Itime.id. Bandung, 6 Juli 2026 – Sering kali menyimpan sisi paling kelam dari ambisi manusia. Ketika ideologi murni bercampur dengan perebutan kekuasaan mutlak, kemanusiaan sering kali menjadi korban pertama.
Mari kita bedah rangkaian tragedi sadis, brutal, dan berdarah tersebut.
*1. Jakarta, 1965: Malam Jahanam dan Kudeta Berdarah*
*Detik-Detik Ketegangan:*
Jakarta pada pertengahan 1965 ibarat tong mesiu yang siap meledak. Inflasi meroket, sementara gesekan politik antara PKI, Angkatan Darat, dan Presiden Soekarno berada di titik nadir.
30 September 1965 (Tengah Malam): Sunyi malam ibu kota pecah. Truk-truk militer bergerak dalam senyap. Pasukan Cakrabirawa yang telah terinfiltrasi mengepung rumah-rumah para jenderal tinggi Angkatan Darat.
Darah di Lubang Buaya: Dalam hitungan jam, enam jenderal dan satu perwira pertama diculik. Beberapa langsung dieksekusi di tempat, sementara sisanya dibawa ke sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya. Tragis, brutal, dan berlangsung begitu cepat.
Efek Domino: Pembunuhan para jenderal memicu serangan balik yang masif. Propaganda menyebar dan memicu histeria massa. Operasi pembersihan dilakukan tanpa ampun di seluruh negeri. Dalam bulan-bulan berikutnya, ratusan ribu orang yang dituduh sebagai simpatisan PKI tewas dalam salah satu pembantaian massal paling kelam di tanah air.
*2. Phnom Penh, 1975: Tahun Nol dan Ladang Pembantaian (Killing Fields)*
*Kejatuhan Rezim Lon Nol:*
April 1975, setelah bertahun-tahun terjebak dalam perang saudara dan pengeboman rahasia Amerika Serikat, rezim militer Lon Nol yang korup akhirnya runtuh. Pasukan gerilya Khmer Merah memasuki Phnom Penh. Rakyat bersorak, mengira kedamaian telah tiba. Mereka salah besar.
Pengosongan Kota Secara Massal: Di bawah komando Saloth Sar (yang dikenal sebagai Pol Pot), Khmer Merah mendeklarasikan “Tahun Nol”, yaitu pembersihan total masa lalu demi mewujudkan utopia agraria yang ekstrem. Hanya dalam hitungan jam, jutaan penduduk kota dipaksa keluar menuju pedesaan dengan berjalan kaki. Siapa pun yang menolak langsung ditembak.
Genosida terhadap Kaum Intelektual: Pol Pot membenci modernitas. Siapa pun yang berpendidikan, memakai kacamata, atau mampu berbahasa asing dianggap sebagai musuh revolusi.
Ladang Pembantaian: Jutaan orang dipaksa bekerja hingga mati kelaparan atau dibawa ke Choeung Ek (Killing Fields). Demi menghemat peluru, mereka dieksekusi menggunakan cangkul, parang, atau kapak. Lebih dari 1,7 juta nyawa melayang—sekitar seperempat populasi Kamboja musnah dalam waktu singkat.
*3. Beijing, 1966: Revolusi Kebudayaan dan Amukan Pengawal Merah*
*Ketika Ideologi Menjadi Senjata:*
Mao Zedong merasa posisinya di puncak Partai Komunis Tiongkok terancam setelah kegagalan ekonomi Great Leap Forward. Untuk merebut kembali kendali mutlak, ia meluncurkan Revolusi Kebudayaan.
Anak Melawan Orang Tua: Mao mengerahkan jutaan pemuda fanatik yang disebut Pengawal Merah (Red Guards). Buku Merah Kecil menjadi kitab suci mereka. Tugas mereka hanya satu: menghancurkan “Empat Hal Tua” (Kebiasaan, Kebudayaan, Adat Istiadat, dan Pemikiran Lama).
Anarki Total: Tiongkok jatuh ke dalam histeria massal. Para guru, profesor, dan pejabat pemerintah diarak di jalanan, dipermalukan di depan publik, disiksa, hingga dipukuli sampai mati oleh murid-murid mereka sendiri. Hubungan darah tidak lagi berarti; anak melaporkan orang tua, dan tetangga mengkhianati tetangga.
Warisan Kelam: Jutaan nyawa melayang akibat eksekusi langsung, bunuh diri massal karena tekanan mental, serta kelaparan ekstrem. Artefak sejarah yang telah berusia ribuan tahun dihancurkan tanpa sisa dalam amukan ideologis yang berlangsung selama satu dekade.
*Benang Merah Tragedi*
Ketiga peristiwa ini menunjukkan pola yang sama: ketika sebuah ideologi atau ambisi kekuasaan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan, manusia dapat dengan mudah mereduksi sesamanya menjadi sekadar “angka” atau “musuh” yang harus dimusnahkan. Jutaan jiwa tak berdosa lenyap dalam pusaran sejarah yang bergerak terlalu cepat, meninggalkan luka yang mendalam bagi generasi berikutnya.
Tabe.
Pewarta: FAD
