ITime.id – Ponorogo 21 September 2026 Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) genap berusia 100 tahun pada 20 September 2026. Satu abad perjalanan tersebut menjadi tonggak penting bagi salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki sejarah panjang di Indonesia.
Perjalanan Gontor ternyata tidak bermula secara tiba-tiba pada 1926. Jejak sejarahnya memiliki akar yang jauh lebih panjang dan berkaitan dengan perkembangan pesantren di Ponorogo, khususnya Pondok Tegalsari yang telah dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam pada abad ke-18.
Dari lingkungan Pondok Tegalsari, tradisi pendidikan dan keilmuan Islam berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mata rantai sejarah tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan yang pada akhirnya melahirkan Pondok Gontor.
Dari Lingkungan Sederhana
Pada masa awal perkembangannya, Gontor berada di lingkungan yang sederhana. Bahkan, kawasan tersebut pada masa lalu dikenal sebagai daerah yang masih berada di tengah hutan.
Kondisi itu tidak menjadi penghalang bagi para pendirinya untuk membangun lembaga pendidikan. Dengan semangat pendidikan dan perjuangan yang kuat, Gontor perlahan berkembang dan menarik perhatian masyarakat.
Tonggak penting dalam perjalanan Gontor kemudian hadir melalui tiga bersaudara yang dikenal sebagai Trimurti Pendiri Gontor, yaitu KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi.
Ketiganya memiliki peran besar dalam merumuskan dan mengembangkan sistem pendidikan Gontor. Mereka tidak hanya memikirkan pendidikan agama, tetapi juga berupaya membangun pendidikan yang mampu membekali santri menghadapi perubahan zaman.
Pendidikan dan Nilai Kehidupan
Dalam perjalanan panjangnya, Gontor berkembang dengan menempatkan pendidikan sebagai bagian dari pembentukan karakter. Kehidupan pesantren tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui berbagai aktivitas keseharian para santri.
Pendidikan kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, kehidupan bersama, serta penguatan nilai-nilai keislaman menjadi bagian dari proses pendidikan.
Karena itu, perjalanan Gontor selama satu abad bukan sekadar cerita mengenai bertambahnya usia sebuah lembaga pendidikan. Di dalamnya terdapat perjalanan manusia, perjuangan para pendidik, santri, alumni, dan masyarakat yang ikut menjadi bagian dari sejarahnya.
Memasuki Usia 100 Tahun
Genap satu abad pada 20 September 2026 menjadi momentum bagi Gontor untuk menengok kembali perjalanan panjang yang telah dilalui.
Dari akar sejarah Pondok Tegalsari, berkembang menjadi Pondok Gontor, hingga kemudian dikenal luas sebagai lembaga pendidikan Islam modern, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa sebuah institusi dapat bertahan dan berkembang ketika memiliki fondasi nilai yang kuat serta mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Satu abad juga menjadi pengingat bahwa generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk meneruskan nilai-nilai baik yang telah dibangun oleh para pendahulu.
Jejak KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi menjadi bagian penting dalam sejarah tersebut. Perjuangan Trimurti tidak berhenti pada masa mereka, tetapi diteruskan melalui generasi santri dan alumni yang kemudian berkiprah di berbagai bidang kehidupan.
Kini, ketika Gontor memasuki usia 100 tahun, perjalanan panjang itu menjadi bagian dari sejarah pendidikan Islam Indonesia.
Dari sebuah pondok yang tumbuh dalam kesederhanaan, Gontor berkembang menjadi lembaga pendidikan yang memiliki jaringan luas. Satu abad perjalanan tersebut sekaligus menjadi catatan tentang pentingnya pendidikan, keteladanan, kemandirian, dan kesinambungan nilai antargenerasi.
Satu abad Gontor bukan hanya tentang usia, tetapi tentang perjalanan panjang menjaga tradisi pendidikan sambil terus menghadapi perubahan zaman.
(Reina)
