ITime.id – kota Baru 4 Oktober 2026 .Siapa sangka tempe yang selama ini akrab di meja makan masyarakat Indonesia bisa berubah menjadi inspirasi motif batik dan menembus pasar Amerika Serikat. Kreativitas tersebut lahir dari tangan para pengrajin perempuan di Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur, melalui Batik Tempe Beji (Bateji).
Berangkat dari potensi kedelai yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, para perempuan pengrajin mengembangkan tempe bukan hanya sebagai produk pangan, tetapi juga sebagai sumber inspirasi untuk menciptakan motif batik yang memiliki karakter khas.
Motif tersebut kemudian dituangkan di atas kain mori dan dikembangkan menjadi berbagai produk busana. Kreativitas itu sekaligus memperlihatkan bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif dengan nilai tambah.
Momentum Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober menjadi semakin bermakna bagi para pengrajin Bateji. Di tengah perkembangan batik Indonesia, mereka menunjukkan bahwa inovasi motif dapat lahir dari lingkungan dan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Bateji tidak sekadar menghadirkan motif yang berbeda. Di balik setiap lembar kain terdapat cerita tentang kreativitas perempuan desa, potensi kedelai, serta upaya mengangkat identitas lokal melalui karya seni.
Produk tersebut bahkan disebut telah menjangkau pasar ekspor hingga Amerika Serikat. Capaian itu menjadi peluang sekaligus tantangan bagi para pengrajin untuk terus menjaga kualitas, memperkuat desain dan mengembangkan produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Kisah Bateji juga menjadi gambaran bahwa pengembangan ekonomi kreatif tidak selalu harus dimulai dari industri berskala besar. Potensi sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat dapat memiliki nilai ekonomi ketika diolah dengan kreativitas dan ketekunan.
Dari Desa Beji, tempe yang selama ini dikenal sebagai pangan rakyat mendapatkan cerita baru. Bukan lagi hanya hadir di atas piring, tetapi juga dituangkan menjadi karya batik yang membawa identitas lokal Kota Batu ke pasar yang lebih luas.
Bateji menjadi bukti bahwa kreativitas perempuan desa mampu mengubah potensi lokal menjadi karya bernilai, bahkan ketika langkahnya harus menembus batas negara.
(Reina)
