ITIME.id .TANGERANG –23 Oktober 2026 Keberagaman bukan penghalang untuk belajar dan tumbuh bersama. Hal tersebut tergambar dalam kehidupan akademik Institut Agama Buddha Negeri (IABN) Sriwijaya Tangerang, yang menjadi ruang perjumpaan mahasiswa dari berbagai suku, budaya, dan enam agama yang diakui di Indonesia.
Momentum peluncuran IABN Sriwijaya Tangerang pada Rabu (21/10/2026) menjadi gambaran nyata bagaimana toleransi dapat dirawat melalui kehidupan sehari-hari, bukan sekadar menjadi slogan.
Suasana peluncuran kampus berlangsung meriah dengan penampilan kesenian, termasuk Tarian Gending Sriwijaya yang menyambut kedatangan Menteri Agama Nasaruddin Umar. Di balik kemeriahan tersebut, tersimpan pesan kuat tentang persatuan dalam keberagaman.
Mahasiswa dengan latar belakang keyakinan berbeda belajar di ruang kelas yang sama, menjalin persahabatan, serta berinteraksi tanpa menjadikan perbedaan sebagai sekat.
Bahkan, keberagaman juga terlihat dalam doa bersama yang dipanjatkan para dosen dari latar belakang agama yang berbeda. Pemandangan ini memperlihatkan bahwa lingkungan pendidikan dapat menjadi tempat tumbuhnya sikap saling menghormati.
Ruang Belajar untuk Saling Mengenal
Nasya, mahasiswa Program Studi Bisnis dan Manajemen Buddha yang beragama Islam, mengaku memperoleh pengalaman berharga selama menempuh pendidikan di kampus tersebut.
Tumbuh di lingkungan Islam sejak kecil, Nasya kini memiliki kesempatan mengenal lebih dekat beragam agama, suku, dan budaya melalui pertemanan di lingkungan kampus.
“Dari kecil saya berada di lingkungan Islam. Di sini, saya bisa mengenal banyak agama, suku, dan budaya, juga teman-teman dari berbagai daerah,” tuturnya.
Pengalaman serupa dirasakan Alina, mahasiswa Program Studi Pendidikan Konseling Buddha yang beragama Kristen. Ia menilai identitas sebuah perguruan tinggi tidak menjadi penghalang bagi mahasiswa berbeda keyakinan untuk belajar dan berkembang bersama.
Menurutnya, toleransi di lingkungan kampus terasa melalui sikap baik dan hubungan pertemanan yang terjalin dalam keseharian.
Keberagaman juga dirasakan Elfriana, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang beragama Katolik. Tinggal di asrama bersama mahasiswa lain membuatnya merasakan secara langsung kehidupan dalam lingkungan yang majemuk.
Ia mengungkapkan, kampus menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing.
Mahasiswa Muslim memiliki musala, mahasiswa Buddha memiliki Dhammasala atau ruang ibadah umat Buddha, sementara mahasiswa Kristen dan Katolik juga mendapatkan ruang khusus untuk beribadah.
Fasilitas tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang menghargai kebebasan beragama dan kenyamanan seluruh mahasiswa.
Toleransi Hadir dalam Sikap Sehari-hari
Bagi Ni Made, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Buddha yang beragama Hindu, pengalaman berkuliah di IABN Sriwijaya Tangerang juga menghadirkan rasa diterima dan dihargai.
Ia merasakan sikap mengayomi dari teman-teman, pegawai, hingga dosen terhadap mahasiswa yang berbeda keyakinan.
“Saya sangat dihargai di sini. Teman-teman, pegawai, dan dosen sangat mengayomi kami yang non-Buddha, baik melalui perilaku maupun sikap mereka,” ungkapnya.
Pengalaman para mahasiswa tersebut memperlihatkan bahwa toleransi tidak cukup hanya diajarkan melalui teori, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, mulai dari menghargai perbedaan, memberi ruang beribadah, hingga membangun persahabatan tanpa diskriminasi.
Kehidupan di IABN Sriwijaya Tangerang menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun dari keberagaman yang membutuhkan komitmen bersama untuk menjaganya.
Dari ruang kelas hingga lingkungan asrama, semangat hidup berdampingan dapat menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam merawat persatuan, memperkuat kerukunan, dan membangun masa depan bangsa yang damai.
Salam toleransi, salam persatuan dalam keberagaman.
(Reina)
