iTiime.id – Bau Bau 9 Oktober 2026 .Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra), terus mengembangkan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP) melalui pelatihan keterampilan pertanian. Program ini diharapkan menjadi bekal bagi warga binaan untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri setelah menyelesaikan masa hukuman.
Salah satu kegiatan yang dikembangkan adalah budidaya tanaman terong. Dari kegiatan tersebut, warga binaan berhasil menghasilkan panen sebanyak 21 kilogram.
Kepala Lapas Kelas IIA Baubau, Abdul Waris, mengatakan bahwa kegiatan pertanian tersebut tidak hanya bertujuan memberikan keterampilan bercocok tanam, tetapi juga mengoptimalkan pemanfaatan lahan terbatas di lingkungan lapas agar lebih produktif.
Menurutnya, program pembinaan pertanian dirancang untuk memberikan manfaat nyata bagi warga binaan, baik dalam bentuk peningkatan keterampilan maupun nilai ekonomi dari hasil panen.
“Kami ingin setiap hasil pembinaan memiliki nilai manfaat. Selain menjadi premi bagi warga binaan dan modal keberlanjutan usaha, hasil penjualan juga memberikan kontribusi melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP),” ujar Abdul Waris.
Ia menjelaskan, warga binaan yang terlibat aktif dalam kegiatan pertanian berhak memperoleh premi atau upah dari sebagian hasil penjualan panen. Sementara itu, sebagian dana lainnya digunakan kembali untuk mendukung kebutuhan operasional dan keberlanjutan kegiatan pertanian.
Adapun bagian yang diperuntukkan bagi negara disetorkan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), sesuai dengan mekanisme yang berlaku.
Optimalkan Lahan Menjadi Area Produktif
Sementara itu, Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Baubau, Safaruddin, mengungkapkan bahwa program pertanian tersebut juga merupakan bagian dari implementasi Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam mengoptimalkan lahan tidur di lingkungan lapas menjadi area produktif.
Melalui kegiatan ini, warga binaan diberikan kesempatan untuk belajar secara langsung mengenai proses bercocok tanam, mulai dari perawatan tanaman hingga panen.
Safaruddin menegaskan, Lapas Kelas IIA Baubau berkomitmen melanjutkan pembinaan keterampilan kerja yang produktif, berkelanjutan, dan memiliki manfaat bagi warga binaan maupun masyarakat luas.
Program tersebut diharapkan dapat menumbuhkan sikap disiplin, tanggung jawab, serta semangat untuk mengembangkan kemampuan diri sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Menjadi Bekal Setelah Bebas
Manfaat program pertanian ini juga dirasakan langsung oleh warga binaan yang mengikuti kegiatan tersebut. Salah seorang warga binaan, Bahrir, mengaku bersyukur mendapat kesempatan untuk belajar bertani hingga merasakan hasil panennya.
Menurut Bahrir, keterampilan yang diperoleh selama mengikuti program pembinaan menjadi pengalaman berharga untuk menghadapi kehidupan setelah bebas nanti.
“Saya senang bisa ikut bertani sampai panen karena selain mendapat keterampilan, hasilnya juga memberikan manfaat bagi kami,” tuturnya.
Program pembinaan pertanian di Lapas Baubau menjadi salah satu upaya untuk mempersiapkan warga binaan agar memiliki kemampuan produktif dan peluang menjalani kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pidana.
Dengan memanfaatkan lahan yang tersedia secara optimal, kegiatan ini diharapkan tidak hanya menghasilkan produk pertanian, tetapi juga memperkuat pembinaan kemandirian dan membuka kesempatan bagi warga binaan untuk membangun masa depan yang lebih positif.
(Reina)
