ITime.id .BANDUNG – 20 Agustus 2026 Upaya mengatasi persoalan sampah terus dikembangkan melalui pendekatan inovatif yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan limbah, tetapi juga menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Salah satu inovasi datang dari dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) yang mengembangkan metode pengolahan sampah berbasis maggot atau larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF). Metode tersebut dikombinasikan dengan pengelolaan peternakan ayam petelur serta sistem bank sampah.
Konsep ini memanfaatkan sampah organik sebagai sumber pakan maggot. Larva BSF memiliki kemampuan mengurai berbagai jenis limbah organik sehingga volume sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir dapat ditekan.
Setelah melalui proses budidaya, maggot dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan berprotein bagi ternak, termasuk ayam petelur. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak berhenti pada proses pengurangan limbah, tetapi juga terhubung dengan kegiatan peternakan yang memiliki nilai ekonomi.
Sementara itu, sampah anorganik dipilah melalui mekanisme bank sampah. Material seperti plastik, kertas, kardus, dan berbagai bahan yang masih memiliki nilai jual dapat dikumpulkan, dipilah, kemudian disalurkan ke pihak yang dapat mendaur ulang atau memanfaatkannya kembali.
Model tersebut menciptakan sebuah ekosistem pengelolaan sampah yang saling terhubung. Sampah organik diarahkan untuk budidaya maggot, maggot dapat mendukung kebutuhan pakan ternak, sedangkan sampah anorganik masuk ke rantai pengelolaan melalui bank sampah.
Pendekatan ini dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan di tingkat masyarakat karena menggabungkan aspek lingkungan, peternakan dan pemberdayaan ekonomi. Selain mengurangi timbulan sampah, hasil budidaya maggot dan peternakan juga berpeluang menjadi sumber pendapatan tambahan.
Pengembangan teknologi pengolahan sampah semacam ini menjadi penting di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Persoalan sampah tidak cukup hanya diselesaikan dengan mengangkut limbah dari permukiman menuju tempat pembuangan akhir, tetapi perlu dimulai dari pemilahan dan pengolahan sejak dari sumbernya.
Melalui kombinasi maggot, peternakan ayam petelur dan bank sampah, konsep yang dikembangkan dosen ITB tersebut menawarkan gambaran bahwa sampah dapat diubah dari persoalan lingkungan menjadi bagian dari rantai ekonomi sirkular.
Jika diterapkan secara konsisten dan didukung edukasi masyarakat, model ini berpotensi menjadi salah satu alternatif pengelolaan sampah berbasis komunitas yang lebih produktif sekaligus ramah lingkungan.
(Reina)
