iTime.id – Dolo 21 Oktober 2026 .Revitalisasi kawasan Keraton Kulon atau Keraton Kilen di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat mulai memasuki tahap pelaksanaan. Dalam proses pemulihan tiga bangunan bersejarah, pihak keraton menekankan pentingnya menjaga keaslian arsitektur, mempertahankan material lama yang masih layak, serta meniadakan rencana penambahan tembok baru.
Kesepakatan tersebut mengemuka dalam rangkaian koordinasi persiapan revitalisasi yang dilaksanakan pada Jumat (16/10/2026). Pekerjaan diarahkan untuk memulihkan bangunan sesuai karakter aslinya, memperbaiki bagian yang rusak, serta memperkuat struktur yang rapuh tanpa menghilangkan nilai sejarah kawasan.
Persiapan diawali dengan rapat Pre Construction Meeting (PCM) yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi secara daring. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peninjauan langsung ke lokasi guna mencocokkan desain perencanaan dengan kondisi bangunan di lapangan.
Anggota tim hukum Keraton Surakarta Hadiningrat/Lembaga Dewan Adat, KPH Eddy Wirabhumi, menjelaskan bahwa koordinasi melibatkan tim perencana, manajemen konstruksi, kontraktor pelaksana, tenaga ahli, serta perwakilan pihak keraton.
Menurut Eddy, dimulainya tahapan pelaksanaan memungkinkan peralatan dan kebutuhan pekerjaan mulai didatangkan ke lokasi. Meski demikian, penyesuaian teknis tetap diperlukan agar pelaksanaan revitalisasi sesuai dengan kondisi faktual bangunan.
Aspirasi PB XIV dan Gusti Moeng Jadi Perhatian
Dalam proses persiapan tersebut, pihak keraton menyampaikan sejumlah aspirasi terkait pelestarian nilai sejarah dan karakter arsitektur Keraton Kulon.
Aspirasi itu disampaikan GKR Wandansari atau Gusti Moeng, selaku Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta Hadiningrat, serta Sinuhun Sri Susuhunan Pakubuwono XIV atau PB XIV, yang sebelumnya dikenal sebagai KGPH Hangabehi.
PB XIV turut mengikuti rapat melalui Zoom dan menyampaikan pesan mengenai pelaksanaan revitalisasi. Masukan tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam penyesuaian desain dengan kondisi bangunan yang sebenarnya.
KPH Eddy Wirabhumi menjelaskan, pencocokan antara gambar perencanaan dan kondisi lapangan diperlukan agar proses perbaikan tidak mengubah karakter asli kawasan keraton.
Rencana Penambahan Tembok Baru Ditiadakan
Salah satu poin penting dalam hasil peninjauan lapangan adalah ditiadakannya rencana penambahan tembok baru. Pendekatan revitalisasi lebih diarahkan pada pemulihan bangunan yang sudah ada, bukan menambah konstruksi yang berpotensi mengubah karakter kawasan bersejarah.
Eddy menegaskan, Keraton Kulon merupakan bagian penting dari lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat. Oleh sebab itu, pemulihan harus mengutamakan bentuk asli bangunan, termasuk memperbaiki bagian yang rusak dan memperkuat elemen yang rapuh.
Meski demikian, fasilitas pendukung yang benar-benar dibutuhkan masih dapat dipertimbangkan, termasuk pembaruan kamar mandi. Pelaksanaannya tetap harus memperhatikan keselarasan dengan arsitektur dan karakter lingkungan keraton.
Prinsip utama yang ditekankan ialah mempertahankan bagian bangunan yang masih layak, melakukan perbaikan sesuai kebutuhan, serta menghindari penggantian material secara menyeluruh tanpa pertimbangan teknis dan historis yang memadai.
Arkeolog Tekankan Pemeriksaan Sebelum Pembongkaran
Aspek pelestarian juga menjadi perhatian dalam peninjauan yang melibatkan dua arkeolog. Mereka mengingatkan agar tingkat kerusakan bangunan diperiksa terlebih dahulu sebelum pembongkaran dilakukan.
Pemeriksaan tersebut penting untuk mengetahui komponen yang masih dapat dipertahankan dan digunakan kembali. Dengan demikian, material lama tidak langsung diganti apabila kondisinya masih memungkinkan untuk dimanfaatkan.
Masukan para arkeolog sejalan dengan aspirasi pihak keraton yang menginginkan proses revitalisasi tetap berpedoman pada prinsip pelestarian warisan budaya.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat meminimalkan penggantian material yang sebenarnya masih layak sekaligus menjaga keaslian bangunan bersejarah.
Elevasi Tanah dan Material Atap Masih Dibahas
Selain kondisi bangunan, persoalan elevasi atau ketinggian tanah turut menjadi perhatian dalam perencanaan revitalisasi.
Eddy menjelaskan bahwa ketinggian jalan di luar kawasan mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Sementara itu, menurut keterangannya, kawasan yang ditinjau belum mengalami peninggian sejak era pemerintahan Pakubuwana X.
Perbedaan elevasi tersebut perlu diperhitungkan agar air dari jalan di luar tidak mengalir masuk ke kawasan Keraton Kulon.
Karena itu, perencanaan teknis harus memperhatikan ketinggian tanah, arah aliran air, serta kondisi lingkungan
(Reina)
