ITime.id .JAKARTA – 5 Agustus 2026 .Ancaman fenomena El Niño kembali menjadi perhatian dunia. Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) memperingatkan bahwa El Niño yang sedang berkembang di Samudra Pasifik diperkirakan terus menguat hingga mencapai kategori sangat kuat dan mencapai puncaknya menjelang akhir 2026.
Peringatan tersebut disampaikan WMO dalam pembaruan El Niño/La Niña yang dirilis pada 3 September 2026. WMO menyebut terdapat kemungkinan hampir 100 persen El Niño bertahan hingga Februari 2027, seiring kondisi suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tropis yang berada jauh di atas normal.
Kondisi ini berpotensi mengubah pola cuaca di berbagai wilayah dunia. Dampaknya dapat berupa peningkatan suhu, gelombang panas, perubahan pola curah hujan, kekeringan di sejumlah wilayah, hingga hujan ekstrem dan banjir di wilayah lainnya.
WMO menyatakan El Niño diperkirakan semakin menguat dalam beberapa bulan mendatang dan mencapai intensitas sangat kuat sebelum mencapai puncaknya pada akhir tahun 2026. Pengaruh fenomena tersebut bahkan diperkirakan tetap terasa hingga awal 2027.
Indonesia Perlu Waspada
Bagi Indonesia, perkembangan El Niño menjadi perhatian serius karena perubahan pola atmosfer dan curah hujan dapat meningkatkan risiko kondisi lebih kering di sejumlah wilayah.
Kekeringan yang berlangsung panjang berpotensi memberikan tekanan terhadap ketersediaan air, pertanian, perkebunan serta kebutuhan masyarakat. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan apabila berlangsung bersamaan dengan suhu tinggi dan minimnya curah hujan.
Namun, WMO menegaskan bahwa kekuatan El Niño secara global tidak selalu berarti dampaknya akan sama kuat di setiap negara. Dampak di masing-masing wilayah dipengaruhi musim, kondisi geografis serta faktor iklim lainnya, termasuk kondisi Samudra Hindia.
WMO juga mencatat adanya kemungkinan berkembangnya fase positif Indian Ocean Dipole (IOD) pada periode September-Oktober-November 2026. Kondisi tersebut dapat ikut memengaruhi pola hujan di kawasan sekitar Samudra Hindia.
Puncak di Akhir 2026, Dampak Berlanjut hingga 2027
El Niño merupakan salah satu pola iklim alami utama yang ditandai oleh pemanasan suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Pasifik ekuatorial.
Menurut WMO, fenomena tersebut umumnya mencapai intensitas puncak antara November hingga Februari. Untuk episode El Niño saat ini, model prakiraan menunjukkan penguatan lebih lanjut hingga mencapai kategori sangat kuat dengan puncak diperkirakan sekitar akhir 2026.
Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo memperingatkan bahwa peningkatan intensitas El Niño dapat memberikan dampak besar terhadap masyarakat dan perekonomian apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Karena itu, pemerintah, pemerintah daerah, sektor pertanian, pengelola sumber daya air serta masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan perubahan cuaca sepanjang akhir 2026 hingga awal 2027.
El Niño bukan berarti seluruh Indonesia otomatis mengalami kekeringan, tetapi fenomena tersebut meningkatkan risiko perubahan pola hujan dan suhu di berbagai wilayah. Pemantauan kondisi cuaca dan informasi resmi dari BMKG tetap menjadi acuan penting untuk mengetahui dampak yang lebih spesifik di masing-masing daerah.
Dengan prakiraan El Niño yang hampir dipastikan bertahan hingga Februari 2027, kesiapan menghadapi kemungkinan kekeringan, krisis air dan cuaca ekstrem menjadi langkah penting agar dampaknya terhadap kehidupan masyarakat dapat ditekan.
(Reina)
