Itime.SALATIGA 27 Januari 2026 . Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang penuh dengan gaya hidup cepat dan tren yang selalu berubah, ada sosok yang dengan gigih menghidupkan pesona budaya leluhur kita. Ibu Wahyuningsih, Ketua Wanita Pelestarian Sanggul Indonesia (WPSI) Cabang Salatiga, bukan hanya dikenal sebagai pelindung tradisi, tetapi juga sebagai duta yang berhasil membawa keindahan sanggul dan kebaya masuk ke dalam ruang global tanpa mengorbankan nilai kearifan lokalnya.
Dari Hati ke Tubuh: Sanggul dan Kebaya Sebagai Identitas Sehari-Hari
Bagi sebagian orang, sanggul dan kebaya mungkin hanya muncul pada acara-acara khusus seperti pernikahan atau upacara adat. Namun bagi Ibu Wahyuningsih, kedua simbol budaya ini adalah bagian tak terpisahkan dari gaya hidupnya – baik saat menghadiri rapat organisasi, mengikuti acara resmi pemerintah, hingga saat berkumpul dengan teman-teman atau mengantar anak ke sekolah.
“Sejak saya muda, ibu saya selalu mengajarkan bahwa mengenakan sanggul dan kebaya bukan hanya soal penampilan, tetapi juga tentang menghormati diri sendiri dan warisan yang kita miliki,” cerita Ibu Wahyuningsih dengan senyum hangat. Rambutnya yang diikat rapi dalam sanggul khas Jawa, dipadukan dengan kebaya batik kombinasi renda hitam, menjadi bukti nyata bahwa tradisi bisa hidup berdampingan dengan gaya modern.
Sanggul yang ia kenakan tidak hanya satu gaya saja – terkadang ia memilih sanggul “gundul” yang khas wanita Jawa, terkadang sanggul “bunga rampai” yang penuh makna filosofis, atau bahkan variasi modern yang diadaptasi untuk aktivitas sehari-hari. Setiap gaya sanggul memiliki makna tersendiri: dari lambang kesuburan, keharmonisan keluarga, hingga kecerdasan dan kebijaksanaan.
Kebaya: Bukan Hanya Pakaian, Tapi Kanvas Seni yang Bernapas
Tak kalah menariknya adalah kebaya yang selalu menjadi pasangan sempurna sanggulnya. Ibu Wahyuningsih memiliki koleksi kebaya yang beragam – mulai dari kebaya kutubaru dengan bordir emas yang rumit, kebaya encim yang elegan, hingga kebaya modern dengan sentuhan kontemporer yang tetap menjaga esensi tradisional.
“Setiap kebaya memiliki cerita sendiri,” jelasnya sambil menunjukkan salah satu koleksinya yang dibuat oleh pengrajin lokal Salatiga. “Bordir yang ada di kebaya ini bukan sekadar hiasan – motif bunga melati melambangkan kesucian, burung merak melambangkan keanggunan, dan pola geometris melambangkan keteraturan hidup.”
Di era milenial saat ini, banyak generasi muda yang mulai menyadari keindahan kebaya dan mengubahnya menjadi bagian dari gaya fashion mereka. Beberapa bahkan mengkombinasikan kebaya dengan celana jeans atau rok plisket modern – sebuah bukti bahwa budaya tradisional tidak kaku, melainkan dapat beradaptasi dan tetap menarik bagi setiap zaman.
Generasi ke Generasi: Rantai Kelestarian yang Tak Putus
Cerita kelestarian sanggul dan kebaya tidak hanya terjadi di Salatiga. Di berbagai daerah di Indonesia – dari Aceh hingga Papua – tradisi mengenakan kedua simbol budaya ini tetap terjaga dengan cara yang unik masing-masing. Di Jawa Tengah sendiri, ada berbagai variasi sanggul seperti sanggul “siger” khas Sunda, sanggul “bundo kanduang” dari Minangkabau, hingga sanggul “karang asem” yang khas Bali.
“Cerita nenek moyang kita tentang sanggul dan kebaya harus terus kita cerita ke anak cucu,” ujar Ibu Wahyuningsih yang sering mengadakan lokakarya bagi anak-anak sekolah dasar hingga mahasiswa. “Saat saya mengajarkan cara merangkai sanggul kepada anak-anak muda, saya tidak hanya mengajarkan tekniknya, tetapi juga makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Begitu mereka memahaminya, mereka akan dengan sukarela melestarikan tradisi ini.”
