ITime.id —Salatiga 16 September 2026 .Dunia jurnalistik tidak hanya membutuhkan kemampuan mencari dan menyampaikan informasi, tetapi juga membutuhkan kedewasaan dalam bersikap, menjaga etika, serta membangun hubungan baik dengan sesama insan pers.
Di tengah aktivitas jurnalistik di lapangan, gesekan antarwartawan terkadang tidak dapat dihindari. Perbedaan sudut pandang, cara memperoleh informasi, maupun persoalan dalam menjalankan tugas dapat menjadi pemicu kesalahpahaman apabila tidak disikapi dengan kepala dingin.
Situasi tersebut dapat semakin rumit ketika muncul kebiasaan saling mengadu domba, menyebarkan cerita yang belum tentu benar, atau memperkeruh persoalan antara satu jurnalis dengan jurnalis lainnya. Jika dibiarkan, konflik bukan hanya merugikan hubungan antarpribadi, tetapi juga dapat berdampak terhadap citra dan marwah profesi jurnalistik.
Karena itu, setiap jurnalis diharapkan mampu menjaga komunikasi dan tidak mudah menerima informasi sepihak. Persoalan yang terjadi di lapangan sebaiknya diselesaikan melalui komunikasi secara langsung dan terbuka, bukan melalui provokasi atau pembicaraan yang dapat memperbesar masalah.
Selain persoalan lingkungan kerja, pola hidup juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan, perjudian, serta gaya hidup yang tidak sehat dapat membawa berbagai persoalan pribadi maupun sosial. Bukan berarti setiap persoalan yang terjadi pada jurnalis disebabkan oleh hal tersebut, namun menjaga pola hidup dan pergaulan tetap penting agar seseorang dapat menjalankan tanggung jawab profesinya dengan baik.
Seorang jurnalis memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik dirinya, keluarganya, medianya, serta profesi yang dijalankannya. Sikap rendah hati, mampu mengendalikan emosi, menghargai rekan seprofesi, dan tidak mudah terprovokasi merupakan bagian dari kedewasaan dalam bekerja.
Jangan sampai perbedaan di lapangan berubah menjadi permusuhan. Jangan pula informasi yang belum jelas kebenarannya menjadi bahan untuk mengadu domba sesama wartawan.
Pada akhirnya, sesama jurnalis seharusnya dapat menjadi mitra dalam menjalankan fungsi pers. Perbedaan bukan alasan untuk saling menjatuhkan, melainkan kesempatan untuk belajar menghargai sudut pandang dan cara kerja masing-masing.
Menjaga persaudaraan sesama insan pers bukan berarti menghilangkan kritik. Kritik tetap diperlukan, tetapi hendaknya disampaikan secara proporsional, berdasarkan fakta, dan dengan tetap menghormati etika jurnalistik.
Marwah pers akan semakin kuat ketika para jurnalis mampu menjaga integritas, profesionalisme, persaudaraan, serta tanggung jawab dalam menjalankan tugas.
(Reina)
