ITime.id .JAKARTA –11 September 2026 . Nama Luvidi Pranawa Alghari semakin mencuri perhatian setelah berhasil mengukir prestasi gemilang di ajang International Olympiad in Artificial Intelligence (IOAI). Pelajar Indonesia tersebut sukses meraih medali dalam dua penyelenggaraan berturut-turut.
Luvidi yang kini duduk di kelas 11 SMAS Pribadi Beji, Depok, Jawa Barat, sebelumnya meraih medali perak pada IOAI 2025 di Beijing, China.
Tidak berhenti di sana, ia kembali dipercaya menjadi bagian dari delegasi Indonesia pada IOAI 2026. Hasilnya jauh lebih membanggakan. Luvidi berhasil membawa pulang medali emas dari kompetisi yang berlangsung di Astana, Kazakhstan, pada 2–8 Agustus 2026.
Prestasi tersebut menjadi bukti konsistensi Luvidi dalam mengembangkan kemampuan di bidang matematika, pemrograman dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Berawal dari Kegemaran Matematika
Ketertarikan Luvidi terhadap dunia pemrograman dan matematika ternyata sudah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Ia aktif mengikuti berbagai kompetisi matematika. Pada 2023, Luvidi berhasil meraih medali perak OSN tingkat SMP bidang matematika.
Setahun kemudian, prestasinya kembali meningkat. Ia meraih medali emas OSN bidang informatika 2024. Prestasi inilah yang kemudian membuka jalannya menuju kompetisi kecerdasan buatan tingkat dunia.
Saat mengikuti seleksi IOAI, Luvidi mulai memperluas ketertarikannya dari matematika dan pemrograman ke bidang AI.
Dari Perak Berubah Menjadi Emas
Pengalaman tampil di IOAI 2025 menjadi bekal berharga bagi Luvidi. Setelah memperoleh medali perak di Beijing, ia kembali mengikuti proses seleksi untuk menjadi delegasi Indonesia pada IOAI 2026.
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Di Astana, Luvidi berhasil meraih medali emas, sekaligus meningkatkan pencapaiannya dari tahun sebelumnya.
Capaian tersebut juga menjadi bagian dari keberhasilan kontingen Indonesia yang membawa pulang empat medali, terdiri dari satu emas, dua perak dan satu perunggu. Kompetisi tersebut diikuti ratusan pelajar dari berbagai negara.
Belajar Rutin dan Tidak Mudah Menyerah
Luvidi mengakui persiapan menghadapi olimpiade AI bukan perkara mudah. Salah satu tantangannya adalah masih terbatasnya bahan latihan khusus untuk kompetisi AI dibandingkan dengan olimpiade bidang lain.
Untuk mengatasinya, ia membiasakan diri belajar secara rutin dan memanfaatkan waktu luang. Ia juga bergabung dengan komunitas pecinta AI yang anggotanya berasal dari berbagai negara.
Menurut Luvidi, pencapaiannya tidak terlepas dari dukungan guru, pembina dan teman-temannya selama menjalani proses pembinaan.
Ia pun berpesan kepada pelajar lain agar mengisi waktu dengan kegiatan positif dan tidak mudah menyerah dalam mengejar prestasi.
Kisah Luvidi menunjukkan bahwa ketekunan, rasa ingin tahu dan kemauan untuk terus belajar dapat membawa pelajar Indonesia bersaing di panggung teknologi dunia.
Dari matematika, berlanjut ke pemrograman, hingga kecerdasan buatan, perjalanan Luvidi menjadi gambaran bahwa talenta muda Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi bagian penting dalam perkembangan teknologi masa depan.
(Reina)
