ITime.id .JAKARTA —28 Agustus 2026 . Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat serta angin kencang masih berpeluang terjadi di beberapa daerah.
Peringatan ini menjadi perhatian karena kondisi cuaca di Indonesia saat ini cukup dinamis. Di tengah musim kemarau yang masih mendominasi sebagian besar wilayah, hujan lokal dengan intensitas tinggi tetap dapat terjadi secara tiba-tiba akibat dinamika atmosfer dan faktor lokal.
Untuk Jumat, 28 Agustus 2026, BMKG mencatat sejumlah wilayah yang perlu mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat. Wilayah tersebut meliputi Aceh, Sumatera Utara, Lampung, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Selain hujan lebat, potensi angin kencang juga menjadi perhatian di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko pohon tumbang, dahan patah, baliho roboh, gangguan perjalanan, hingga kerusakan pada bangunan yang tidak kokoh.
Hujan Lebat Bisa Datang Tiba-Tiba
BMKG mengingatkan bahwa musim kemarau bukan berarti seluruh wilayah Indonesia terbebas dari hujan. Hujan lokal masih dapat terjadi akibat pengaruh kondisi atmosfer, pertumbuhan awan konvektif, topografi, serta pertemuan atau belokan angin.
Dalam kondisi tertentu, hujan yang turun dalam waktu singkat dapat memiliki intensitas cukup tinggi dan disertai kilat, petir maupun angin kencang.
Masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir dan longsor diminta lebih waspada, terutama ketika hujan deras berlangsung dalam waktu cukup lama.
Warga Diminta Tingkatkan Kewaspadaan
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG. Masyarakat juga diminta tidak mengabaikan perubahan cuaca yang terjadi secara cepat.
Saat hujan lebat dan angin kencang terjadi, masyarakat yang sedang berada di luar ruangan disarankan mencari tempat yang aman. Hindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, tiang atau bangunan yang terlihat rapuh karena berpotensi roboh atau tersambar petir.
Pengendara kendaraan juga diminta meningkatkan kehati-hatian, terutama ketika hujan deras menyebabkan jarak pandang berkurang dan jalan menjadi licin.
Kemarau Masih Mendominasi
Di sisi lain, BMKG menyebut sekitar 80 persen wilayah Indonesia masih mengalami musim kemarau, dengan puncak musim kemarau sebagian besar terjadi pada Agustus. Kondisi tersebut menyebabkan kekeringan meteorologis masih terjadi di sejumlah wilayah, terutama Indonesia bagian selatan.
Karena itu, masyarakat menghadapi dua kondisi yang berbeda secara bersamaan, yakni kekeringan di sejumlah daerah dan potensi hujan lebat secara lokal di daerah lainnya.
BMKG meminta masyarakat tidak hanya mewaspadai hujan dan angin kencang, tetapi juga tetap menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat diimbau untuk selalu memperbarui informasi prakiraan cuaca melalui kanal resmi BMKG dan segera melakukan langkah antisipasi apabila wilayah tempat tinggal mulai mengalami perubahan cuaca yang signifikan.
Dengan kondisi cuaca yang masih dinamis, kewaspadaan masyarakat menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.
(Reina)
