokalnya menjadi bagian dari kekayaan budaya yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata.
Aktivitas masyarakat dalam mencari ikan menggunakan alat tradisional seperti sundak atau serapang menjadi salah satu gambaran kehidupan lokal yang masih menarik untuk diperkenalkan kepada wisatawan.
Di kawasan sungai tersebut juga terdapat keberadaan satwa liar, termasuk buaya lokal, yang menjadi bagian dari ekosistem alami. Keberadaan satwa tersebut tentu perlu dipahami dengan mengedepankan aspek keselamatan masyarakat, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.
Selain itu, terdapat pula tradisi tuba adat yang dilaksanakan masyarakat pada musim tertentu. Tradisi tersebut memiliki nilai budaya dan kearifan lokal yang berpotensi menjadi daya tarik bagi wisatawan maupun fotografer yang ingin melihat langsung kehidupan budaya masyarakat setempat.
Potensi lainnya berada di kawasan Tulungan Amis yang disebut memiliki gua-gua alami dan jalur perairan yang menarik untuk dijelajahi. Keindahan alam tersebut menjadi aset yang dapat dikembangkan apabila didukung akses infrastruktur yang memadai.
Infrastruktur Harus Sejalan dengan Potensi Wisata
Dengan berbagai potensi tersebut, pembangunan jalan dinilai tidak boleh hanya dipandang sebagai proyek perbaikan infrastruktur semata. Jalan yang baik dapat menjadi pintu masuk untuk membuka akses ekonomi, pariwisata, serta meningkatkan mobilitas masyarakat.
Karena itu, penanganan jalan Malungai diharapkan tidak berhenti pada penimbunan sementara. Perlu ada perencanaan yang lebih matang untuk menghadirkan konstruksi jalan yang mampu bertahan dalam berbagai kondisi cuaca.
Masyarakat juga berharap pemerintah dan pihak terkait dapat melihat kawasan ini dengan visi jangka panjang. Apabila potensi wisata Sungai Ayuh dan kawasan sekitarnya dikembangkan secara serius, bukan tidak mungkin kawasan tersebut dapat menjadi salah satu tujuan wisata unggulan di masa mendatang.
“Jangan tunggu jalan hancur total baru diperbaiki. Kalau memang kawasan ini memiliki potensi besar, infrastrukturnya juga harus dipersiapkan sejak sekarang,” kata Ahmad Riyadi.
Perbaikan jalan yang berkualitas sekaligus pengembangan potensi wisata dan budaya diharapkan dapat berjalan beriringan. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya menyelesaikan persoalan jalan rusak, tetapi juga membuka peluang baru bagi masyarakat Malungai dan Bintang Ara.
Narasumber: Ahmad Riyadi
Penulis/Tim Redaksi: Usupriyadi & Tim
