ITIME.id .Magetan,–2 November 2026 . Menghadapi potensi bencana hidrometeorologi menjelang musim hujan, Komando Distrik Militer (Kodim) 0804 Magetan mulai mematangkan langkah kesiapsiagaan. Mulai dari penyiapan personel, pemetaan wilayah rawan bencana, koordinasi lintas instansi hingga edukasi kepada masyarakat menjadi perhatian.
Komandan Kodim (Dandim) 0804 Magetan, Letkol Inf Omi Girindra Sasmito, mengatakan penanggulangan bencana membutuhkan keterlibatan dan koordinasi seluruh pemangku kepentingan. Dalam hal ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menjadi leading sector dengan dukungan pemerintah daerah dan instansi terkait lainnya.
Menurutnya, upaya penanggulangan bencana tidak hanya berfokus pada penanganan saat kejadian, tetapi harus dimulai sejak tahap prabencana. Di antaranya melalui pemetaan daerah rawan, sosialisasi kepada masyarakat hingga penyampaian informasi peringatan dini.
“Untuk Kodim kita lakukan langkah koordinasi. Stakeholder yang tepat leader-nya seharusnya BPBD, tetapi perlu juga keputusan dari pemerintah daerah. Ada proses atau tahapan yang harus dilalui sebelum bencana terjadi, salah satunya yang paling penting ialah prabencana,” ujar Omi saat dikonfirmasi Petisi.co, pada Senin (03/11/2026).
Ia menjelaskan, informasi prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi salah satu acuan dalam mengantisipasi bencana hidrometeorologi. Namun, kewaspadaan masyarakat juga diperlukan, terutama terhadap potensi bencana yang sulit diprediksi secara spesifik, seperti angin puting beliung.
“Kalau bencana hidrometeorologi berarti dari BMKG, tetapi dari BMKG ada beberapa titik juga yang tidak terdeteksi, contohnya angin puting beliung. Di situ butuh juga tim, perlu juga dari masyarakat. Segala informasi yang diterima harus membuat masyarakat aware,” jelasnya.
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kewaspadaan, Kodim 0804 Magetan turut menyampaikan edukasi kepada masyarakat mengenai tanda-tanda datangnya angin puting beliung melalui media informasi. Masyarakat diimbau mewaspadai kondisi udara yang terasa panas dan pengap, munculnya awan Cumulus yang menjulang tinggi, perubahan warna awan menjadi gelap hingga datangnya udara dingin secara tiba-tiba.
Selain mengenali tanda-tandanya, masyarakat juga diberikan panduan keselamatan apabila angin puting beliung terjadi. Di antaranya segera masuk ke dalam rumah, menutup dan mengunci pintu serta jendela, serta menghindari bangunan tinggi, tiang listrik, papan reklame dan pepohonan apabila sedang berada di luar ruangan.
Apabila muncul petir, masyarakat juga diimbau segera mengambil posisi jongkok dengan badan membungkuk dan kedua tangan mendekati lutut atau kaki. Sementara itu, aliran listrik perlu dimatikan apabila situasi memungkinkan untuk mencegah korsleting yang berpotensi memicu kebakaran. Bagi masyarakat yang sedang dalam perjalanan, disarankan segera mencari tempat perlindungan yang kokoh dan aman.
Kodim juga mengingatkan masyarakat agar melakukan langkah pencegahan dari lingkungan masing-masing. Mulai membersihkan saluran air yang berpotensi tersumbat, memeriksa pohon rawan tumbang hingga mengidentifikasi bangunan dan infrastruktur yang berpotensi membahayakan.
“Perlu juga dari masyarakat sendiri proaktif bagaimana wilayahnya itu tidak terdampak. Apabila curah hujan tinggi, perlu penyiapan kebersihan wilayahnya, saluran yang mungkin terhambat perlu penanganan waktu kering. Kemudian pohon-pohon yang berpotensi membahayakan juga perlu diasesmen,” paparnya.
Tidak hanya kesiapan lingkungan dan personel, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat saat kondisi darurat juga menjadi perhatian. Persediaan bahan makanan serta perlengkapan pendukung seperti peralatan memasak, kebutuhan listrik dan penerangan dinilai perlu dipersiapkan untuk mengantisipasi situasi bencana.
Dari sisi kesiapan pasukan, Kodim 0804 Magetan telah menyiapkan Pasukan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (PRCPB) sesuai prosedur tetap satuan. Pasukan tersebut disiapkan untuk mendukung penanganan apabila terjadi bencana di wilayah Kabupaten Magetan.
“Untuk Kodim sendiri kita melihat situasi potensi bencana hidrometeorologi. Kita siapkan pasukan namanya Pasukan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (PRCPB). Sudah ada prosedurnya, tinggal bagaimana nanti kita berkoordinasi dengan pemangku atas atau ketika mendapat perintah langsung, nanti kita siapkan,” katanya.
Kesiapan tersebut juga telah dibahas secara internal bersama jajaran staf dan para Danramil. Selain itu, Kodim 0804 Magetan turut menjalin koordinasi dengan Batalyon Infanteri 529 dan kepolisian guna memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan terjadinya bencana.
Terkait penempatan personel, Omi menyebut penentuan titik kesiapsiagaan masih mengacu pada hasil asesmen dan pemetaan wilayah rawan. Daerah yang sebelumnya pernah mengalami bencana menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan prioritas penempatan pasukan. Meski demikian, wilayah lain yang memiliki potensi ancaman juga tetap menjadi perhatian.
“Untuk pos-pos yang ada sementara kita berdasarkan asesmen. Titik-titik beratnya di mana, karena ini masih peralihan dan ada potensi besar, kejadian sebelumnya mungkin jadi titik kita untuk tempatkan pasukan. Tapi tidak menutup kemungkinan di daerah-daerah lain. Harus ada pemetaan kerawanan bencana,” tutupnya.
Melalui berbagai langkah tersebut, Kodim 0804 Magetan berharap penanggulangan bencana dapat dilakukan secara maksimal sejak tahap prabencana. Kesiapan personel, koordinasi lintas instansi, pemetaan wilayah rawan serta keterlibatan aktif masyarakat diharapkan mampu menekan risiko dan meminimalkan dampak bencana hidrometeorologi selama musim hujan.
(Ipung)
