ITime.id .JAKARTA –6 September 2026.Letusan Gunung Krakatau pada Agustus 1883 menjadi salah satu bencana vulkanik paling dahsyat dalam sejarah modern. Ledakan besar yang terjadi di kawasan Selat Sunda itu tidak hanya menghancurkan sebagian besar tubuh gunung, tetapi juga memicu tsunami dahsyat dan menyebarkan material vulkanik hingga ke berbagai penjuru dunia.
Peristiwa tersebut mencapai puncaknya pada 27 Agustus 1883, ketika serangkaian ledakan besar mengguncang Krakatau. Dentumannya terdengar hingga ribuan kilometer dari sumber letusan dan menjadi salah satu suara letusan gunung api paling keras yang pernah tercatat dalam sejarah.
Kekuatan letusan Krakatau kerap dibandingkan dengan ledakan nuklir dalam berbagai literatur populer. Sejumlah perkiraan menyebut energi letusannya berada pada skala ratusan megaton TNT, meskipun angka pastinya berbeda-beda tergantung metode perhitungan. Karena itu, penyebutan “setara 200 megaton” sebaiknya dipahami sebagai perkiraan populer, bukan angka pengukuran yang benar-benar pasti.
Tsunami Besar Menyapu Pesisir
Dahsyatnya Krakatau tidak berhenti pada ledakan. Runtuhnya sebagian tubuh gunung dan aktivitas vulkaniknya memicu tsunami besar yang menerjang pesisir Banten dan Lampung.
Gelombang tsunami menyapu permukiman di sepanjang pantai dan menyebabkan korban jiwa dalam jumlah sangat besar. Catatan sejarah menyebut lebih dari 36.000 orang meninggal, sebagian besar akibat tsunami.
Pulau-pulau di sekitar Krakatau juga mengalami perubahan besar. Sebagian besar tubuh gunung akhirnya runtuh dan tenggelam, meninggalkan kawasan kaldera yang kemudian menjadi lokasi munculnya gunung api baru yang dikenal sebagai Anak Krakatau.
Langit Dunia Berubah Warna
Salah satu dampak Krakatau yang menarik perhatian dunia terjadi jauh dari lokasi letusan. Abu dan aerosol vulkanik yang terlempar tinggi ke atmosfer menyebar mengikuti sirkulasi udara global.
Material tersebut memengaruhi cara cahaya Matahari melewati atmosfer. Akibatnya, selama beberapa bulan setelah letusan, masyarakat di berbagai wilayah dunia melaporkan matahari terbenam dengan warna merah dan jingga yang sangat mencolok.
Fenomena atmosfer tersebut juga dikaitkan dengan laporan mengenai Bulan yang tampak berwarna kebiruan atau kehijauan di sejumlah tempat.
Bukan berarti Bulan benar-benar berubah warna. Partikel vulkanik di atmosfer dapat menyaring dan menyebarkan sebagian panjang gelombang cahaya sehingga objek langit yang biasanya terlihat putih atau kekuningan dapat tampak memiliki warna yang tidak biasa dari permukaan Bumi.
Jejak Krakatau Sampai ke Berbagai Negara
Dampak letusan Krakatau bahkan terasa dalam pengamatan cuaca dan atmosfer di berbagai belahan dunia. Debu dan aerosol vulkanik yang berada di atmosfer turut memengaruhi warna langit dan kondisi atmosfer selama periode setelah letusan.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu contoh paling jelas bagaimana letusan gunung api besar dapat memberikan dampak lintas wilayah bahkan berskala global.
Lebih dari satu abad kemudian, Krakatau tetap menjadi pengingat bahwa aktivitas vulkanik di Indonesia memiliki potensi dampak yang sangat besar. Munculnya Anak Krakatau di kawasan bekas kaldera Krakatau juga menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik di Selat Sunda masih berlangsung.
Letusan Krakatau 1883 bukan sekadar kisah tentang gunung yang meledak. Peristiwa itu memperlihatkan bagaimana satu letusan dahsyat dapat mengubah bentang alam, memicu tsunami mematikan, mengguncang atmosfer, dan bahkan membuat langit dunia tampak berbeda.
(Reina)
