Itime.Surakarta, 6 Februari 2026 – Kesusastraan Bali merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya Pulau Dewata yang kaya akan nilai-nilai luhur. Berbagai bentuk karya sastra Bali telah ada sejak abad ke-9 Masehi, menyimpan cerita sejarah, ajaran agama, serta filosofi kehidupan yang menjadi panduan bagi masyarakat Bali hingga kini. Menurut data dari Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bali, terdapat lebih dari 10.000 naskah kesusastraan Bali yang telah tercatat, sebagian besar berupa lontar kuno yang tersebar di berbagai museum dan perpustakaan di seluruh pulau.
JENIS-JENIS KARYA KESUSASTRAAN BALI
Kesusastraan Bali umumnya dibedakan berdasarkan bentuk, bahasa, dan fungsi penggunaannya, antara lain:
1. Kakawin
Merupakan puisi klasik yang ditulis dalam aksara Bali menggunakan bahasa Sansekerta dan bahasa Bali Kuno dengan struktur bait yang sangat ketat, yaitu sloka yang terdiri dari 32 suku kata per bait. Karya kakawin paling terkenal adalah Kakawin Ramayana yang ditulis oleh Mpu Kanwa, Kakawin Mahabharata yang disusun oleh Mpu Sedah, serta Kakawin Bhāratayuddha yang menceritakan perang saudara antara Korawa dan Pandawa. Kakawin biasanya dibacakan dalam upacara agama seperti Odalan atau acara penting seperti peresmian bangunan sebagai sarana pendidikan dan penghormatan kepada para dewa. Selain itu, terdapat juga kakawin lokal seperti Kakawin Nagarakertagama yang mencatat sejarah kerajaan Majapahit dan hubungan dengan Bali.
2. Kidung
Merupakan bentuk puisi yang lebih sederhana daripada kakawin, ditulis dalam bahasa Bali sehari-hari dengan struktur bait yang lebih fleksibel (biasanya 4-8 baris per bait). Karya kidung seringkali mengangkat cerita cinta, sejarah kerajaan, atau legenda rakyat Bali. Beberapa contoh terkenal adalah Kidung Sunda yang menceritakan cinta antara Prabu Siliwangi dengan Dewi Srengga, Kidung Harinjing yang mengisahkan perjalanan seorang pahlawan mencari cinta, dan Kidung Bali Kuno yang mencatat perkembangan budaya di Bali sebelum masa penjajahan. Kidung biasanya dinyanyikan dengan irama musik gamelan atau gambang semarang dalam acara adat.
3. Lontar
Bukan hanya bentuk sastra, tetapi juga media penyimpanan naskah yang dibuat dari daun pohon lontar (Borassus flabellifer) yang diolah khusus melalui proses pengeringan, pemotongan, dan pengeboran lubang untuk diikat dengan tali rotan. Lontar berisi berbagai jenis tulisan, mulai dari kitab suci agama Hindu seperti Lontar Veda dan Lontar Purana, buku pedoman tata krama dan upacara adat seperti Lontar Usadha (tentang pengobatan tradisional) dan Lontar Asta Kosala Kosali (tentang arsitektur tradisional), sejarah kerajaan, hingga karya sastra seperti cerita rakyat dan pantun. Beberapa lontar kuno yang paling penting disimpan di Museum Bali Denpasar, Perpustakaan Kerajaan Klungkung, dan Perpustakaan Universitas Udayana.
4. Parikan
Merupakan pantun atau puisi pendek yang biasanya dinyanyikan atau diucapkan dalam acara adat seperti pernikahan, khitanan, upacara pemakaman, atau acara syukuran. Parikan memiliki struktur yang khas dengan bait-bait yang berpasangan dan mengandung pesan moral atau doa. Setiap jenis acara memiliki parikan yang berbeda, misalnya Parikan Pernikahan yang berisi doa untuk kebahagiaan pasangan muda, Parikan Ngaben (upacara pemakaman) yang berisi doa agar jiwa orang yang meninggal mencapai keselamatan, dan Parikan Galungan yang merayakan kemenangan kebaikan atas kejahatan.
