iTime..id.BANYUMAS – 20 Agustus 2026 .Nama Raden Mas (RM) Margono Djojohadikusumo kembali menjadi perhatian publik setelah munculnya usulan agar kakek Presiden Prabowo Subianto tersebut dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
RM Margono bukan sekadar dikenal sebagai kakek dari Presiden Prabowo. Ia merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan dan pembangunan ekonomi Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Pemerintah Kabupaten Banyumas bersama sejumlah organisasi dan tokoh masyarakat telah mendorong pengusulan RM Margono sebagai Pahlawan Nasional. Kementerian Sosial menyatakan usulan tersebut perlu melalui proses kajian dan mekanisme sesuai ketentuan yang berlaku.
Dari Banyumas hingga panggung perjuangan nasional
RM Margono Djojohadikusumo berasal dari Banyumas, Jawa Tengah. Kiprahnya tidak hanya berada di bidang ekonomi, tetapi juga bersentuhan dengan perjuangan politik dan pembentukan fondasi negara Indonesia.
Dalam berbagai kajian sejarah, RM Margono dikenal sebagai tokoh yang memiliki peran dalam membangun fondasi perekonomian Indonesia setelah kemerdekaan. Ia juga pernah menjadi anggota BPUPKI dan kemudian dipercaya menduduki sejumlah posisi penting dalam pemerintahan.
Salah satu warisan terbesarnya adalah keterlibatannya dalam pendirian Bank Negara Indonesia (BNI). Lembaga tersebut menjadi salah satu fondasi penting bagi sistem keuangan Indonesia yang baru berdiri sebagai negara merdeka.
Dipercaya Bung Karno saat para tokoh nasional ditangkap
Dalam buku yang memuat catatan pengalaman Prabowo Subianto, disebutkan bahwa RM Margono pernah dipercaya Soekarno untuk melanjutkan perjuangan ketika sejumlah tokoh nasionalis ditangkap dan dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda.
Catatan tersebut menyebutkan bahwa menjelang Soekarno dibuang ke Ende, Nusa Tenggara Timur, Margono mendapat mandat untuk membentuk Partai Indonesia Raya atau Parindra dan menjadi ketuanya. Mandat tersebut kemudian dikembalikan kepada Soekarno setelah sang proklamator kembali dari masa pembuangan.
Kisah tersebut menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan keluarga Djojohadikusumo yang sejak masa perjuangan kemerdekaan telah bersentuhan langsung dengan pergulatan politik dan pembangunan Indonesia.
Keluarga ikut merasakan kerasnya pergolakan politik
Jejak perjuangan keluarga ini kemudian berlanjut pada generasi berikutnya. Dua putra RM Margono, yaitu Letnan Subianto Djojohadikusumo dan Taruna Sujono Djojohadikusumo, disebut Prabowo sebagai bagian dari angkatan 1945.
Keduanya gugur dalam Pertempuran Lengkong di Tangerang pada 25 Januari 1946 ketika para taruna berusaha merebut senjata dari tentara Jepang.
Sementara itu, generasi berikutnya, Sumitro Djojohadikusumo, dikenal sebagai ekonom terkemuka Indonesia dan ayah dari Prabowo Subianto.
Bukan RM Margono yang diasingkan ke luar negeri
Ada hal penting yang perlu diluruskan. Narasi mengenai “kakek Prabowo diasingkan ke luar negeri” dapat menimbulkan kekeliruan.
Sumber keluarga yang diterbitkan Yayasan Arsari Djojohadikusumo mencatat bahwa Margono Djojohadikusumo wafat pada 25 Juli 1978, sementara pengalaman pengasingan ke luar negeri yang disebut dalam catatan tersebut terjadi pada generasi keluarga berikutnya.
Dengan demikian, jika berita membahas perjalanan keluarga Prabowo, istilah yang lebih tepat adalah keluarga Djojohadikusumo mengalami masa pengasingan di luar negeri, bukan RM Margono sendiri diasingkan ke luar negeri.
Usulan Pahlawan Nasional masih berproses
Pengusulan RM Margono sebagai Pahlawan Nasional muncul dari berbagai kalangan. Pemerintah menyatakan kontribusinya di bidang ekonomi dan pembangunan lembaga keuangan negara menjadi salah satu alasan utama pengusulan tersebut.
Namun, proses pemberian gelar tersebut tidak otomatis karena statusnya sebagai kakek Presiden Prabowo. Bahkan pada 2025, salah satu pihak yang terlibat dalam pengusulan menyatakan prosesnya ditunda atas permintaan keluarga agar tidak menimbulkan anggapan bahwa gelar tersebut diberikan karena Prabowo sedang menjabat sebagai Presiden.
Jejak RM Margono dengan demikian bukan hanya tentang hubungan darah dengan seorang presiden. Ia merupakan bagian dari sejarah panjang perjuangan bangsa—mulai dari masa pergerakan, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, hingga membangun fondasi perekonomian negara yang baru lahir.
Kini, nama RM Margono kembali diperbincangkan. Bagi para pengusul, penghargaan sebagai Pahlawan Nasional diharapkan menjadi bentuk pengakuan atas jasa dan pengabdiannya kepada Indonesia, terlepas dari kenyataan bahwa cucunya kini menjadi Presiden Republik Indonesia.
(Reina)
