ITime.id .SURAKARTA —7 September 2026 . Babak baru sejarah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat resmi dimulai. KGPH Hangabehi menjalani prosesi Jumenengan Nata dan dinobatkan sebagai Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana XIV pada Sabtu, 5 September 2026.
Namun, di balik prosesi sakral tersebut, tersimpan persoalan besar yang belum menemukan titik temu. Penobatan Hangabehi berlangsung ketika Keraton Surakarta masih menghadapi dualisme kepemimpinan setelah wafatnya Pakubuwana XIII.
Hangabehi ditetapkan oleh Lembaga Dewan Adat (LDA) sebagai penerus takhta. Prosesi kenaikan takhta kemudian dilaksanakan melalui rangkaian adat keraton yang sarat makna dan simbol tradisi Jawa.
Momen penting berlangsung di kawasan Sitihinggil. Hangabehi membacakan ikrar di hadapan pusaka dan simbol-simbol kebesaran keraton sebagai bagian dari prosesi Jumenengan Nata.
Dalam tradisi keraton, kenaikan takhta bukan sekadar pergantian seorang pemimpin. Seorang raja juga membawa tanggung jawab untuk menjaga adat, pusaka, tradisi, serta warisan budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Tetapi persoalan suksesi belum selesai.
Sebelumnya, KGPH Purboyo telah lebih dahulu dinyatakan sebagai Pakubuwana XIV oleh kelompok kerabat tertentu. Perbedaan penetapan tersebut kemudian melahirkan situasi dualisme kepemimpinan di lingkungan Keraton Surakarta.
Karena itu, munculnya PB XIV Hangabehi pada 5 September 2026 menjadi perkembangan baru dalam dinamika internal keraton.
Di tengah situasi tersebut, perhatian publik kini tertuju pada bagaimana masa depan Keraton Surakarta setelah dua kubu sama-sama memiliki klaim terhadap penerus takhta.
Bagi masyarakat, persoalan ini bukan hanya mengenai siapa yang duduk di singgasana. Keraton Surakarta merupakan salah satu pusat penting kebudayaan Jawa yang menyimpan kekayaan sejarah, seni, adat dan tradisi.
Karena itu, harapan terbesar setelah prosesi Jumenengan Nata adalah agar dinamika suksesi tidak mengganggu kelestarian budaya dan warisan Keraton Surakarta.
Hangabehi kini telah menjalani prosesi naik takhta sebagai PB XIV. Namun pertanyaan besarnya masih menggantung: mampukah dualisme kepemimpinan Keraton Surakarta menemukan jalan keluar dan kembali menyatukan keluarga besar keraton?
Babak baru telah dimulai. Tetapi perjalanan untuk menyatukan kembali Keraton Surakarta tampaknya masih panjang.
(Reina)
