ITime.id .Sidoarjo – 11 September 2026 .Kasus dugaan keracunan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terus menjadi perhatian. Data terbaru menunjukkan sebanyak 117 pasien sempat mendapat penanganan medis di enam rumah sakit.
Dari jumlah tersebut, sebagian besar pasien telah diperbolehkan pulang. Berdasarkan pembaruan data pada Kamis (10/9/2026) pagi, sebanyak 110 pasien sudah diperbolehkan menjalani rawat jalan, sementara tujuh pasien masih menjalani rawat inap.
Ketujuh pasien tersebut tersebar di tiga fasilitas kesehatan, yakni lima pasien masih dirawat di RSI Siti Hajar, satu pasien di RS Arafah Anwar dan satu pasien lainnya di RS Rahman Rahim. Kondisi para pasien disebut terus dipantau oleh tenaga medis.
Sementara itu, berdasarkan data Tim Badan Gizi Nasional (BGN), jumlah santri yang terdampak dalam kasus tersebut mencapai 748 orang.
Kasus ini bermula setelah para santri dan pelajar mengonsumsi makanan dari program MBG yang disalurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.
Gejala yang dialami korban antara lain mual, muntah, lemas hingga keluhan pada kondisi tubuh yang membuat sebagian korban kembali mendapatkan penanganan medis setelah sebelumnya sempat pulang.
Sebelumnya, sampel makanan MBG, bahan makanan serta muntahan korban telah dikirim ke laboratorium untuk diperiksa. Pemeriksaan dilakukan untuk mencari penyebab pasti munculnya gejala keracunan dan memastikan apakah terdapat kontaminasi pada makanan maupun persoalan dalam proses pengolahan dan distribusinya.
Kasus tersebut juga mendapat perhatian Badan Gizi Nasional. Kepala BGN Sudaryono sebelumnya menyebut terdapat dugaan kelalaian atau ketidakpatuhan petugas SPPG terhadap prosedur, termasuk persoalan waktu makanan matang hingga waktu makanan dikonsumsi.
Sebagai tindak lanjut, operasional dapur SPPG yang memasok makanan tersebut dihentikan sementara dan kepala dapur dicopot. Investigasi masih dilakukan untuk memastikan penyebab kejadian serta menentukan langkah lanjutan apabila ditemukan pelanggaran.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya penerapan standar keamanan pangan dalam setiap tahapan program MBG, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, penyimpanan, hingga distribusi dan konsumsi makanan.
Pemeriksaan laboratorium dan investigasi menyeluruh diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai sumber persoalan sekaligus menjadi bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
(Reina)
