ITime.id .YUNNAN, CHINA — 19 September 2026:.Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) membawa 20 kepala desa dari berbagai daerah di Indonesia untuk mempelajari praktik pembangunan pedesaan di Provinsi Yunnan, China.
Kegiatan benchmarking yang berlangsung pada 9–15 September 2026 tersebut menjadi sarana pembelajaran mengenai revitalisasi pedesaan, pengembangan ekonomi lokal, inovasi pertanian, hingga hilirisasi potensi unggulan desa.
Delegasi Indonesia dipimpin Kepala Badan Pengembangan dan Penguatan Inovasi (BPI) Kemendes PDT Mulyadin Malik, didampingi Kepala Biro Hubungan Masyarakat Andi Nita Arie bersama tim pendamping.
Mulyadin mengatakan, pengalaman selama berada di Yunnan memberikan berbagai inspirasi yang dapat disesuaikan dengan kondisi desa-desa di Indonesia.
Menurutnya, pembangunan desa tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik. Desa juga perlu memiliki kemampuan dalam mengelola potensi lokal agar mampu menciptakan nilai tambah dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Desa harus menjadi aktor utama pembangunan. Pengalaman di Yunnan menunjukkan potensi lokal dapat menghasilkan nilai tambah ketika didukung inovasi, kelembagaan yang kuat, dan kolaborasi berbagai pihak,” ujar Mulyadin dalam keterangan tertulis, Kamis (17/9/2026).
Selama kunjungan, para kepala desa mempelajari berbagai model pembangunan yang mengintegrasikan sektor ekonomi, lingkungan, budaya, pertanian, dan pemberdayaan masyarakat.
Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Desa Haiyan, yang menjadi contoh revitalisasi pedesaan dengan menggabungkan pelestarian budaya, pengelolaan lingkungan, dan pengembangan ekonomi berbasis masyarakat.
Pembelajaran kemudian dilanjutkan di Xishuangbanna. Delegasi mengunjungi kawasan industri kopi di Pubwen untuk melihat bagaimana komoditas pertanian dikembangkan dan dihubungkan dengan sektor pariwisata serta ekonomi kreatif.
Para peserta juga mempelajari pengembangan kerja sama antardesa di Kecamatan Menghan melalui konsep “Tiga Man”. Model tersebut menekankan kolaborasi antardesa dalam membangun industri sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
Di Kabupaten Menghai, delegasi mengunjungi Perkebunan Teh Kuno Hekai. Peserta melihat bagaimana komoditas teh dikembangkan dengan tetap mempertahankan warisan budaya dan menjaga keberlanjutan sumber daya alam.
Pembelajaran mengenai hilirisasi juga dilakukan melalui kunjungan ke pusat pengolahan jamur liar. Para kepala desa mempelajari rantai nilai komoditas, mulai dari pemanenan berkelanjutan, penyortiran, pengolahan, hingga pemasaran produk bernilai tambah ke pasar internasional.
Selain itu, delegasi mengamati pengembangan pusat perdagangan modern dan pasar bunga sebagai bagian dari ekosistem pemasaran produk pertanian dan usaha masyarakat.
Kemendes PDT berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bekal bagi 20 kepala desa untuk mengembangkan inovasi sesuai potensi wilayah masing-masing.
Adaptasi praktik pembangunan tersebut dapat mencakup penguatan tata kelola desa, pengembangan komoditas unggulan, hilirisasi produk, pemberdayaan masyarakat, ekonomi kreatif, hingga pengembangan wisata berbasis potensi lokal.
Melalui kegiatan benchmarking ini, Kemendes PDT mendorong pengembangan desa yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penguatan ekonomi masyarakat, inovasi, pelestarian lingkungan, dan keberlanjutan pembangunan desa.
(Reina)
