ITime.id – Jakarta 4 Oktober 2026 .Masyarakat diminta tidak hanya memperhatikan berapa lama hujan turun saat memasuki periode musim hujan. Intensitas hujan, kondisi tanah, wilayah hulu, kemiringan lereng hingga karakter daerah aliran sungai (DAS) juga menjadi faktor penting yang menentukan potensi banjir bandang maupun longsor.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, hujan dengan durasi singkat sekalipun dapat menimbulkan risiko besar apabila turun dengan intensitas yang sangat tinggi.
“Hujan dengan durasi singkat tetapi intensitas sangat tinggi dapat menjadi pemicu utama banjir bandang dan longsor,” kata Ardhasena, Jumat (2/10/2026).
Menurutnya, persoalan muncul ketika jumlah air hujan yang turun dalam waktu tertentu melebihi kemampuan tanah untuk menyerap air.
Ketika kemampuan tanah menyerap air terlampaui, limpasan air di permukaan meningkat dengan cepat. Kondisi tersebut kemudian dapat membuat debit sungai melonjak dalam waktu singkat.
Risiko tersebut semakin besar pada daerah aliran sungai yang memiliki karakter kecil dan curam. Air dari wilayah hulu dapat mengalir dengan cepat menuju sungai dan kemudian meningkatkan debit secara tiba-tiba.
Air Hujan Juga Bisa Memicu Longsor
Selain meningkatkan risiko banjir bandang, hujan deras juga dapat memengaruhi kestabilan lereng.
Air yang masuk ke dalam tanah dapat meningkatkan kejenuhan dan tekanan pori. Dalam kondisi tertentu, keadaan tersebut dapat mengurangi kestabilan tanah di wilayah lereng sehingga meningkatkan potensi terjadinya longsor.
Risiko akan semakin diperhatikan apabila hujan deras terjadi berulang kali. Tanah yang sebelumnya sudah menerima hujan dalam beberapa waktu dapat berada dalam kondisi basah atau jenuh sebelum kembali diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
Karena itu, dua wilayah yang menerima jumlah curah hujan relatif sama belum tentu mengalami dampak yang sama.
Kondisi lereng, jenis dan keadaan tanah, karakter DAS, serta penggunaan lahan dapat membuat tingkat kerawanan setiap wilayah berbeda.
Belajar dari Banjir Bandang Solok
Salah satu contoh kejadian terjadi di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada September 2026.
BMKG mencatat hujan lebat sekitar 94 milimeter per hari sebelum banjir bandang menerjang kawasan Arosuka pada Senin (21/9/2026).
Banjir membawa lumpur dan material lainnya hingga masuk ke kawasan permukiman serta kompleks perkantoran pemerintah.
Dalam kejadian tersebut, empat orang dilaporkan mengalami luka-luka. Sementara dua warga yang sempat dilaporkan hilang kemudian ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Ardhasena menjelaskan, wilayah Solok ketika itu bukan merupakan daerah yang mengalami kemarau berkepanjangan. Data Hari Tanpa Hujan (HTH) yang disampaikan BMKG menunjukkan Sumatera Barat mengalami jeda hujan maksimal sekitar 20 hari.
Artinya, kondisi tanah masih cenderung basah. Ketika kemudian menerima hujan dengan intensitas tinggi, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian.
Warga Diminta Perhatikan Peringatan Dini
BMKG mengimbau masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan, lereng, serta wilayah hulu sungai agar meningkatkan kewaspadaan ketika hujan lebat berlangsung cukup lama maupun terjadi berulang kali.
Hujan deras yang disertai petir dan angin kencang juga menjadi salah satu tanda adanya kondisi cuaca signifikan yang perlu diantisipasi.
“Masyarakat perlu terus mengikuti pembaruan prakiraan cuaca dan peringatan dini BMKG, khususnya di wilayah yang memiliki tingkat kerentanan tinggi,” ujar Ardhasena.
Untuk membantu kesiapsiagaan masyarakat, BMKG menyediakan informasi prakiraan dalam beberapa rentang waktu.
Prakiraan tiga hingga tujuh hari dapat dimanfaatkan untuk melakukan persiapan awal. Sementara prakiraan satu hingga tiga hari dapat digunakan untuk memperkuat langkah antisipasi.
Adapun informasi nowcasting dalam rentang nol hingga enam jam menjadi informasi yang lebih dekat dengan potensi waktu kejadian.
Dengan demikian, masyarakat tidak disarankan hanya melihat apakah hujan berlangsung lama atau sebentar.
Intensitas hujan, kondisi tanah, wilayah hulu, karakter sungai, serta peringatan dini terbaru perlu menjadi perhatian bersama.
Kewaspadaan bukan berarti membuat masyarakat panik. Justru dengan memahami tanda-tanda cuaca dan kondisi lingkungan, masyarakat dapat mengambil langkah lebih cepat untuk menyelamatkan diri, keluarga, serta mengamankan barang-barang penting ketika potensi bencana mulai meningkat.
ITime.id – Informasi, Edukasi, dan Kewaspadaan untuk Masyarakat.
(Reina)