5. Carita
Merupakan cerita naratif prosa atau puisi yang menceritakan peristiwa sejarah, legenda, atau kehidupan para tokoh penting di Bali. Contohnya adalah Carita Pararaton (Kitab Raja-Raja) yang menceritakan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa dan Bali dari abad ke-12 hingga ke-16, Carita Negara Bali yang mengisahkan perkembangan kerajaan di Pulau Bali seperti Kerajaan Gelgel dan Kerajaan Klungkung, serta Carita Sri Kesari Warmadewa yang menceritakan tentang raja pertama yang memimpin Bali pada abad ke-10.
6. Sastra Kontemporer Bali
Selain karya klasik, kini berkembang juga kesusastraan kontemporer Bali yang ditulis dalam bahasa Bali modern atau bahasa Indonesia. Karya-karya ini mengangkat tema kehidupan modern, masalah sosial, dan identitas budaya, seperti kumpulan cerita pendek “Kisah dari Pedesaan Bali” karya Ida Bagus Putra Manuaba dan puisi “Suara Laut Bali” karya Ni Luh Suryani.
MAKNA DAN NILAI FILOSOFIS DALAM KESUSASTRAAN BALI
Sebagian besar karya kesusastraan Bali mengandung makna filosofis yang erat kaitannya dengan ajaran agama Hindu dan kehidupan masyarakat Bali, antara lain:
- Tri Hita Karana: Konsep tentang hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan alam (Palemahan), dan manusia dengan sesama (Pawongan), yang sering muncul dalam cerita dan puisi sebagai dasar kehidupan yang seimbang.
- Nilai Tata Krama: Ajaran tentang sopan santun, rasa hormat kepada orang tua, leluhur, dan pemimpin, serta tanggung jawab sosial yang menjadi dasar kehidupan bermasyarakat. Banyak cerita yang mengisahkan tentang karakter yang menghargai nilai ini dan mendapatkan keberuntungan.
- Pesan Moral: Banyak karya yang mengangkat tema kebaikan yang akan dihargai dan kejahatan yang akan mendapatkan balasan, sebagai pembelajaran bagi pembaca atau pendengar. Misalnya dalam Kakawin Ramayana, karakter Rama yang jujur dan penyayang mendapatkan keberhasilan, sedangkan Rahwana yang tamak dan kejam mendapatkan kehancuran.
- Filosofi Alam: Kesusastraan Bali juga banyak mengandung ajaran tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam, karena manusia dan alam dianggap sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Hal ini tercermin dalam cerita yang menggambarkan hubungan erat antara manusia dengan tumbuhan, hewan, dan elemen alam lainnya.
- Nilai Spiritual: Banyak karya yang mengisahkan tentang perjalanan spiritual seseorang untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi dan mendekati Tuhan, seperti cerita tentang para rishi (orang suci) yang melakukan meditasi dan tapa di pegunungan Bali.
SEJARAH PERKEMBANGAN KESUSASTRAAN BALI
Perkembangan kesusastraan Bali dapat dibagi menjadi beberapa periode:
- Zaman Kuno (Abad ke-9 hingga ke-14): Periode awal berkembangnya kesusastraan Bali dengan pengaruh besar dari India dan kerajaan Jawa seperti Sriwijaya dan Majapahit. Karya-karya kakawin mulai dibuat pada periode ini.
- Zaman Kejayaan Kerajaan Gelgel (Abad ke-15 hingga ke-17): Periode puncak perkembangan kesusastraan Bali dengan munculnya banyak karya kidung, carita, dan lontar yang mencatat sejarah dan budaya Bali.
- Zaman Kolonial Belanda (Abad ke-18 hingga ke-20): Periode di mana kesusastraan Bali mengalami tekanan namun tetap bertahan, dengan banyak karya yang menyimpan nilai-nilai budaya agar tidak hilang.
- Zaman Modern (Setelah Kemerdekaan Indonesia): Periode di mana kesusastraan Bali mulai berkembang dengan menggabungkan unsur tradisional dan modern, serta mulai diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa untuk menjangkau khalayak lebih luas.
