ITime.id .Surakarta, 4 Oktober 2026 — Di aliran sungai di wilayah tertentu di Nusantara, terdapat batu alam yang bentuknya sangat menyerupai telinga manusia. Masyarakat setempat menyebutnya dengan nama LULUN SAMAK, sebuah peninggalan yang tak terpisahkan dari kisah legenda turun-temurun yang sarat pesan moral.
📖 Cerita Legenda Lulun Samak
Dahulu kala, hiduplah sepasang suami istri yang hidup sederhana di pinggir hutan. Sang suami bernama Samak, dan istrinya bernama Lulun. Mereka hidup rukun, saling mencintai, dan dikenal sebagai pasangan yang jujur serta saling mempercayai satu sama lain.
Suatu hari, Samak harus pergi merantau ke seberang sungai untuk bekerja mencari nafkah. Sebelum berpisah, mereka berjanji akan tetap setia satu sama lain, tidak mendengarkan perkataan orang lain yang bisa merusak kebahagiaan rumah tangga mereka.
Selama Samak pergi, ada orang-orang yang iri dengan kebahagiaan mereka. Mereka datang kepada Lulun dan membisikkan fitnah serta perkataan yang tidak benar tentang Samak. Awalnya Lulun tidak peduli, namun lama-kelamaan ia mulai ragu dan mendengarkan bisikan-bisikan tersebut.
Ketika Samak pulang, Lulun menuduhnya dengan hal-hal yang tidak benar. Samak sangat sedih, bukan karena dituduh, melainkan karena istrinya telah melanggar janji — ia mendengarkan kata-kata yang tidak benar dan tidak percaya pada kebenaran.
Dengan sedih Samak berkata: “Jika telingamu ini lebih percaya pada kata orang daripada pada suamimu sendiri, biarlah telinga itu menjadi saksi atas kesetiaan yang telah kau lupakan.”
Seketika itu juga, bagian yang menjadi sumber kesalahpahaman itu berubah menjadi batu dan terhanyut ke sungai. Hingga kini, batu yang berbentuk seperti telinga itu masih ada di sungai tersebut, dan masyarakat menyebutnya sebagai Lulun Samak — peringatan agar selalu menjaga kepercayaan dan tidak mudah terhasut oleh berita yang belum tentu benar.
💡 Pesan Moral Legenda Lulun Samak
✅ Jangan mudah percaya pada berita yang belum jelas kebenarannya
✅ Kepercayaan adalah fondasi terpenting dalam hubungan
✅ Berpikir kritis sebelum menilai dan menghakimi
✅ Mendengarkan itu penting, tapi memilah kebenaran itu lebih penting
“Lulun Samak mengajarkan kita: Telinga boleh mendengar banyak hal, tapi hati yang bijak harus memilih mana yang benar.”
(Reina)
