ITime.id —Sakatiga 23 September 2026 .Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun, apalagi menuduh profesi wartawan. Ini semata-mata sebuah pengingat bagi kita semua yang berada di dunia jurnalistik agar selalu berhati-hati dalam menjalankan tugas.
Belakangan, persoalan sidak atau penelusuran terkait BBM menjadi perhatian di berbagai tempat. Bagi wartawan, melakukan kontrol sosial dan mencari informasi merupakan bagian dari tugas jurnalistik. Namun, ada batas yang harus dipahami agar kegiatan tersebut tidak justru membawa seseorang masuk ke persoalan yang lebih besar.
Jangan sampai karena tergiur uang, fasilitas, kedekatan dengan pihak tertentu atau gaya hidup, seorang wartawan lupa menjaga nama baik profesinya.
Kartu Pers dan KTA memang menjadi identitas bahwa seseorang bekerja di bidang jurnalistik. Tetapi keduanya bukanlah tameng untuk melakukan tindakan di luar kewenangan jurnalistik.
Pengetahuan tentang hukum juga sangat penting. Jangan merasa sudah memahami hukum hanya karena sering berhubungan dengan orang yang dianggap mengerti hukum. Wartawan tetap perlu belajar, memahami aturan dan mengetahui batas-batas kewenangannya.
Sebab ketika sebuah persoalan sudah masuk ke ranah hukum, yang menghadapi akibatnya bukan hanya diri sendiri. Keluarga, rekan kerja, media tempat bernaung, bahkan nama baik profesi jurnalistik dapat ikut terkena dampaknya.
Jangan Menukar Harga Diri dengan Keuntungan Sesaat
Uang bisa dicari kembali. Pekerjaan masih bisa diperbaiki. Tetapi apabila kepercayaan dan nama baik sudah rusak, mengembalikannya tidak selalu mudah.
Karena itu, kepada seluruh rekan wartawan dan wartawati, mari kita jadikan berbagai persoalan yang pernah terjadi sebagai pelajaran.
Jika mendapatkan informasi mengenai dugaan penyimpangan BBM, lakukan sesuai koridor jurnalistik. Kumpulkan informasi, verifikasi, konfirmasi kepada pihak terkait dan sajikan fakta secara berimbang.
Tidak perlu menjadi aparat penegak hukum. Tidak perlu mengambil tindakan yang bukan kewenangan wartawan.
Jika memang ditemukan dugaan pelanggaran hukum, biarkan aparat yang berwenang melakukan proses sesuai aturan.
Jangan Sampai Kita Hanya Menjadi Alat
Wartawan juga perlu berhati-hati terhadap siapa pun yang mengajak atau memberikan informasi untuk melakukan sidak BBM.
Kenali kepentingannya. Pastikan informasi yang diberikan benar. Jangan sampai tanpa disadari kita hanya dijadikan alat untuk kepentingan pihak tertentu.
Apalagi jika ada iming-iming uang atau keuntungan pribadi.
Di situlah pentingnya menjaga independensi.
Wartawan harus berani berkata tidak terhadap sesuatu yang dapat merusak profesi, keselamatan, keluarga dan masa depan.
Jadikan Ini Sebagai Pengingat
Tulisan ini bukan untuk menyudutkan siapa pun. Justru sebaliknya, ini adalah ajakan untuk saling mengingatkan.
Kita semua bisa salah. Kita semua bisa tergoda. Tetapi kita juga masih bisa memilih untuk berhenti sebelum persoalan menjadi lebih besar.
Mari menjadi wartawan yang mencari berita, bukan mencari masalah.
Mari menjadi wartawan yang berani mengungkap fakta, bukan menjadi tameng kepentingan orang lain.
Mari menjaga profesi dengan ilmu, etika dan tanggung jawab.
Jangan karena keuntungan sesaat, masa depan dipertaruhkan. Jangan karena merasa dekat dengan orang tertentu, kita lupa bahwa hukum memiliki aturan. Dan jangan karena ingin terlihat hebat, kita kehilangan harga diri.
Semoga setiap rekan wartawan dan wartawati selalu diberikan kebijaksanaan dalam menjalankan tugas, dijauhkan dari pergaulan yang membawa keburukan, serta diberikan keberanian untuk memilih jalan yang benar.
Profesi boleh menjadi jalan mencari nafkah, tetapi harga diri, keselamatan dan nama baik tetap harus menjadi pegangan.
Karena pada akhirnya, yang kita pertanggungjawabkan bukan hanya berita yang kita tulis, tetapi juga setiap langkah yang kita pilih dalam kehidupan.
(Reina)
