ITime.id .JAKARTA — 19 September 2026 .Fenomena El Niño yang kini berada pada kategori sangat kuat turut memperkuat kondisi kering di berbagai wilayah Indonesia. Dampaknya mulai terlihat dari panjangnya periode tanpa hujan, meningkatnya risiko kekeringan, hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut El Niño masih memberikan dampak signifikan terhadap kondisi atmosfer Indonesia. Pada Dasarian I September 2026, indeks ENSO rata-rata tiga bulanan berada pada angka 2,6 yang menunjukkan intensitas El Niño sangat kuat. Sementara anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 tercatat +2,76°C.
Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan musim kemarau yang masih berlangsung di sebagian besar wilayah Indonesia. BMKG mencatat sekitar 80,7 persen Zona Musim (ZOM) atau 564 ZOM telah memasuki musim kemarau.
Hujan Tak Kunjung Datang
Salah satu dampak yang paling dirasakan masyarakat adalah semakin panjangnya Hari Tanpa Hujan (HTH). Sejumlah wilayah Indonesia bagian selatan bahkan telah mengalami HTH kategori ekstrem, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan.
BMKG pada pertengahan September mencatat kondisi ekstrem tersebut terjadi di sejumlah wilayah Sumatra bagian selatan, sebagian besar Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, Maluku, Bali, Nusa Tenggara hingga Papua Selatan.
Di sejumlah daerah, periode tanpa hujan bahkan telah menembus lebih dari 100 hari. Monitoring BMKG menunjukkan, misalnya, wilayah Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami HTH hingga 131 hari pada pemantauan Dasarian I September.
Kondisi tersebut berpotensi menekan ketersediaan air, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun sektor pertanian dan kegiatan ekonomi masyarakat.
Ancaman Karhutla dan Kabut Asap
Kondisi atmosfer yang kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Vegetasi yang kehilangan kelembapan lebih mudah terbakar, sementara minimnya hujan membuat api lebih sulit dipadamkan secara alami.
Dalam periode 7–16 September 2026, BMKG mencatat ribuan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di sejumlah wilayah. Konsentrasi terbesar antara lain berada di Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Papua Selatan.
BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi kering pada September menjadi salah satu fase yang membutuhkan kewaspadaan tinggi terhadap karhutla dan penyebaran asap.
El Niño Diperkirakan Bertahan hingga 2027
Ancaman kondisi kering belum sepenuhnya berakhir. BMKG memperkirakan El Niño dapat bertahan hingga awal 2027. Bahkan, sebelumnya BMKG menyebut fenomena tersebut berpotensi bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga menyatakan El Niño telah terbentuk dengan kuat dan diperkirakan bertahan hingga Februari 2027. WMO mengingatkan bahwa El Niño yang sangat kuat dapat mengubah pola curah hujan dan suhu di berbagai wilayah dunia.
Namun, El Niño bukan berarti seluruh Indonesia akan mengalami kondisi tanpa hujan secara seragam. BMKG masih mencatat adanya hujan sedang hingga sangat lebat secara lokal di sejumlah wilayah. Pada 14–16 September, misalnya, hujan lebat masih terjadi di Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Utara, Sumatera Utara dan Papua.
Karena itu, masyarakat diminta tetap mengikuti informasi cuaca dan iklim terbaru dari BMKG. Kewaspadaan terhadap penggunaan air, potensi kekeringan, kebakaran lahan serta dampak kabut asap menjadi penting, terutama bagi wilayah yang mengalami HTH panjang.
Dengan kondisi El Niño yang masih sangat kuat, periode kemarau panjang di sejumlah daerah menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan tidak hanya diperlukan ketika bencana terjadi, tetapi juga sejak tanda-tanda kekeringan mulai muncul.
(Reina)
