ITime.id .LAMPUNG –31 Agustus 2026 . Keresahan petani kembali mencuat di tengah persoalan harga gabah dan distribusi hasil panen. Sejumlah petani di Lampung mempertanyakan kondisi perdagangan gabah yang membuat hasil panen mereka sulit dipasarkan ke luar daerah, sementara harga gabah di sejumlah wilayah Jawa disebut lebih tinggi.
Situasi tersebut membuat petani merasa berada dalam posisi yang kurang menguntungkan. Ketika harga di daerah lain lebih menjanjikan, petani berharap dapat menjangkau pasar yang memberikan nilai jual lebih baik.
Namun, apabila distribusi gabah ke luar daerah mengalami kendala, pilihan petani menjadi semakin terbatas. Mereka terpaksa mengandalkan pembeli di sekitar wilayah produksi dengan harga yang belum tentu sesuai dengan harapan.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan petani. Mengapa gabah dari daerah sentra produksi tidak dapat bergerak secara lebih leluasa menuju wilayah yang membutuhkan pasokan dan menawarkan harga lebih tinggi?
Bagi petani, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut harga jual. Biaya pupuk, benih, obat-obatan, tenaga kerja, pengolahan lahan hingga biaya panen terus menjadi beban produksi. Karena itu, selisih harga beberapa ratus hingga ribuan rupiah per kilogram dapat memberikan pengaruh besar terhadap pendapatan mereka.
Petani berharap pemerintah segera turun tangan memastikan mekanisme perdagangan dan distribusi gabah berjalan secara transparan. Jika memang terdapat ketentuan yang membatasi pengiriman gabah antardaerah, petani meminta aturan tersebut dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan keresahan.
Sebaliknya, jika persoalan terjadi karena mekanisme pasar, pemerintah dinilai perlu memastikan tidak ada mata rantai perdagangan yang justru membuat petani menjadi pihak paling dirugikan.
Petani Minta Solusi, Bukan Sekadar Janji
Petani juga berharap adanya kebijakan yang mampu mempertemukan kepentingan produsen dan konsumen. Harga pangan harus tetap terjangkau bagi masyarakat, tetapi pada saat yang sama petani perlu mendapatkan harga yang layak agar usaha pertanian tetap bertahan.
Distribusi yang lancar menjadi salah satu kunci. Daerah yang mengalami surplus produksi seharusnya dapat memasok wilayah lain yang membutuhkan, sementara petani mendapatkan akses pasar yang lebih luas.
Persoalan gabah Lampung ini pun menjadi pengingat bahwa keberhasilan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh tingginya produksi. Setelah panen, petani membutuhkan kepastian bahwa hasil produksinya dapat diserap dengan harga yang adil.
Petani Lampung kini berharap pemerintah segera memberikan kepastian mengenai kondisi distribusi gabah tersebut. Mereka tidak ingin hasil panen yang diperoleh setelah berbulan-bulan bekerja justru kehilangan nilai ketika sampai di tangan petani.
Di tengah perbedaan harga antarwilayah, suara petani sederhana: jika harga di daerah lain lebih baik, mereka berharap memiliki kesempatan untuk menjual hasil panennya secara legal, terbuka, dan menguntungkan.
(Reina)
