ITIME.id .Jawa Barat —4 November 2026 . Bagi masyarakat Tatar Sunda, nama Prabu Siliwangi sudah melekat kuat dalam ingatan sebagai sosok raja legendaris yang bijaksana, sakti, dan sangat mengayomi rakyatnya. Nama besar ini merujuk pada Sri Baduga Maharaja, penguasa Kerajaan Pakuan Pajajaran yang memimpin pada masa keemasan kerajaan Sunda pada abad ke‑15 hingga awal abad ke‑16.
Diceritakan dalam tradisi lisan Pantun Sunda, semasa muda sosok ini dikenal dengan nama Raden Pamanah Rasa, sosok pangeran yang pandai seni, pencak silat, serta memiliki pembawaan yang disukai banyak orang. Setelah berhasil merebut kembali takhta yang sempat hilang, ia naik tahta dan membawa Kerajaan Pajajaran mencapai masa kemakmuran, dengan prinsip hidup yang sangat terkenal: Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh, yaitu saling menyayangi, saling mengajarkan, dan saling merawat sesama warga.
Dalam legenda masyarakat Sunda, sosok Prabu Siliwangi juga kerap dikaitkan dengan harimau loreng, simbol kesaktian dan pelindung tanah Sunda. Banyak versi cerita rakyat yang beredar, salah satunya menyebutkan saat masa‑masa sulit kerajaan, Prabu Siliwangi menghilang dan dipercaya menjadi penjaga spiritual di wilayah pegunungan seperti Gunung Salak, Leuweung Sancang, dan Gunung Tampomas, sehingga hingga saat ini terdapat banyak petilasan yang dikaitkan dengan jejak perjalanan beliau .
Hingga zaman modern, nama Prabu Siliwangi masih diabadikan sebagai nama Kodam III Siliwangi wilayah Jawa Barat, menjadi bukti bahwa nilai kepemimpinan, keberanian, dan rasa cinta terhadap tanah leluhur dari sosok legendaris ini tetap diwariskan ke generasi muda Indonesia.
Cerita Prabu Siliwangi terdiri dari campuran catatan sejarah dan legenda rakyat, sehingga terdapat banyak versi cerita yang berkembang di berbagai daerah Jawa Barat.
(Reina)
