iTime.id — Wonogiri 15 Oktober 2026 .Kemarau panjang yang menyebabkan menyusutnya debit air Waduk Gajah Mungkur (WGM), Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, kembali menyingkap jejak sejarah yang selama puluhan tahun tersembunyi di dasar waduk. Ratusan batu nisan dari kompleks makam kuno hingga peninggalan bangunan lama terlihat kembali seiring surutnya permukaan air.
Salah satu lokasi yang menarik perhatian warga adalah kompleks makam kuno di Dusun Sentono, yang dahulu berada di wilayah Desa Ngungkingsari, Kecamatan Wuryantoro. Makam tersebut merupakan bagian dari permukiman lama yang ikut tenggelam ketika Waduk Gajah Mungkur dibangun.
Warga sekitar, Mardi, mengatakan kompleks makam mulai terlihat sejak air waduk mengalami penyusutan. Seiring berjalannya waktu, bagian makam yang sebelumnya terendam kini semakin jelas terlihat.
“Sudah mulai nampak sejak awal bulan lalu. Ini airnya semakin surut, sehingga ini sudah keseluruhan makamnya terlihat,” ujar Mardi kepada detikJateng, Sabtu (10/10/2026).
Makam Kampung dengan Ratusan Batu Nisan
Dari keterangan warga, kompleks makam tersebut memiliki area yang cukup luas. Di bagian ujung barat masih terlihat sisa pondasi yang diduga merupakan tembok pembatas makam.
Tokoh masyarakat Kelurahan Wuryantoro, Suparso (77), menjelaskan bahwa makam itu dahulu merupakan pemakaman kampung yang cukup besar. Luasnya diperkirakan mencapai sekitar setengah lapangan sepak bola.
Menurut Suparso, batu nisan yang terdapat di lokasi terbuat dari batu berwarna putih dan berbentuk sederhana memanjang.
“Makanya itu makam dukuh, namanya Kampung Sentono di wilayah Desa Ngungkingsari. Makamnya cukup besar, mungkin separuhnya lapangan sepak bola,” jelasnya.
Kemunculan makam tersebut bukan sekadar fenomena alam akibat menyusutnya air waduk. Situs itu menjadi pengingat tentang kehidupan masyarakat yang pernah tumbuh di kawasan tersebut sebelum wilayahnya digunakan untuk pembangunan waduk.
Napak Tilas Warga ke Kampung Halaman
Desa Ngungkingsari merupakan salah satu wilayah permukiman yang kini berada di dasar Waduk Gajah Mungkur. Ketika pembangunan waduk berlangsung, sebagian masyarakat harus meninggalkan kampung halaman dan mengikuti program transmigrasi atau bedol desa ke sejumlah daerah di luar Jawa.
Mardi menuturkan, ketika air waduk surut, sejumlah warga keturunan maupun mantan penduduk kawasan yang tenggelam kembali mendatangi lokasi tersebut untuk mengenang kampung halaman mereka.
Kunjungan itu menjadi kesempatan bagi warga untuk melihat kembali tempat yang menyimpan kenangan keluarga dan sejarah kehidupan mereka pada masa lalu.
Fenomena ini sekaligus memperlihatkan bahwa di balik pembangunan infrastruktur besar, terdapat perjalanan hidup masyarakat yang harus beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan tempat tinggal.
Puluhan Tahun Lalu, Kawasan Ini Dikenal Subur
Suparso menjelaskan, proses transmigrasi warga berlangsung secara bertahap pada 1979 hingga 1982. Mereka diberangkatkan ke sejumlah wilayah, antara lain Bengkulu, Baturaja di Sumatera Selatan, Sitiung di Sumatera Barat, dan Rimbo Bujang di Jambi.
Dahulu, Desa Ngungkingsari memiliki sejumlah dukuh, termasuk Sentono, Badran, Ngungkingsari, Sawahan, Kertan, Duwet, Klupuk, Kelowong, dan Tumpang.
Setiap dukuh diperkirakan dihuni sekitar 150 kepala keluarga. Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup dari sektor pertanian karena tanah di kawasan tersebut dikenal subur.
Pada musim kemarau, warga menanam berbagai jenis sayuran, tomat, kacang-kacangan, dan singkong. Sementara pada musim hujan, lahan dimanfaatkan untuk menanam padi.
Hasil pertanian tersebut dijual ke Pasar Wuryantoro untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.
Bagi warga yang pernah tinggal di sana, kawasan yang kini menjadi dasar waduk bukan sekadar bentang alam. Tempat itu dahulu merupakan ruang kehidupan, tempat bekerja, membangun keluarga, serta menjalankan tradisi sosial dan budaya.
Pembangunan Waduk Mengubah Kehidupan Masyarakat
Pembangunan Waduk Gajah Mungkur berlangsung pada 1976 hingga 1981, pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Proyek tersebut mengakibatkan puluhan desa di tujuh kecamatan di Kabupaten Wonogiri harus ditenggelamkan untuk mendukung pembangunan waduk.
Sebagian warga menerima ganti rugi, sedangkan sebagian lainnya mengikuti program transmigrasi melalui skema bedol desa.
Suparso, yang kala itu berprofesi sebagai dalang sekaligus guru bahasa Jawa, turut merasakan dampak perubahan tersebut. Wilayah yang sebelumnya menjadi tempatnya menerima tanggapan pertunjukan wayang ikut hilang setelah kawasan itu ditenggelamkan.
Ia mengenang, sebelum pembangunan waduk, dirinya kerap mengisi acara khitanan, hajatan, bersih desa, hingga tradisi ruwahan di wilayah sekitar Ngungkingsari dan Nguntoronadi.
Hilangnya kampung-kampung tersebut tidak hanya mengubah bentang geografis Wonogiri, tetapi juga memengaruhi kehidupan sosial, mata pencaharian, dan ruang budaya masyarakat setempat.
Jejak Sejarah yang Perlu Dijaga
Munculnya kembali kompleks makam kuno saat Waduk Gajah Mungkur surut menjadi pengingat pentingnya menjaga ingatan kolektif dan sejarah lokal.
Peninggalan yang terlihat kembali dapat menjadi bahan dokumentasi sejarah, penelitian, serta sumber pengetahuan bagi generasi muda mengenai kehidupan masyarakat Wonogiri sebelum pembangunan waduk.
Meski demikian, keberadaan makam dan bangunan lama tersebut perlu disikapi dengan penghormatan. Masyarakat yang berkunjung sebaiknya menjaga kebersihan, tidak merusak batu nisan, serta tidak mengambil benda-benda yang diduga memiliki nilai sejarah.
Di sisi lain, penyusutan air waduk akibat kemarau juga menjadi perhatian tersendiri. Kondisi tersebut perlu dilihat tidak hanya dari sisi munculnya peninggalan masa lalu, tetapi juga dari dampaknya terhadap fungsi waduk, aktivitas nelayan, dan lingkungan sekitar.
Ketika air kembali naik, jejak-jejak yang kini terlihat mungkin akan terendam lagi. Namun, kisah tentang kampung yang pernah berdiri di kawasan tersebut tetap menjadi bagian dari sejarah Wonogiri yang patut dikenang dan didokumentasikan.
(Reina)
