ITime.id JEPANG – 22 Agustus 2026 .Gelombang panas ekstrem yang melanda Jepang membuat aktivitas para petani ikut berubah. Demi menghindari paparan suhu tinggi yang berisiko menyebabkan heatstroke atau sengatan panas, sejumlah petani kini memilih bekerja pada malam hari hingga dini hari.
Kondisi tersebut terlihat di wilayah Nikko, Prefektur Tochigi. Salah satunya dilakukan Motoaki Iijima, 36 tahun, pemilik perkebunan bunga Nikko Engei. Ia dan pekerjanya melakukan aktivitas panen bunga gerbera di dalam rumah kaca setelah matahari terbenam.
Perubahan jam kerja itu dilakukan setelah seorang pekerja di perkebunan tersebut pernah mengalami heatstroke ketika bekerja di rumah kaca. Saat suhu udara di luar mencapai lebih dari 35 derajat Celsius, temperatur di dalam rumah kaca dapat meningkat hingga lebih dari 40 derajat Celsius.
Situasi tersebut membuat pekerjaan pada siang hari semakin berisiko. Para pekerja kemudian memilih menyelesaikan sebagian pekerjaan pada malam hari atau datang lebih awal sebelum matahari semakin terik.
Fenomena serupa juga terjadi pada sektor peternakan. Di sebuah peternakan unggas di Mashiko, Tochigi, Tetsuya Usuba mengatur agar ayam-ayamnya mulai aktif dan makan sekitar pukul 02.30 dini hari. Langkah tersebut dilakukan karena panas pada siang hari dapat menekan nafsu makan ayam dan meningkatkan risiko kematian ternak.
Data yang dihimpun dari Badan Meteorologi Jepang menunjukkan tekanan panas di negara tersebut semakin serius. Hingga 4 Agustus 2026, tercatat 4.727 kejadian hari dengan suhu maksimum mencapai sedikitnya 35 derajat Celsius di berbagai titik pengamatan. Angka tersebut merupakan yang tertinggi kedua untuk periode yang sama, setelah 2025.
Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian Jepang, terlebih sebagian besar petani merupakan kelompok usia lanjut. Pemerintah Jepang pun meningkatkan perhatian terhadap risiko heatstroke di sektor pertanian dan pada 2026 menetapkan periode Juli-September sebagai masa kampanye pencegahan heatstroke saat bekerja di musim panas.
Perubahan pola kerja dari siang ke malam menjadi gambaran bagaimana cuaca ekstrem mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari dan aktivitas produksi pangan. Bagi para petani Jepang, malam hari kini bukan sekadar waktu beristirahat, tetapi menjadi waktu untuk tetap bekerja ketika suhu sudah lebih memungkinkan dan risiko panas berbahaya dapat dikurangi.
Fenomena tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa perubahan pola cuaca dan meningkatnya suhu ekstrem dapat memberikan dampak langsung terhadap dunia pertanian, mulai dari keselamatan pekerja hingga produktivitas tanaman dan ternak.
(Reina)