Banyak kisah inspiratif dari anggota WPSI Cabang Salatiga – salah satunya adalah seorang mahasiswi yang memilih mengenakan kebaya sebagai seragam harian di kampusnya, dan akhirnya mendirikan komunitas pecinta kebaya di lingkungan kampusnya. Ada juga seorang pengusaha muda yang membuat desain produk fashion dengan motif sanggul dan kebaya, yang kemudian berhasil memasarkan produknya hingga ke luar negeri.
Menuju Panggung Global: Sanggul dan Kebaya Sebagai Warisan Dunia
Ibu Wahyuningsih dan komunitas WPSI tidak berhenti hanya di tingkat lokal. Mereka aktif berpartisipasi dalam berbagai acara budaya nasional dan internasional, termasuk pameran busana tradisional di negara-negara seperti Jepang, Malaysia, dan Prancis.
“Saat saya membawa kebaya dan sanggul ke panggung global, saya merasa bangga luar biasa,” ujarnya dengan mata yang bersinar. “Banyak orang luar negeri yang terpesona dengan keindahan dan makna yang terkandung di dalamnya. Mereka tidak hanya melihatnya sebagai pakaian, tetapi sebagai bentuk seni yang luar biasa.”
Bahkan di dunia maya yang serba cepat ini, komunitas pecinta sanggul dan kebaya terus berkembang pesat. Tagar #SanggulKebayaIndonesia sering muncul di platform media sosial, dengan ribuan konten kreatif yang memperlihatkan berbagai gaya dan interpretasi modern dari budaya ini.
Panggilan untuk Semua Generasi: Jaga, Hargai, dan Hidupkan Budaya Kita
Di akhir pembicaraan, Ibu Wahyuningsih mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk turut serta dalam melestarikan sanggul dan kebaya. “Anda tidak perlu harus mengenakannya setiap hari, tetapi setidaknya hargailah dan kenali makna di baliknya,” ujarnya penuh semangat. “Setiap kali kita mengenakan sanggul atau kebaya, kita sedang berperan dalam menjaga nyawa budaya kita tetap hidup.”
Melalui kerja keras dan dedikasi yang tak pernah pudar, Ibu Wahyuningsih membuktikan bahwa seni tradisional bukanlah sesuatu yang ketinggalan zaman atau hanya menjadi benda pajangan di museum. Melainkan, ia adalah bagian dari jiwa bangsa yang dapat hidup dan berkembang, membawa pesan keindahan dan kedalaman budaya Indonesia ke seluruh dunia.
WPSI Cabang Salatiga secara rutin mengadakan kegiatan pelestarian budaya setiap bulan, termasuk lokakarya merangkai sanggul, kelas membuat kebaya tradisional, dan pameran batik serta aksesori khas daerah. Bagi yang ingin bergabung atau mengetahui lebih lanjut, dapat menghubungi kantor WPSI Cabang Salatiga atau mengikuti akun media sosial resmi mereka.
Kantor sekertariat wanita pelestarian sanggul Indonesia Salatiga. Dliko Indah GG Vlll no 114 Salatiga.
(Reina)

#itime, #itimepertanian, #itimeperistiwa, #itimeArtikel, #itimeviral, #itimeberita, #itimebudaya, #itimepemerintah, #itimehukum, #itimenasional, #itimeregional, #itimeinternasional, #itimeolahraga, #itimegayahidup, #itimetni, #itimePolri, #itimeuncatagorized, #itimependidikan, #itimepengetahuan, #itimesorot, #itimesemuaorang, #itimeviral, #itimewartawan, #itimedunia, #itimeportal, #itimeekonomi, #itimeglobal, #itimeteman, #itimesahabat, #itimerepublik, #itimeberitabaru, #itimeberitaterkini, #itimehariini, #itimenews, #itimeterkini, #itimepagi, #itimetv, #itimeberita, #itimemedia, #itimeindonesia, #itimeasia, #itimenusantara, #itimeprovinsi, #itimewaktu, #itimevidio, #itimefilm, #itimetrendi
