ITime.id .BOYOLALI, Jawa Tengah – 29 Agustus 2026 . Kemarau panjang mulai memberikan dampak serius bagi masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Krisis air bersih membuat warga Desa Ngaren, Kecamatan Juwangi, harus berjuang lebih keras untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Kondisi yang memprihatinkan itu memaksa warga masuk ke kawasan hutan milik Perhutani untuk mencari sumber air yang masih tersisa. Mereka harus berjalan kaki sekitar 1 hingga 2 kilometer melalui jalan setapak dengan kondisi terjal dan naik turun.
Dengan membawa ember, jeriken hingga galon bekas, warga menyusuri kawasan hutan untuk menuju sebuah sumur yang hingga kini masih memiliki persediaan air. Air tersebut kemudian digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari memasak, minum, mencuci hingga mandi.
Salah seorang warga, Adiyanto, mengatakan kesulitan mendapatkan air bersih sudah dirasakan selama kurang lebih dua bulan. Sumur-sumur milik warga mulai mengering akibat kemarau panjang.
Menurutnya, mengambil air ke dalam hutan kini menjadi rutinitas warga, terutama pada pagi dan sore hari. Meski pemerintah telah menyalurkan bantuan air bersih, distribusi tersebut belum dilakukan setiap hari.
“Memang ada bantuan droping air, tetapi tidak setiap hari. Sementara kebutuhan air kan setiap hari,” ujar Adiyanto.
Kekeringan Jadi Persoalan Tahunan
Kondisi kekurangan air bukan persoalan baru bagi masyarakat di wilayah utara Boyolali. Setiap musim kemarau, sejumlah desa kembali menghadapi persoalan serupa.
Selain Juwangi, wilayah yang menjadi perhatian karena terdampak kekeringan antara lain Kecamatan Wonosegoro dan Wonosamodro. BPBD Boyolali terus melakukan pendistribusian air bersih ke wilayah yang mengalami kesulitan air. Hingga akhir Agustus 2026, total air bersih yang telah didistribusikan disebut telah mencapai lebih dari dua juta liter.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Boyolali juga telah melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan. Hingga awal Agustus, distribusi bantuan air bersih telah menjangkau tujuh kecamatan, 20 desa/kelurahan dan 41 dukuh, dengan total 135 tangki atau sekitar 590 ribu liter air yang disalurkan kepada 9.696 jiwa terdampak.
Warga Berharap Ada Solusi Permanen
Warga berharap penanganan kekeringan tidak hanya mengandalkan bantuan air bersih melalui mobil tangki. Mereka menginginkan adanya sumber air permanen yang dapat digunakan ketika musim kemarau kembali datang.
Salah satu harapan warga adalah pembangunan sumur bor di wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan. Dengan adanya sumber air permanen, warga tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh masuk ke kawasan hutan setiap kali musim kemarau tiba.
Kondisi warga Desa Ngaren menjadi gambaran betapa panjangnya perjuangan masyarakat di daerah rawan kekeringan untuk mendapatkan kebutuhan paling mendasar: air bersih.
Kemarau yang berkepanjangan bukan hanya berdampak terhadap kehidupan rumah tangga, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas pertanian dan peternakan masyarakat. Karena itu, ketersediaan sumber air yang berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak agar warga tidak terus-menerus menghadapi persoalan yang sama setiap musim kemarau.
( Reina)
