ITime.id .KALIMANTAN – 28 Agustus 2026 .Musim kemarau yang semakin kering membuat sejumlah wilayah Kalimantan menghadapi peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau perkembangan titik panas atau hotspot melalui pengamatan satelit.
Dalam pemantauan BMKG pada 25 Agustus 2026, peningkatan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di sejumlah wilayah Kalimantan. Di Kalimantan Barat, jumlah titik panas meningkat dari 92 menjadi 140 titik. Sementara di Kalimantan Tengah melonjak dari 113 menjadi 352 titik dan Kalimantan Timur meningkat dari 30 menjadi 63 titik.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena sebagian wilayah Indonesia saat ini memasuki puncak musim kemarau. BMKG sebelumnya memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli hingga September, dengan Agustus menjadi bulan puncak di wilayah yang cukup luas.
Warga Diminta Hemat Air
Selain ancaman kebakaran, kondisi kemarau panjang juga berpotensi memberikan tekanan terhadap ketersediaan air bersih. BMKG mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah agar melakukan langkah antisipasi terhadap kekeringan, termasuk menjaga ketersediaan sumber air.
Masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak dan menghindari pemborosan, terutama di daerah yang mengalami hari tanpa hujan cukup panjang.
Kondisi udara yang panas dan kering juga perlu diantisipasi oleh masyarakat yang melakukan aktivitas di luar ruangan. Kecukupan cairan tubuh menjadi penting untuk menghindari dehidrasi dan kelelahan akibat paparan panas.
Risiko Karhutla Masih Tinggi
BMKG menyebut risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat sejak Juli dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026. Wilayah dengan risiko tinggi terutama berada di Sumatera dan Kalimantan.
Lima provinsi menjadi perhatian prioritas dalam penguatan pemantauan dan pengawasan karhutla, yakni Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi.
Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan, membakar sampah sembarangan, maupun aktivitas lain yang berpotensi memicu api, terutama di kawasan gambut, semak belukar, hutan dan lahan kering.
Apabila menemukan kepulan asap, titik api atau indikasi kebakaran, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada petugas agar dapat dilakukan penanganan sedini mungkin.
Waspada hingga Perubahan Musim
BMKG mengingatkan bahwa kondisi kering tidak berarti seluruh wilayah akan mengalami cuaca panas tanpa hujan. Hujan lokal masih mungkin terjadi di sejumlah daerah. Namun, masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan karena kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menyebar ketika kebakaran terjadi.
Dengan meningkatnya jumlah titik panas di beberapa wilayah Kalimantan, sinergi antara pemerintah, petugas lapangan dan masyarakat menjadi sangat penting untuk mencegah kebakaran meluas.
Kewaspadaan, penghematan air serta larangan membuka lahan dengan cara membakar menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk menghadapi musim kemarau sekaligus membantu mencegah terjadinya bencana karhutla.
(Reina)
