ITime.id .YOGYAKARTA — 19 September 2026 .Riset pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) mulai mendapat perhatian dari dunia internasional. Salah satu inovasi yang tengah dijajaki untuk dikembangkan di Afrika adalah padi amfibi Gamagora 7, varietas yang dikembangkan tim peneliti UGM untuk mendukung pertanian di wilayah dengan keterbatasan air.
Peluang tersebut mengemuka dalam kunjungan Namibia University of Science and Technology (NUST) ke UGM pada 17 September 2026. Pertemuan yang berlangsung di Gedung Pusat UGM itu sekaligus membahas penguatan kerja sama kedua perguruan tinggi melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU).
Kerja sama tersebut mencakup pertukaran pengetahuan, pengembangan kapasitas teknis, pendidikan, teknologi, hingga bidang pertanian. Salah satu agenda yang mendapat perhatian adalah peluang pengembangan padi Gamagora 7 di Namibia.
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kemitraan UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, mengatakan UGM terbuka untuk mengembangkan kerja sama dengan NUST dalam berbagai bidang.
Menurut Danang, kerja sama tidak hanya diarahkan pada pertanian, tetapi juga teknologi, kesehatan, dan pendidikan. Ia berharap pembahasan dengan NUST dapat segera diarahkan pada program yang konkret dan dapat diimplementasikan.
Padi Amfibi untuk Wilayah Minim Air
Di bidang pertanian, Gamagora 7 menjadi salah satu inovasi yang berpotensi dikembangkan di Namibia. Padi tersebut dikembangkan sebagai padi amfibi yang ditujukan untuk wilayah dengan kondisi keterbatasan air.
UGM saat ini juga tengah merencanakan produksi Gamagora dalam skala yang lebih besar.
“Kami memiliki padi amfibi yang dikembangkan untuk daerah yang mengalami kekurangan air. Saat ini kami sedang merencanakan produksi dalam skala yang lebih besar,” ujar Danang.
Menurutnya, peluang pemanfaatan inovasi tersebut tidak harus terbatas di lingkungan perguruan tinggi. Jika pengembangannya berjalan baik, teknologi dan inovasi pertanian tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Namibia.
NUST Siapkan Kampus Pertanian
Ketertarikan NUST terhadap pengalaman UGM juga berkaitan dengan rencana pembangunan kampus satelit di Namibia. Kampus cabang tersebut direncanakan berada di luar ibu kota dan akan berfokus pada bidang pertanian serta sumber daya alam.
Deputy Vice Chancellor for Teaching and Learning NUST, Prof. Teresia Kaulihowa, mengatakan pihaknya telah mengidentifikasi Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Pertanian UGM sebagai salah satu mitra utama dalam pengembangan kampus tersebut.
NUST ingin mempelajari pengalaman UGM, khususnya dalam pengembangan infrastruktur pendidikan dan pertanian, laboratorium, peralatan khusus, serta penerapan teknologi modern di bidang pertanian.
“Kami ingin belajar dari pengalaman UGM, khususnya mengenai infrastruktur, peralatan khusus, dan bagaimana teknologi modern dapat diintegrasikan ke dalam bidang pertanian,” tutur Teresia.
Kerja Sama Meluas ke Teknologi Kesehatan dan AI
Pembahasan UGM dan NUST tidak hanya menyentuh bidang pertanian. Kedua institusi juga menjajaki kolaborasi di bidang biomedical engineering atau teknik biomedis.
NUST menunjukkan ketertarikan terhadap pengembangan teknologi biomedis, sementara UGM memiliki pengalaman dalam mengembangkan hasil riset menjadi produk teknologi kesehatan.
Selain itu, pertukaran pengetahuan juga mencakup digitalisasi pendidikan dan pengelolaan universitas. Beberapa hal yang dibahas antara lain penerapan learning management system (LMS), otomasi proses akademik, pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), serta peluang pembelajaran bersama secara daring.
Kolaborasi pendidikan juga berpeluang dikembangkan untuk program magister dan doktor.
Melalui kunjungan tersebut, UGM dan NUST mulai menjajaki bentuk kerja sama yang lebih konkret, mulai dari benchmarking, pertukaran pengetahuan, penguatan kapasitas teknis, pengembangan kampus dan kurikulum, hingga pembangunan laboratorium serta penyediaan peralatan pertanian.
Jika kerja sama ini terealisasi, inovasi pertanian UGM seperti Gamagora 7 berpeluang menjadi bagian dari pertukaran teknologi dan pengetahuan antara Indonesia dan Namibia, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan riset perguruan tinggi Indonesia di tingkat internasional.
(Reina)
