ITime.id .LOMBOK TIMUR – 27 Agustus 2026 .Kemunculan seekor ikan oarfish berukuran sekitar empat meter di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), menghebohkan masyarakat dan media sosial.
Ikan laut dalam tersebut ditemukan dalam kondisi mati oleh pengunjung pada Selasa, 25 Agustus 2026, sekitar pukul 07.30 WITA. Penemuan ikan langka itu kemudian menjadi perhatian karena oarfish selama ini kerap dijuluki sebagai “ikan kiamat” dan dikaitkan dengan pertanda terjadinya gempa.
Namun, anggapan tersebut dibantah pakar. Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menegaskan belum ada bukti ilmiah yang valid bahwa kemunculan oarfish di permukaan atau pesisir dapat menjadi tanda akan terjadinya gempa bumi.
Menurut penjelasan ilmiah, ikan laut dalam dapat muncul ke perairan dangkal karena berbagai faktor. Di antaranya perubahan suhu air laut, perubahan arus atau fenomena upwelling, kondisi ikan yang sakit atau mengalami luka, hingga pengaruh predator.
Karena itu, kemunculan oarfish di Pantai Pink tidak dapat dijadikan dasar untuk memprediksi gempa.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Muslim menyebut perubahan kondisi perairan dapat menjadi salah satu penyebab ikan laut dalam tersebut muncul ke permukaan. Ia juga sempat menyebut kemungkinan adanya kaitan dengan gempa yang terjadi di Nusa Tenggara Timur.
Namun, dugaan tersebut masih sebatas asumsi dan membutuhkan penelitian lebih lanjut. Pihak terkait juga mendorong adanya kajian dari akademisi maupun lembaga penelitian untuk mengetahui penyebab pasti terdamparnya ikan tersebut.
Oarfish merupakan ikan laut dalam yang habitatnya berada ratusan hingga lebih dari seribu meter di bawah permukaan laut. Ketika ikan tersebut naik ke permukaan dalam kondisi lemah, sakit, atau sudah mati, tubuhnya dapat terbawa arus hingga akhirnya terdampar di pantai.
Pihak Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) NTB juga mengimbau masyarakat agar tidak panik dan tidak mengaitkan kemunculan oarfish dengan mitos bencana atau kiamat. Fenomena tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari dinamika biologis dan kondisi lingkungan laut.
Masyarakat pun diminta tetap mengacu pada informasi resmi dari lembaga berwenang, khususnya BMKG, apabila ingin mengetahui perkembangan aktivitas gempa dan potensi tsunami.
Dengan demikian, kemunculan oarfish di Pantai Pink Lombok memang merupakan fenomena langka dan menarik untuk diteliti, tetapi belum dapat disebut sebagai pertanda akan terjadinya gempa bumi.
(Reina)
