ITime.id .SALATIGA –2 September 2026 . Ada kisah sederhana namun penuh makna dari lingkungan RW 04, Kelurahan Kotowinangun Lor, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga. Di tengah aktivitas masyarakat dan perkembangan permukiman, Kali Pancuran yang dahulu identik dengan sampah dan bau kini perlahan berubah menjadi aliran air yang lebih bening dan terjaga.
Perubahan tersebut tidak lepas dari kepedulian warga yang selama bertahun-tahun berusaha menjaga kebersihan kali. Salah satu sosok yang konsisten menjaga Kali Pancuran adalah Pak Suratno, warga yang selama kurang lebih 20 tahun ikut merawat dan mengawasi kondisi kali.
Selama dua dekade, Pak Suratno tidak hanya membersihkan lingkungan sekitar kali, tetapi juga berusaha mengajak masyarakat untuk memiliki kesadaran yang sama. Baginya, menjaga kali bukan pekerjaan sesaat, melainkan kebiasaan yang harus dilakukan secara terus-menerus.
Upaya itu tentu tidak mudah. Mengubah kebiasaan masyarakat membutuhkan waktu, kesabaran dan komunikasi yang baik. Terlebih, ketika masih ada warga yang belum memahami pentingnya membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan aliran air.
Namun, perlahan kesadaran tersebut tumbuh. Warga mulai memahami bahwa kondisi Kali Pancuran sangat bergantung pada kepedulian masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Ketua RW 04, Edi Prasetiyo, juga terus memberikan arahan dan mengajak masyarakat untuk mempertahankan kebersihan lingkungan. Kerja sama antara pengurus wilayah, warga dan pemerintah menjadi kekuatan penting dalam menjaga Kali Pancuran.
Arahan dari pemerintah mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan juga semakin memperkuat kesadaran masyarakat. Warga kemudian tidak hanya melihat kali sebagai saluran air, tetapi sebagai bagian dari lingkungan tempat mereka hidup yang harus dirawat bersama.
Hasilnya kini mulai terlihat. Air Kali Pancuran tampak lebih bening, sementara persoalan sampah dan bau yang sebelumnya menjadi perhatian warga dapat ditekan.
Bagi masyarakat RW 04 Kotowinangun Lor, kondisi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri. Kali yang berada di tengah lingkungan permukiman dapat tetap dijaga apabila ada kemauan dan kerja sama dari seluruh warga.
Kisah Pak Suratno selama sekitar 20 tahun juga menjadi bukti bahwa perubahan lingkungan dapat dimulai dari satu orang yang memiliki kepedulian, kemudian mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Apa yang dilakukan Pak Suratno mungkin terlihat sederhana. Namun, jika dilakukan secara konsisten selama puluhan tahun, dampaknya dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.
Kini, Kali Pancuran bukan sekadar aliran air. Ia menjadi gambaran dari semangat gotong royong warga RW 04 Kotowinangun Lor dalam menjaga lingkungan.
Ke depan, warga berharap kondisi Kali Pancuran tetap terjaga. Kebersihan yang sudah dibangun selama bertahun-tahun jangan sampai kembali rusak akibat sampah.
Pesannya sederhana: kalau masyarakat mau peduli dan bekerja sama, lingkungan yang sebelumnya kotor dan berbau pun bisa kembali bersih dan nyaman.
Kali Pancuran menjadi bukti bahwa menjaga lingkungan tidak selalu membutuhkan langkah besar. Terkadang, perubahan justru lahir dari kepedulian kecil yang dilakukan setiap hari dan tidak pernah berhenti.
(Reina)
