ITime.id —Salatiga 28 September 2026 .Kepercayaan merupakan sesuatu yang tidak mudah dibangun, tetapi bisa runtuh hanya karena satu kesalahan. Ketika seseorang kehilangan kepercayaan dari keluarga, sahabat, lingkungan kerja maupun masyarakat sekitar, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga dapat merembet kepada orang-orang di sekelilingnya.
Salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah pentingnya memiliki landasan iman, pengendalian diri serta kemampuan memilih lingkungan pergaulan. Pergaulan yang tidak sehat, kebiasaan mengonsumsi alkohol secara berlebihan, maupun memilih kawan tanpa mempertimbangkan dampaknya dapat membuka pintu munculnya berbagai persoalan.
Bukan sedikit persoalan sosial yang pada akhirnya berkembang menjadi konflik, persoalan keluarga, masalah pekerjaan hingga berhadapan dengan proses hukum. Dalam kondisi tertentu, seseorang yang awalnya hanya melakukan kesalahan kecil dapat terseret ke persoalan yang jauh lebih besar karena tidak mampu mengendalikan diri dan mengambil keputusan secara bijak.
Karena itu, memilih teman bukan sekadar mencari siapa yang menyenangkan untuk diajak bergaul. Lingkungan pertemanan juga dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan, bersikap dan menghadapi persoalan.
Ketika Masalah Muncul, Jangan Ditambah dengan Api Baru
Persoalan menjadi semakin rumit ketika sebuah kejadian yang belum diketahui secara utuh kemudian disebarkan secara luas tanpa pemeriksaan fakta yang memadai.
Di era media sosial dan media digital, sebuah informasi dapat menyebar hanya dalam hitungan menit. Tidak jarang persoalan yang sebenarnya masih membutuhkan klarifikasi justru berkembang menjadi perdebatan publik.
Lebih memprihatinkan apabila orang-orang di lingkungan kerja atau teman sepergaulan ikut menyebarkan informasi hanya karena menganggap persoalan tersebut sedang hangat diperbincangkan.
Padahal, ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya bukan berarti membantu menyelesaikan masalah. Sebaliknya, hal tersebut dapat memperbesar persoalan, menimbulkan tekanan terhadap pihak tertentu, bahkan membuat pembaca mengambil kesimpulan sebelum mengetahui duduk perkara yang sebenarnya.
Sebuah persoalan kecil pun dapat menjadi besar apabila terus diberi tambahan opini, narasi yang berlebihan, atau informasi yang belum terverifikasi.
Jangan Sampai Fakta Bercampur dengan Opini
Bagi masyarakat, khususnya pengguna media sosial, penting untuk membedakan antara fakta, dugaan, pendapat dan kesimpulan.
Jangan mudah terbawa suasana hanya karena membaca judul yang keras atau narasi yang menggiring emosi. Pembaca perlu melihat sumber informasi, mencari keterangan dari pihak terkait dan memahami konteks persoalan sebelum ikut memberikan penilaian.
Hal yang sama berlaku bagi insan pers.
Dewan Pers menegaskan bahwa Pasal 3 Kode Etik Jurnalistik mengharuskan wartawan menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers juga menempatkan tanggung jawab pers untuk menghormati norma agama, rasa kesusilaan masyarakat dan asas praduga tak bersalah dalam pemberitaan. Pers memiliki peran penting dalam mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar.
Artinya, memberitakan suatu persoalan hukum bukanlah sesuatu yang dilarang. Namun, pemberitaan harus tetap berangkat dari fakta yang dapat dipertanggungjawabkan, memberikan ruang kepada pihak terkait untuk memberikan klarifikasi, serta tidak menjadikan pemberitaan sebagai ruang untuk menghakimi.
Dewan Pers juga dalam sejumlah penanganan pengaduan menyoroti persoalan akurasi, keberimbangan, penggunaan sumber, hak jawab dan pemberitaan yang mengandung opini menghakimi.
Jangan Membuat Persoalan Semakin Tajam
Di sinilah pentingnya kedewasaan dalam bermedia.
Ketika sebuah persoalan sedang hangat, tidak semua orang harus ikut menjadi komentator. Tidak semua informasi harus langsung dibagikan. Dan tidak semua dugaan layak diperlakukan sebagai fakta.
Jika informasi belum jelas, langkah yang lebih bijak adalah menunggu verifikasi dan memberikan kesempatan kepada pihak-pihak yang terkait untuk menjelaskan.
Sebab, satu unggahan dapat dibaca ribuan orang. Satu kalimat dapat dipahami berbeda oleh banyak orang. Bahkan satu narasi yang tidak lengkap dapat membentuk opini publik yang jauh berbeda dari keadaan sebenarnya.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa persoalan pemberitaan tidak berhenti pada persoalan etika. Karya jurnalistik dapat menjadi objek pengaduan kepada Dewan Pers apabila diduga melanggar Undang-Undang Pers atau Kode Etik Jurnalistik.
Namun, perlu dibedakan antara pelanggaran etik jurnalistik dan persoalan hukum lainnya. Tidak setiap pelanggaran etika otomatis merupakan tindak pidana. Konsekuensi hukum bergantung pada fakta, bentuk perbuatan dan ketentuan hukum yang relevan. Dewan Pers sendiri menegaskan bahwa tidak semua pelanggaran etika merupakan pelanggaran hukum.
Kembali kepada Pengendalian Diri
Pada akhirnya, persoalan ini kembali kepada manusia dan pilihan yang dibuatnya.
Landasan iman, keluarga yang mengingatkan, lingkungan pertemanan yang sehat, serta kemampuan mengendalikan diri merupakan bagian penting dalam menjaga seseorang agar tidak mudah terjerumus ke dalam keputusan yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.
Begitu pula dalam dunia kerja dan jurnalistik. Profesionalisme bukan hanya soal seberapa cepat sebuah informasi dipublikasikan, tetapi juga seberapa kuat seseorang menjaga akurasi, keseimbangan, tanggung jawab dan martabat orang lain.
Jangan sampai karena ingin menjadi yang pertama memberitakan, kita justru menjadi bagian dari masalah.
Jangan sampai karena ingin ikut dalam persoalan yang sedang viral, kita lupa bahwa di balik sebuah berita terdapat manusia, keluarga, pekerjaan dan masa depan seseorang.
Bijak dalam bergaul, bijak dalam bertindak, dan bijak pula dalam menyampaikan informasi.
Sebab kepercayaan dibangun dengan waktu, tetapi dapat runtuh dalam sekejap. Dan ketika kepercayaan itu telah hilang, mengembalikannya tidak semudah membuat sebuah unggahan di media sosial.
(Reina)
