ITime.id – Sleman 23 September 2026 .Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak menjadi pemicu kenaikan harga bahan pangan di pasaran. Menurutnya, kebutuhan bahan pangan untuk program MBG justru dapat meningkatkan penyerapan hasil produksi petani dan peternak sehingga membantu menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Pernyataan tersebut disampaikan Budi saat melakukan peninjauan harga dan ketersediaan bahan kebutuhan pokok di Pasar Potrojayan, Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (21/9/2026). Dalam kunjungan tersebut, Budi berdialog langsung dengan pedagang dan masyarakat untuk melihat kondisi harga pangan di tingkat pasar.
Budi menjelaskan, pelaksanaan MBG membutuhkan berbagai komoditas pangan seperti telur, ayam dan bahan pangan lainnya. Kondisi tersebut menurutnya dapat menjadi pasar yang relatif pasti bagi petani maupun peternak.
“Penyerapannya malah bagus. Jadi justru menjadi seimbang,” kata Budi saat menjelaskan dampak MBG terhadap pasokan dan permintaan bahan pokok.
Ia mencontohkan komoditas telur yang disebut mengalami surplus sekitar 12 persen. Kebutuhan untuk menu MBG dinilai dapat membantu menyerap kelebihan produksi tersebut, termasuk melalui penggunaan telur dan ayam sebagai bahan menu.
Harga Sembako di Sleman Masih Terkendali
Hasil pemantauan langsung di Pasar Potrojayan menunjukkan sebagian besar harga kebutuhan pokok masih berada dalam kondisi normal dan terkendali.
Data Kemendag mencatat harga beras SPHP Bulog berada di kisaran Rp12.500 per kilogram, beras medium Rp14.000, beras premium Rp15.000, MinyaKita Rp15.700 per liter, minyak goreng curah Rp18.400 per liter, daging sapi Rp150.000 per kilogram, daging ayam ras Rp38.000 per kilogram dan telur ayam ras Rp26.000 per kilogram.
Meski demikian, tidak seluruh komoditas berada pada level yang sama. Harga cabai rawit masih relatif tinggi dan menjadi salah satu komoditas yang perlu mendapat perhatian. Suara.com melaporkan harga cabai rawit saat pemantauan mencapai sekitar Rp70.000 per kilogram.
Budi menegaskan pemerintah akan terus menjaga keseimbangan harga agar konsumen tetap mampu membeli kebutuhan pokok, sementara produsen dan peternak juga mendapatkan harga yang wajar untuk mempertahankan kegiatan usahanya.
Menurutnya, permintaan yang relatif konsisten dari program MBG dapat membantu menjaga kesinambungan produksi dan rantai pasok pangan.
Dengan demikian, MBG tidak hanya dipandang sebagai program pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga berpotensi menjadi salah satu saluran penyerapan hasil produksi pangan dari petani dan peternak.
Pemerintah, lanjut Budi, akan terus memantau perkembangan harga dan ketersediaan bahan pokok di berbagai daerah agar keseimbangan antara kepentingan konsumen dan produsen tetap terjaga.