PELESTARIAN DAN PERKEMBANGAN KESUSASTRAAN BALI
Meskipun memiliki nilai yang tinggi, kesusastraan Bali menghadapi tantangan dalam era modern, seperti kurangnya minat generasi muda, terbatasnya akses ke naskah kuno, dan pengaruh budaya global. Untuk melestarikannya, berbagai upaya telah dilakukan:
- Pendidikan di Sekolah dan Komunitas: Banyak sekolah di Bali mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi memasukkan pembelajaran bahasa Bali dan kesusastraan Bali ke dalam kurikulum. Komunitas seni seperti Komunitas Sastra Bali Muda dan Kelompok Pengkajian Lontar menyelenggarakan pelatihan membaca, menulis, dan menghafal karya sastra tradisional secara rutin.
- Penerjemahan dan Penerbitan: Banyak karya klasik kesusastraan Bali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa asing seperti Inggris, Jerman, dan Jepang agar dapat dinikmati oleh lebih banyak orang. Lembaga seperti Balai Bahasa Bali dan Universitas Udayana juga menerbitkan buku-buku tentang kesusastraan Bali dalam bentuk cetak dan digital.
- Festival dan Pertunjukan: Acara seperti Festival Sastra Bali yang diadakan setiap tahun di Denpasar menjadi wadah untuk memamerkan karya sastra tradisional dan kontemporer dari penulis Bali, serta menyelenggarakan lokakarya dan diskusi tentang perkembangan kesusastraan Bali. Selain itu, pertunjukan seni yang menggabungkan kesusastraan dengan musik dan tari seperti Wayang Wong Bali juga sering diadakan untuk menarik minat masyarakat.
- Penggunaan Teknologi: Naskah lontar kuno telah diabadikan dalam bentuk digital melalui proses pemindaian dan penyimpanan dalam basis data yang dapat diakses secara online melalui situs resmi BPNB Bali dan Universitas Udayana. Beberapa aplikasi pembelajaran juga dibuat untuk memudahkan masyarakat belajar membaca aksara Bali dan memahami karya sastra klasik.
- Pengakuan dan Dukungan Pemerintah: Pemerintah Provinsi Bali telah menetapkan bahasa Bali dan kesusastraan Bali sebagai bagian penting dari kebijakan budaya daerah, serta memberikan bantuan dana dan fasilitas kepada kelompok seni dan peneliti yang bekerja dalam bidang pelestarian kesusastraan Bali. Pada tahun 2025, pemerintah juga telah mendirikan Pusat Kajian Kesusastraan Bali yang bertugas untuk melakukan penelitian, dokumentasi, dan penyebaran informasi tentang kesusastraan Bali.
PERAN MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN KESUSASTRAAN BALI
Pelestarian kesusastraan Bali tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan akademisi, tetapi juga seluruh masyarakat. Setiap individu dapat berperan dengan cara: mengenal dan memahami karya kesusastraan Bali daerah sendiri, mengajarkan kepada anak-anak tentang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, membeli buku atau produk yang berkaitan dengan kesusastraan Bali dari penerbit lokal, menghadiri acara dan festival yang berkaitan dengan kesusastraan Bali, atau bahkan belajar menulis karya sastra dengan menggunakan unsur budaya Bali.
(Reina)

#itime, #itimepertanian, #itimeperistiwa, #itimeArtikel, #itimeviral, #itimeberita, #itimebudaya, #itimepemerintah, #itimehukum, #itimenasional, #itimeregional, #itimeinternasional, #itimeolahraga, #itimegayahidup, #itimetni, #itimePolri, #itimeuncatagorized, #itimependidikan, #itimepengetahuan, #itimesorot, #itimesemuaorang, #itimeviral, #itimewartawan, #itimedunia, #itimeportal, #itimeekonomi, #itimeglobal, #itimeteman, #itimesahabat, #itimerepublik, #itimeberitabaru, #itimeberitaterkini, #itimehariini, #itimenews, #itimeterkini, #itimepagi, #itimetv, #itimeberita, #itimemedia, #itimeindonesia, #itimeasia, #itimenusantara, #itimeprovinsi, #itimewaktu, #itimevidio, #itimefilm, #itimetrendi
